Sunday, August 25, 2019

Baru Baca Novel Ayat Ayat Cinta di Tahun 2019, Parah!


Sekitar pukul 12.25 malam tanggal 24 agustus saat gue menyelesaikan membaca novel (Malu nyebutnya) Ayat-ayat Cinta. What? Ayat-ayat Cinta? Lo baru baca novelnya nani? Setelah novelnya di filmkan dan sering di puter di TV Nasional di hari-hari tertentu? Seriusan? Ah, iya ini memang seriusan. Gue baru baca dan baru 2 hari yang lalu gue selesaikan. Maka dari itu izinkanlah gue mengklarifikasinya terlebih dahulu. Novel ini memang sudah terbit dari tahun 2004 (tepat pada saat gue masih kelas 2 SD), sudah di filmkan dan cukup mendulang sukses, tapi selama itu pula gue belum pernah nonton filmnya, nggak tahu siapa pemainnya, nggak tahu siapa penulisnya, bahkan gue sempet menduga kalau pemeran utamanya Laudya Chintya Bella dan Ustadzah Oki, padahal?? Ya lo bisa jawab sendiri. Ini karena saking nggak tahunya gue dan saking nggak pedulinya, didukung dengan gue yang nggak pernah nyimak ketika sekilas demi sekilas lihat tuh film di TV ketika ditayangin. Jadilah baru beberapa hari terakhir ini gue terhipnotis oleh sebuah novel yang sudah terhitung bulanan bertengger di lemari buku, berada di baris terdepan daftar novel paling lama masuk lemari tapi tak tersentuh. Novel yang pada akhirnya gue baca setelah menghatamkan sebuah buku yang cukup mengoyak hati. Setelah selesai baca buku sebelumnya gue pun mau lanjut baca buku lain. Pilih-pilih beberapa buku. Setelahnya, gue pun memilih buku yang gue dapet tanpa mengeluarkan duit, alias di kasih. Setelah beberapa hari menenggelamkan diri gue pun menyelesaikannya dengan suka cita + kesedihan. Kesedihan karena gue udah selesain baca novel itu meski setengah hati lagi nggak rela dengan kenyataan itu. Ah, indahnya saat hanyut dalam sebuah cerita😊

Oke, gue nggak akan membuat review seperti anak sastra yang bahasanya super berat, gue nggak akan menuliskannya dengan kata-kata super sulit dicerna seperti review master-master yang entah dari mana bisa dapet kata-kata seindah itu waktu mereview novel Pulang dari Leila Chudori, nggak akan menggunakan kata-kata "mesra" yang sering dipake anak politik, atau bahasa super membingungkan seperti temen gue yang anak filsafat. Karena, bagaimana mungkin gue bisa seperti mereka di saat gue aja sering menunjukkan ke bodohan saat presentasi di depan dosen yang ilmunya segudang. Bagaimana mungkin gue bisa merangkai kata-kata indah disaat gue sendiri (seringkali) nggak bisa masuk dalam cerita. Bagaimana? Diluar itu anak broadcasting itu nggak harus puitis kan? Jadi, yaudah.

Jujur, ini adalah Novel yang buat hati gerimis (nyontek kata-kata dari novel), berkali-kali mata gue sampe bekaca-kaca dengan deskripsi sang penulis. Berkali-kali juga gue bisa tersenyum geli. Dan romantismenya juga cukup menarik meski gue nggak mengerti makna romantisme itu seperti apa *maklum masih polos*. Diluar itu gambarannya juga menarik, pendeskripsiannya bener-bener bisa buat gue ngebayangin susasana saat Fahri ada di dalam penjara bawah tanah, bisa buat gue ngebayangin cuaca panas sampe ke ubun-ubun (meski gue baca dikamar dalam keadaan baling-baling helikopter yang berputar-putar) dan bagaimana uletnya Fahri dalam menuntut ilmu buat gue sampe berpikir, gue kepingin kayak Fahri. Kepingin. Itu mungkin dari segi penokohan, gue suka sama penokahan mereka.

