Wednesday, February 1, 2017

CINTA BUTA ATAU DIPAKSA BUTA?

Ini adalah sebuah perjalanan spiritual (njiiiiir) gue dengan beberapa orang yang berakhir dengan percakapan menarik penuh inspirasi yang pada akhirnya melahirkan sebuah rasa ingin menulis yang super besar (gue nulis gak pake koma). Nah, yang pertama ini gue rangkum dari percakapan gue dengan sepupu yang absurd tapi kadang-kadang sebijak Mario Teguh, semua bermula dari sebuah perjalanan kita ke gunung. Diperjalanan menuju pulang, gue sama dia cerita panjang tentang pekerjaan lantas bagaimana ceritanya sampai tahap kita membahas masalah hati (omagah), gue nggak bisa berkata-kata lagi ketika dia membahas masalah H-A-T-I karena katanya itu adalah bagian yang udah berat pake banget karet 2 pedes (heh?).
Ditengah jalan yang mendung itu gue membuka dengan sebuah pertanyaan “lo pernah jenuh sama pekerjaan lo?”
Dan dari pertanyaan itu, keluarlah setiap uneg-unegnya tentang pekerjaannya, bagaimana setiap orang yang bekerja akan merasa jenuh dengan apa yang mereka jalani. Apalagi kalau pekerjaan itu selalu mereka lakukan berulang kali, monoton, sama, selalu seperti itu, sistematis, terstruktur, whatever you say, pokoknya gituuuuuuu. Katanya, dia sudah jenuh dengan pekerjaannya dan pernah terpikir untuk melakukan hal yang gue lakukan tapi urung lantaran dia nyaman dengan teman-teman disana, jika ada yang membuat dia bertahan sampai saat ini berada disana alasannya 1 , teman-temannya udah baik banget.
Sementara gue, selama 1 tahun bekerja gak pernah merasa bahwa, gue nyaman dengan lingkungan disana. Teman-teman? Biasa aja, bahkan parahnya gue gak pernah sekalipun rindu dengan mereka. Gue benar-benar mengamati mereka ketika 1 minggu sebelum resign, ketika briefing atau ada kesempatan untuk ngobrol “apa oneday gue bakal kangen sama mereka?” yang sampai sekarang ternyata “BELUM” entah, kenapa gue seperti ini? Karena bagi gue, mereka hanya teman kerja, bukan teman yang kita keluar bareng atau kemana-mana bareng, yang mungkin ketika seharipun nggak ketemu gue akan kangen sekangen-kangennya. Ini adalah sebuah bentuk ketidak pedulian gue, tapi diluar ini gue bangga pernah berada diantara mereka, karena mereka baik J
Gue inget, kemarin bagas bilang kalau kita mau kerja itu harus pake hati, kita harus cinta sama pekerjaan yang kita jalani. Sementara dia gak pernah liat itu di gue, katanya “dari dulu lo tuh maunya kerja di tivi bahkan sampe sekarang juga masih tetep sama, Semuanya yang lo lakuin disana Cuma dengan tujuan lo bakal kerja di tivi, makanya lo kerjanya nggak pake hati, just nyari duit doang disana. Karena pikiran lo masih tetep sama, KERJA DI TIVI. Itu kan cita-cita lo”
Kalo jujur, yak emang bener kata dia. Semua hal gue lakuin Cuma dengan satu alasan, bisa kerja di Tv. Gue gak pernah bekerja dengan heart full of love selama disana.
Hal ini juga pernah ditanya sama temen gue, Nia, “lo pernah sampe closing banyak karena lo cinta sama pekerjaan lo atau gimana?”
Jawaban gue “apa gue pernah cerita sama lo kalau gue cinta sama pekerjaan gue?
“nggak pernah” dia
“semuanya gue lakukan karena sebuah kebutuhan” selesai sudah percakapan dengannya.

Gue masih bebincang dengan bagas, tapi kali ini dengan topic yang berbeda. entah gimana gue mulai percakapan ini sama dia tapi seinget gue, gue nanya gini kedia “kalau ada cewek/cowok pacaran sama orang yang udah berkeluarga apa pandangan lo?”
“yak enggak apa-apa, bebas. Ditempat kerja gue ada tuh kayak gitu. Mereka emang udah punya pasangan, tapi kan kalau ditempat kerja atau berada diluar itu udah lain cerita”
“gilaaaakkkkk lo!!!”
“eh, itu yang disebut cinta buta”
Gue langsung ketawa ngakak, nih anak satu belum pernah pacaran (sama kayak gue) bisa-bisanya ngebahas masalah cinta buta.
“eh oncom itu namanya bukan cinta buta, kalau cinta buta itu mereka sama-sama sendiri. tapi kalau cinta sama suami orang atau istri orang itu namanya cinta yang dipaksa untuk buta”
Hening. Nggak ada yang bisa dibahas lagi. Bagas skak mat sama pernyataan gue.
Kita berhenti membahas itu untuk sejenak, karena kita berhenti sebentar untuk makan di warung bakso. Ditengah makan, nggak ada yang kita bahas tentang orang kedua atau pekerjaan, kita justru sibuk berhahahihi bareng. Sambil dalam hati nyumpahin si abang tukang bakso lantaran kita nggak di tawarin minum, sementara sepasang muda-mudi dibelakang kita bertiga malah ditawarin minum-_-
Padahal, kita kan mau diperhatiin jugakkkkkkkkkkkkkkk *siap-siap ambil golok*
Selesai makan, kita langsung lanjut lagi, ditengah jalan ban motor yang dibawa yogi kurang angin, sambil nunggu dia tambah angin gue langsung memulai percakapan lagi sama bagas, masih melanjutkan pembahasan yang kedua tapi gue memulainya dengan percakapan yang lain.
“tipikal cewek lo kayak gimana?” gue
“dewasa dan bisa ngertiin, terus nggak malu-maluin kalo diajak kondangan”
“janda termasuk dong?” gue ngakak
“eh, kalau udah menyangkut hati, kita udah nggak peduli lagi sama yang namanya status. Hati itu udah berat men!! Ini masalah hati”
“oh, pantesan selama ini lo ngejar-ngejar guru PKN, karena lo suka yang lebih dewasa ckckckck”
“eh, gue itu sama dia Cuma kagum doang, nggak lebih dari itu. sama kayak lo ke miss nunung, Cuma kagum”
“masaaaaakkkkk? Emang beda kagum sama “sesuatu” yang dari hati”
“yak beda lah!!”
“kasih gue contoh konkret”
“nggak bisa, karena semua yang dari hati itu sulit untuk dijelaskan”
“sekarang gue tanya, kalau laki-laki or perempuan suka sama istri atau suami orang apakah itu datang dari hati? Apakah itu yang namanya cinta buta” gue mulai mencecar dia dengan pertanyaan yang biasanya gue perdebatkan dengan seseorang.
Dan jawaban yang mengejutkanpun keluar dari mulut orang yang mengakunya cerdas dan bijak ini, berikut jawabannya akan gue underline + bold.
“itu namanya cinta yang salah, karena walau bagaimanapun akan ada hati yang tersakiti” gue udah nahan ketawa waktu nih anak ngomong gitu, untung gue pake masker jadi gak keliatan kalau gue lagi cengar-cengir denger omongannya hahahah “kalau itu terjadi bukan sama orang yang sudah berkeluarga, maksud janda sama orang yang belum menikah or sama duda gak masalah karena ketika mereka menikah tentu gak Cuma mereka aja yang bahagia, coba hitung, ada anak dan tentu keluarga mereka yang ikut bahagia. Tapi kalau itu terjadi contoh, janda tadi menikah sama suami orang, nah, bisa lo bayangin ada berapa orang yang bakal kecewa. Anak yang mungkin akan pindah status, kalau ternyata ortunya bakal berakhir bercerai dan anak janda tadi, kalau ternyata bokap tirinya gak sayang. Who knows meeeennnnnn!!!!! Mending sama gue aja deh”
“berarti kalau sampe terjadi, itu termasuk cinta buta yang dipaksakan yah…? wah menarik yah, ternyata lo bisa jugak diajak membahas hal-hal kayak gini… nah terus gimana?”
“yah mendingan gak usah dijalanin, cari aja yang masih sendiri atau mau menerima dia apa adanya bukan karena ada apa-apanya dan yang bisa menerima dia apa adanya ini bukan seseorang yang dipanggil papa atau mama sama orang yang menunggu dirumah”
“wuiiiiiiiiiiiiiiiiiihhhhhh kereeeeennnnnnnnnn” sumpah gue takjub… ternyata dia kalau diajak ngebahas kayak ginian lumayan juga, jangan-jangan ini efek karena gue mancingnya lumayan, soalnya nih anak kalau diajak ngomong hal-hal yang kesini dia pasti bakalan “apaan sih lo gak jelas” tapi kali ini BOOOOOOOOOOMMMMMMMMMMMMMM….