Gue suka sosok Maria, gue juga suka saat penulis mendeskripsikan Maria di Bab pertama, meski nggak begitu mengupas tapi tergambar jelas sosok Maria disitu. Lantas bagaimana penulis mendeskripsikan sosok Fahri yang menurut gue terlalu sempurna. Entah apa yang dipikir penulis tentang sosok Fahri, apakah laki-laki harus sesempurna itu? Apakah dalam kehidupan nyata memang ada orang seperti Fahri? Apakah penulis mau menunjukkan betapa sempurnanya Fahri hingga mampu menarik hati orang-orang hingga jatuh hati dengan kelembutan hati dan kekuatan imannya? Apakah... Apakah... Apakah... Apakah iman itu? Apakah cinta itu? Apakah keduanya bisa digabungkan? Apakah.... Ah, gue bingung.

Novel ini beneran mengalir saat gue membacanya dari Bab pertama hingga Bab dimana Fahri akan menikah dengan Aisha. Karena disitu gue merasa bahwa ini bener-bener menarik, di tambah banyak banget ilmu yang gue dapet dari situ. Tapi pas di beberapa Bab yang hanya berisi Fahri dan Aisha after marriage, gue langsung yang.... Apaan sih maksudnya disini????????? Iya sih yang menjadi tokoh sentralnya adalah Fahri, tapi ketika nggak ada selingan ke hal-hal lain yang ada tuh malah bosen gitu. Di luar itu di bab-bab pernikahan Fahri sama Aisha tuh banyak banget hal-hal yang too good to be true, ngerasa nggak sih? Di bab-bab itu gue benar-benar merasa kehilangan feel gitu. Gue baru mulai tenggelam lagi di Bab penangkapan, nah dari Bab situ sampe nih novel selesai gue bener-bener suka, meski jalan ceritanya udah bener-bener bisa ke baca bakal kemana. Mungkin kalau gue jadi penulisnya gue bakal menciptakan situasi dimana Fahri akhirnya kalah dalam persidangan dan mengajukan banding untuk menunggu proses kelahiran Noura, terus gue bakal buat Maria tetap hidup sehingga membuat dia dan Aisha setia menunggu Fahri yang berada di penjara untuk memperjuangkan kebenaran serta kesabarannya, seenggaknya itu yang bakal gue lakukan jika memang gue mau memberi pemahaman gamblang tentang poligami. Karena sebenernya konfliknya itu justru buat gue, hah begini doang? Apa?!! Noura mengaku kesalahannya di ending? Huh, orang yang membacking Noura adalah adik ibu kandungnya? Ah nggak asik, gue justru berspekulasi bahwa ada yang membacking badhur sehingga Noura serta keluarga barunya mendapat tekanan dari backing badhur yang tidak lain adalah mafia prostitusi. Tapi dengan fakta bahwa yang menghamili ternyata badhur justru buat gue, helehhhhhhh. Seakan-akan novel yang indah di awal ini buat gue kecewa dengan adegan di Bab putusan itu, Bab yang terkesan dipaksakan bahwa Fahri harus menang. Bahwa mukjizat itu ada di detik-detik terakhir. Bahwa tokoh utama nggak akan kalah. Ah, klasik. Klasik banget kan?

Tapi, gue tetep suka sama novel ini. Karena Novel ini penuh dengan pelajaran yang sangat berharga. Banyak hal baik yang wajib banget di contoh dari tiap-tiap tokohnya. Diluar itu kutipan-kutipan penulis tentang hadis-hadis yang bisa buat lo ber "ooohhh" dan ini juga novel yang penting banget di baca buat lo yang ngakunya pingin taaruf, lo bakal tahu taaruf tuh bijimane... Perlakuan terhadap non muslim bagaimana, dan... Banyak.

Itu aja sih. Menurut gue novel kayak gini tuh emang beneran bagus bangettttttt, bener kalau ada yang bilang penyejuk hati 😋

Oke, itu tadi pandangan gue.

Sekarang mau baca novel apa lagi ya gue???

No comments:

Post a Comment