Sebenarnya percakapan sama dia gak Cuma sampe disitu, karena pas kita sampe rumah pun kita masih cerita tentang banyak hal, tentang masa depan dan masih banyak cerita kocak lain, tapi karena gue males untuk ngebahas semua jadi yang gue publish Cuma sampe permasalahan ini, karena kan lo tau cerpen yang biasanya gue angkat gak jauh dari percakapan gue tadi.
Pernah ada yang tanya “kok cerita-cerita yang lo kasih tahu gue semuanya tentang perceraian, cinta beda agama dan kisah-kisah yang berakhir sedih terus sih?”
“karena gue suka membahas hal itu, itu adalah hal yang sering terjadi dalam kehidupan kita. Bahkan sekalipun kita bersatu, one day akan ada saat dimana kita akan menemukan salah satu dari kita akan pergi lebih dahulu, itu kan termasuk ke tahap patah hati jugak”

Sunday, January 29, 2017

Naik..Naik ke Puncak Gunung


Siapa yang suka nonton Jejak Petualang di Trans7? Acara televisi paling keren versi gue yang dibawakan oleh sosok wanita pemberani nan tangguh.. demi apapun tiap kali gue nonton acara ini, gue selalu kagum sama presenternya.... ada gitu yak cewek super pemberani yang selalu siap jalan kemanapun, terlebih ketempat-tempat yang rutenya WOW banget. Dan you know, tiap kali gue nonton acara ini selalu ada keinginan di hati gue untuk jadi seorang petualang yang bisa pergi kemanapun, ke puncak gunung, ke pedalaman, ke daerah perbatasan dan masih banyak lagi. Tapi, sebagai seorang yang berkeinginan bisa menjelajah bebas seperti itu gue juga sadar bahwa hal itu gak didukung dengan sifat idealis gue yang seringkali muncul, maksud disini adalah terkadang ketika gue berangkat ke suatu tempat yang gak sesuai ekspektasi atau mungkin ketika gue merasa lelah dengan perjalanan itu, gue justru ngeluh dan alhasil malah bad mood. Jadinya, yak marah-marah. Hal ini pernah terjadi waktu gue ada trip sama temen-temen gue, karena gue gak menikmati petualangan itu alhasil sepanjang perjalanan gue justru malah ngambek (cewek banget yah hahahaha)
Nah, dari situ terkadang gue sadar, bisakah gue seperti itu?
Hal ini juga pernah gue saksikan dalam sebuah acara televise di salah satu stasiun tv, hampir sama seperti jejak petualang tapi kalau ini lebih kayak acara di trans 7 yang INDONESIAKU waktu di pandu mbak Miladia Rahma, jadi selain menggali informasi tentang kesenjangan social disini juga dilengkapi dengan kayak petualangannya gitu. Nah, pernah tuh, presenter acara tv yang gak gue sebutin dari tv mana itu gak setangguh yang di Jejak Petualang, karena suatu hal dia malah nangis dan mukanya bad mood gitu. Ada campuran antara gondok sama ketakutan dimukanya. Sebagai penonton yang gak cerdas-cerdas banget guepun merasa “kok gitu sih nih presenternya” dan tiba saat dimana gue merasa bahwa “menjadi presenter yang lebih sering berada dilapangan untuk tayangan documenter seperti ini harusnya siap dengan segala kondisi apapun, tapi melihat si mbak-mbak yang menangis itu gue merasa bahwa, cemen banget sih” gak ngaca banget gue, padahal gue juga sering banget bad mood gitu dan marah-marah gak jelas hahahahaha.

Kenapa gue bahas masalah itu?
Gini lho, tadi siang gue sama 2 temen idiot gue (padahal mereka pinter, tapi bohong J) melakukan perjalanan ke gunung. Kita berdalih ini kita lakukan untuk latihan fisik, olahraga gitulah karena kita jarang banget gerak hahahaha. kita pergi ke gunung itu dan naik keatasnya, kenapa gak gue sebut mendaki? Karena gue gak bisa menyebut itu sebagai sebuah pendakian alasannya, karena itu bukan gunung salak, gede pangrango atau sebagainya. Tapi gak apalah.
Gue ada sedikit cerita tentang perjalanan kesana, lo tau kan gue orangnya kayak gimana, yup suka menggampangkan sesuatu, nah itu terjadi tadi guys waktu gue mau pergi ke gunung, gue kesana dengan memaki sandal jepit. Yup, jepit!!!! alasannya, cuacanya cerah gak mungkin hujan vroh. Tapi, yang namanya alam kan kita gak ada yang pernah tau, tiba-tiba diperjalanan gue menuju ke gunung itu hujan turun dengan sangat derasnya, jalanan yang tadinya dihiasi debu-debu kini berubah dengan genangan air, sandal jepit gue yang indah sudah tidak berbentuk dan gue menyesali kebodohan itu.
Alhasil selama kita jalan keatas gunung gue terus mempertanyakan “apa diatas gak ada tempat cuci kaki?” (manja banget) yang dijawab temen gue dengan “NGGAK ADA”
Alhasil guepun pasrah dengan kebodohan itu, pokoknya masukan deh buat kalian, kalau mau kemana-mana itu segala sesuatunya harus dipersiapkan dengan matang, jangan kayak gue-_- makai sandal boleh, tapi harus sesuai, jangan dipukul rata. Karena yang namanya sandal itu beda-beda fungsi dan manfaatnya…. CATET!!!!!!!!!!!

Sepanjang perjalanan menuju keatas gunung itu gue seneng banget, gue merasa bahwa “mungkin gini ya rasanya jadi pembawa acara Jejak Petualang? Capek tapi asyiiiikkkk” dan disitu gue terus ngoceh seolah-olah gue adalah pembawa acara, sementara 2 teman gue bertugas, sebagai pemandu dan satunya sebagai campers hahaha, gelooooooo.
Tapi ada satu hal yang gue dapet dari perjalanan naik gunung tadi, gue bisa tahu rasa capeknya naik gunung, tapi seneng pas udah ada diatas, meskipun agak sedikit kecewa karena yang ada dibayangan gue tentang gambaran gunungnya terlalu jauh, terlalu jauh dari ekspektasi maksudnya. Pokoknya susahlah diungkapkan dengan kata-kata-_- tapi gak apalah, ini baru permulaan. Semoga kedepannya, gue bisa beneran ikut mendaki gunung kayak yang sering dilakukan beberapa temen kampus gue.

Dan ini sebenernya ada korelasinya juga dari saran seorang teman :
“kita boleh serius tentang pendidikan kita, atau mungkin target yang ingin kita capai. Tapi, diluar itu kita juga perlu mengayakan diri dengan petualangan-petualangan menarik, yang bisa membuat kita berpikir dari sudut pandang berbeda. Lelah fikiran bisa diobati dengan berpetualang, gak harus jauh, yang terpenting kamu keluar dari rutinitas”

Jadi sekarang gimana nani?
Ya sekarang gue mau mengayakan diri gue dengan petualangan-petualangan menarik, gak harus mewah, biar sederhana tapi bisa membuka fikiran. Terlebih karena gue kepingin melatih diri gue sebelum jadi jurnalis hahahaha, biar suatu hari ketika gue ditugaskan kemanapun gue sudah siap dengan itu. tapi gue gak siap kalau diatas gunung itu banyak pemandangan orang-orang pacaran, kenapa? Seperti yang pernah gue bahas di postingan gue yang lain, gue jengah liat orang pacaran. Gue gak peduli itu cinta buta atau yang dipaksa buta, yang jelas kalian harus tahu dimana tempat untuk pacaran diaman tempat untuk menghilangkan kejenuhan (marah kan gue)
Lo tahu perasaan gue pas sampe diatas? Pas liat banyak orang pacaran? Gue speechless, niatnya bakal jadi fotografer untuk temen-temen malah buyar, gue gak konsen, jadi malu sendiri. sumpah demi apapun, itu nggak banget-_-

Friday, January 20, 2017

Dari seberang

Ini bukan sapaan dari seseorang yang biasa kau jumpai
Yang bisa setiap saat kau terima
Atau bahkan tiap hari kau temui

Ini salam perpisahan dari seberang
Sebagai penyambung lidah untuk kata yang belum tersamapaikan
Ya, begitulah…

Namun jika hanya sekedar melihat ke belakangpun sungkan
Biarlah ini berlalu
Tak perlu kau hiraukan
Tak perlu ada salam perpisahan
Karena tak ada satu hal pun yang mengesankan
Bukan begitu?

Entahlah!
Siapa yang peduli?
Kau saja tak peduli!

Pesan kemarin biar menjadi angin lalu
Anggap tak pernah ada kata itu
Cabut kata-kata bahwa aku mengagumi sosokmu
Karena itu dulu
Tepat 1 tahun yang lalu

Sampai jumpa lain waktu

Pesan ini ku tulis dari seberang
Sisi terluar dari kehidupan yang kau jalani!

Wednesday, January 18, 2017

Jalan Menuju Tuhan

Hidup adalah sebuah perjalanan menuju pulang, dimana dari setiap nafas yang kini kita keluarkan kelak Tuhan akan meminta pertanggung jawaban atasnya.
Sedih jika mengingat orang yang akan kita tinggalkan
Namun lebih sedih jika dalam jalan menuju Tuhan kita hanya menjadi pesakitan.

Tuhan sudah menakdirkan kapan manusia akan pulang, dengan cara apa manusia akan usai.
Entah ketika tengah terbaring di ranjang rumah sakit, di dalam ambulance, di jalanan, atau di tengah laut sekalipun.
Yang sebenarnya manusia takkan pernah bisa memilih, jika bisa, mungkin kebanyakan dari kita akan memilih untuk meninggal ketika sudah bisa berbakti pada orangtua atau ketika sudah tua.
Tapi tak seperti itu sayang, Tuhan telah membuat catatan manis tentang kita ketika 4 bulan dikandung wanita yang kita sapa ia dengan panggilan ibu

Berbaiklah, karena kini kita berada di jalan menuju Tuhan
Kita berada dalam jalan yang akan membawa kita pulang
Perbaikilah diri, jaga hati, jaga lisan, jaga pandangan, jaga perbuatan.
Tak ada satupun yang bisa menilai kebaikan manusia kecuali Tuhan, tak perlu baik di mata manusia jika itu ditujukan hanya untuk mencari sebuah keuntungan
Karena manusia tak akan bisa menolong disana,
Kecuali amal perbuatan yang akan menolong dari panasnya api neraka yang kita cipatakan sendiri.

Monday, January 16, 2017

Jual Diri

Assalamualaikum bapak/ibu, saat ini gue akan menjual apa-apa yang ada didalam diri gue. Tapi, jual diri disini tidak memiliki nilai negative seperti, taulah ya… Alhamdulillah gue diberikan Tuhan anugerah berupa rasa malu yang cukup dan rasa bersyukur atas segala rezeki yang Ia berikan sehingga Alhamdulillah gue bisa menjaga diri dengan sangat baik.
Nah, jual diri yang gue maksud disini yaitu, gue akan memperkenalkan diri gue dan akan memberikan hal-hal positif yang gue miliki. Bukan bermaksud untuk buka-bukaan dan meninggalkan azas privasi yang selama ini selalu gue elu-elukan, melainkan hanya untuk mengiklankan diri *narsis..narsis..* yaudah, dari pada lama-lama, mari kita simak perkenalan singkat calon jurnalis sekaligus penulis terkenal ini *heh*
Nama gue Nani Arpan, saat ini gue tengah menempuh pendidikan di Fakultas Ilmu Komunikasi jurusan Broadcasting di salah satu universitas yang jauh lebih terkenal dibandingkan gue yaitu Universitas Mercu Buana. Saat ini gue duduk di semester 2 dan Alhamdulillah dalam waktu dekat *karena gue baru selesai uas* gue akan berada di semester 3 *yeaaaaaay, perjalanankuh masih panjang yah*
Selama gue kuliah di mercubuana, gue dan kelompok gue sudah 2 kali ditugaskan membuat film pendek. Film pertama kita berjudul “Gadis Penjual Bunga” dan yang kedua “Sebait Kata Hati”, karena namanya tugas kelompok jadinya buatnya ya sama-sama hahahah. Ketika film ini selesai, dan gue melihat hasilnya setelah di edit abang kita Zairul Radi Saputro guepun merasa, anjirrrrrrr gue semakin jatuh cinta dengan dunia pertelevisian baik itu berbau non berita ataupun berita. Gue hanyut dengan “gilaaaaaaaaaaaaa, kerennya kalo kita punya karya dan itu difilmkan dan di saksikan banyak orang” dan finally, sebenarnya ini yang membuat gue resign dari tempat kerja gue *laugh out loud* karena gue ingin bekerja di dunia televise, terlebih gue ingin bisa menghasilkan sebuah karya yang bisa di nikmati setiap orang.
Hobby gue sampai sekarang ini masih tetap sama, yaitu menulis dan membaca. Ada banyak buku yang sudah gue baca *sombong* tapi please, jangan pernah anggap gue sebagai anak yang cerdas terlebih karena buku-buku yang gue baca bukan buku-buku pelajaran melainkan novel. Dari kecil, gue sudah dekat dengan dunia tulis menulis bukan karena nenek gue atau mama gue seorang penulis atau wartawan melainkan karena dulu gue jarang bergaul, alhasil gue selalu dijejali dengan buku tulis dan buku tulis jadilah seperti ini. Pengalaman super menakjubkan pernah gue alami waktu gue duduk di kelas 1 SD dimana di usia 7 tahun gue sudah membaca buku porno, mungkin ini yang menjadi penyebab kenapa gue bisa kayak gini-_- sebenernya buku itu belum gue baca semua hingga alhamdulillahnya gue lupa sama isi dari buku itu. dulu, waktu pertama kali gue beli buku itu langsung diumpetin sama mama gue, mama gue simpen buku porno itu diatas pintu tepatnya dirongga-rongga ventilasi. Karena gue bandel alhasil pas mama gue gak ada, gue ambil buku itu dengan naik diatas kursi terus gue pukul-pukul buku itu dengan sapu lidi sampe jatuh dan gue baca, yang gue inget di buku itu ada gambar ceweknya jugak. Pantesan nih buku di kerumunin sama kakak kelas gue waktu di sekolah, karena mereka pingin beli buku ini tapi keburu gue beli dan isinya jeeeeennnnnggggggg…jeeeeeeeeeennnngggg…jeeeeeeeeeennngggg… oiya, bagaimana kelanjutan buku itu? buku itu di robek-robek sama mama gue dan lantas di bakar. Nah itu buku pertama yang gue baca *belum selesai sih* dan sekarang dirumah gue ada banyak buku, gak banyak juga sih tapi seenggaknya lumayan untuk mengisi kejenuhan.
Nah selain itu gue juga hobi menulis, kalo lo mau baca tulisan gue bisa dilihat juga diblog ini, jadi selain ini curhatan absurd gue ada juga beberapa cerpen yang gue tulis. Oiya, ada satu yang perlu diperhatikan! yang gue tulis disini sebenernya gak semua berasal dari pemikiran gue, meskipun ada hal-hal mendasar tentang kehidupan gue yang gue utarakan disini tapi gak semuanya sampe masuk ke tahap lapisan inti (privasi) jadi kalo ada yang merasa gue menjelek-jelekan dirinya disini dan sebagainya mungkin ini yang di maksud dengan baper, nulis untuk apa eh siapa yang ngerasa, dulu pernah di bahas sama dosen gue tapi gue lupa istilah dalam komunikasi itu apa? Jadi sebenernya blog ini khusus ajang menjual diri gue, supaya bisa jadi jurnalis *ketawa ngakak*
Apalagi yah sekarang yang mau gue jual?
Oiya, sekarang gue lagi suka foto. Meskipun gue gak terlalu menguasai mekanisme kamera yang gue punya ini tapi itu gak mengurangi kecintaan gue sama dunia-dunia berbau seni visual ini.
pasar kebayoran lama
 

 
seserius ini kalo lagi didepan gadget
ini si abang kagak tau kalo lagi eike jepret
Kenapa gue suka ngambil gambar candid, alasannya karena objek akan terlihat apa adanya dalam foto itu. gak ada senyum yang dibuat atau raut wajah yang sengaja dipercantik, candid itu natural dan gue suka hal-hal berbau natural tanpa ada satupun yang ditutup-tutupi.
Setelah itu, gue juga suka dengan human interest. Gak hanya untuk fotography, tiap kali gue nonton feature dan mengangkat perihal human interest gue pasti bakal pantengin tv, entah kenapa gitu. Menurut gue ini suatu bentuk kecintaan gue sama hal-hal berbau social, dimana kita bisa tahu apa-apa aja yang mereka alami dan apa yang ingin mereka sampaikan. Makanya gue seneng jalan ke tempat-tempat dimana gue bisa ambil gambar mereka, tapi sayang gue masih ragu untuk mengeluarkan kamera didepan banyak orang. dasar gak percaya diri!!!!

Oiya, kesibukan gue sekarang ini apa? gue lupa share yah!!! gue gak sibuk, karena gue baru resign dari tempat kerja gue? Kok lo bangga banget sih ni resign aja dipamerin…??? Maaf gue gak bermaksud untuk pamer hal ini, meskipun ada beberapa orang yang sempat mengatakan “kok resign kayaknya seneng banget gitu sih” yah, mau gimana lagi? Apakah gue harus menangisi pekerjaan yang sudah gue jalani 1 tahun itu? diluar sana pasti ada pekerjaan lain yang bisa gue lakoni yang sesuai dengan passion gue, yang membuat gue gak merasa jenuh karena terus melakukan hal-hal monoton.
Beberapa bulan terakhir sebelum memutuskan untuk resign sempat terpikir hal seperti ini pagi gue berangkat kerja sampe jam 5. Setelahnya gue pulang, sesampainya dirumah istirahat sambil buka handphone karena seharian gak semepet di lihat pesan-pesannya, makan dan tidur. Bangun pagi dan melakukan hal yang sama. Kadang karena terlalu lelah guepun lupa mengerjakan tugas kuliah dan menumpuknya diakhir pekan. Parahnya, selama gue kerja hampir setiap hari sebelum jam 9 gue udah tewas kecuali sabtu karena jam segitu gue masih dikampus. Nah disitulah gue berpikir, apakah manusia akan seperti ini sampai mati? Mencari uang? Melakukan hal-hal yang monoton terus setiap hari, melewati tempat yang sama setiap hari dan berbicara dengan kata-kata yang sama setiap harinya. I think, gue berada dititik dimana gue harus mengakhiri ini. Namun ada yang membuat gue bertahan selama 1 tahun ini yaitu keyakinan bahwa gue bisa dan ternyata keyakinan aja gak cukup karena hati sama pikiran gue gak sama. Meskipun gue mencoba untuk berpikir lebih jauh lagi tapi gak bisa, hati gue bilang nggak!!! Ini tentang nurani….
Jadi sekarang gue masih dirumah, banyak menghabiskan waktu untuk membaca dan menulis. Mengasah kemampuan gue dibidang jurnalistik.
Bismillah, Insya Allah gue gak akan berada lama-lama dalam kondisi miris seperti sekarang. Gue akan berjuang lagi untuk melanjutkan mimpi gue supaya kuliah gak harus membebankan pada orangtua.

Oiya, kalau setelah ini gue berhasil bekerja di media, gue akan menggunting rambut gue seperti mbak Prita Laura dan mewarnainya seperti ini :
Hasil gambar untuk gaya rambut prita laura
Sumpah demi apapun, wajah gue sama sekali gak cocok dengan gaya rambut seperti ini ditambah kepala gue kecil jadinya kayak cowok banget *kalo gue* soalnya beberapa waktu lalu gue sempet gunting kayak gitu dan alhasil gue jijik liat muka gue sendiri *ini seriusan!!!* beruntung mbak Prita Laura cantik jadi mau diapain juga rambutny tetep aja cantik, gak kayak gue *nangis kenceng*

Sunday, January 15, 2017

Aku Kembali



Aku kembali
Berjibaku dengan kertas dan pena
Memuntahkan kata yang tak teraba
Mengeluarkan setiap kecewa tanpa terbaca
Aku terdiam
Membiarkan setiap resah keluar
Membiarkan aku merasa dan menguliti,
setiap kepahitanku sendiri
tanpa ada seorangpun yang tahu
tanpa seorangpun yang akan peduli

Ya Tuhan, tinta ini begitu hitam
Begitu legam
Dan kata yang keluar membuatku tercekat
Aku takut, Tuhan
Aku takut tak sanggup memuntahkannya
Aku resah
Seperti resah seorang yang menanti kematian
Takut terlupakan
Takut kehilangan
Dan takut, tak termaafkan!

Apakah ini hanya perasaan?
Aku ingin jauh lebih baik
Agar kertas serta pena ini mampu melukiskanku
Bahwa aku tak mau terus berada dalam kehitaman
Pahit!
Egois!

Aku kembali
Kertasku basah dengan bulir air mata yang terjatuh
Getir yang kusingkirkan ternyata menggerogotiku
Kini aku tak tahu kemana aku harus bertumpu
Harapku luruh!
Tuhan bisakah aku kembali?
Melanjutkannya meski kertasku koyak?