Friday, February 7, 2020

Gimana sih cara menumbuhkan minat baca?

Foto oleh cottonbro dari Pexels
Jangan pernah berpikir kalau gue ini suka baca, sumpah jangan! Karena gue nggak seperti yang kalian pikirkan, sama sekali. Jadi, tulisan ini sepenuhnya gue dedikasikan untuk kita yang tengah berusaha untuk menumbuhkan minat baca tapi belum tahu bagaimana caranya (lah kok?) yeah, seenggaknya supaya kita sama-sama belajar dari tulisan gue yang nggak berlandaskan ini.

Kenapa sih gue nggak bisa baca? kenapa sih gue nggak suka baca?

Itu pertanyaan yang gue lontarkan untuk diri gue sendiri saat gue menjatuhkan kepala di meja di hadapan gue di perpustakaan kampus saat sama sekali nggak ngerti sama buku yang tengah gue baca *narik nafas karena sadar tulisan itu nggak pake tanda baca apapun* gue yakin pasti ada yang pernah sepemikiran sama gue? Maksud gue, perihal ini. Yeah, faktanya gue memang bisa baca dan gue yakin siapapun diluar sana yang (mungkin) tengah baca tulisan ini juga bisa baca, buktinya nyasar disini kan? tapi itu bukan masalahnya. Masalahnya adalah, kenapa kita nggak bisa baca dengan (setidaknya) konsenterasi penuh hingga mengerti informasi yang ditulis disana dan mengingatnya dengan baik? Mengapa kita nggak bisa lama-lama bertahan untuk seenggaknya baca 1 bab, atau bertahan 20 menit, atau kenapa kita nggak bisa baca meski itu hanya 15 lembar? Kenapa? Bahkan yang sering kali terjadi pada diri gue adalah; Buka buku yang gue pilih dari rak buku, lihat daftar isi, cari sub judul menarik, menuju halaman buku, baca sebentar, setelahnya? Bolak-balik halaman dengan rasa bosen yang menggelayut hingga nggak sadar akhirnya gue ngantukkkkkkkkkkkkkk. Bosan. Tapi…, tapi  nih, kenapa kalau giliran buka handphone  bisa sampe berjam-jam ya?

Berdasarkan data yang gue dapet dari gugel, minat baca orang Indonesia berada di peringkat nomor 2, dari belakang!! Atau jelasnya, berada di peringkat ke 60 dari 61 negara, tepat berada di bawah Thailand dan di atas Bostwana. Bahkan menurut UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001%. Itu berarti, dari 1000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin baca. Dan sudah jelas kalau 1 orang itu bukan gue! Apakah mungkin itu lo, 1 dari 1000 orang itu? entahlah. Tapi yang jelas, itu adalah fakta yang sangat menyedihkan meskipun itu pada akhirnya buat gue berpikir bagaimana bisa? kita punya banyak orang pinter lho, masa iya dari 1000 orang di indonesia cuma 1 orang doang yang suka baca? Lah yang 999 lagi ngapain? Jago main tik-tok?

*Tarik nafas panjang* Sekarang gue tanya, selama lo kuliah apa ada buku yang lo baca dan lo ngerti sama buku itu? apa judulnya? Masih inget siapa penulisnya? (pertanyaan jahat!) yeah, karena jelas gue nggak bakal tahu kalau ada pertanyaan kayak gitu yang ditujukkan ke gue. Kecuali kalau itu tentang novel, mungkin bakal lain ceritanya :P tapi masalahnya, gue ini mahasiswa (part time) yang seharusnya punya pengetahuan tentang ilmu yang tengah gue pelajari, tapi sampai tahun terakhir gue kuliah gue nggak beda sama gelas bolong yang walau di airi sebanyak apapun nggak akan terisi air, sedih kan?

Tapi………………………, Sebenernya, kita itu bukannya nggak suka baca! Percaya sama gue. Itu terjadi karena kita belum menemukan minat. Minat pada apapun. Misalnya baca. Lo nggak bisa menumbuhkan itu tanpa stimulus *anjirrrr nemu Bahasa dimana tuh?* *abaikan!* yang bisa menggugah lo untuk mau baca dengan kesadaran penuh, dalam arti, tanpa paksaan siapapun – dosen, orangtua, guru, tugas di ekstrakurikuler, tugas kuliah, apapun itu. Kalau kata Mbak Nana, jika lo suka sama girlband or boyband korea lo bisa mulai baca apa-apa tentang mereka, lo suka novel ya lo bisa baca novel, suka komik baca komik…. Dengan itu tanpa disadari lo udah mau baca, ya kan? Nah setelahnya yang dituntut adalah konsistensi. Misalnya lo bisa sediain waktu 20 menit sehari, besok 20 menit, besoknya lagi 20 menit, begitu seterusnya sampai akhirnya tanpa lo sadari lo bakal menikmati apa yang tengah lo lakukan. Tapi sekarang gue tanya? Minat lo apa? Lo punya minat nggak? Karena kadang yang ngambang adalah, kita nggak tahu minat kita apa!!!!!!!!!!!!!! Alhasil kita nggak tahu apa yang mau kita baca. Jangan kayak anak kelas 6 SD yang masuk SMP A karena temen-temennya sekolah di SMP A *ya ikut-ikutan maksudnya :p* jadi, bacalah apa yang lo suka tanpa peduli apa kata temen lo…. “masak anak cowok baca novel…” “ih masa udah gede belinya komik” “hari gini masih baca koran, kan udah banyak portal berita  online” pokoknya, cuek! Jujur, karena pernyataan-pernyataan kayak gitu gue sampe sempat berada di fase malu mengakui bahwa gue masih suka baca novel :D

Intinya, mulailah dengan baca hal-hal yang memang itu minat lo karena itu bakal membantu lo menumbuhkan minat baca yang dimulai dari rasa ingin tahu dari apa-apa yang lo suka. Misal lo punya cita-cita jadi jurnalis pasti tanpa lo sadari lo bakal baca-baca buku tentang jurnalis, mulai dari teknik penulisan berita, teknik wawancara, buku biography jurnalis kayak Kisah Hidupku nya Andi F Noya, Lahir Untuk Berita : 40 tahun jadi wartawan nya Karni Ilyas, pasti punya kan? Pokoknya yang ada jurnalis-jurnalisnya pasti lo baca, kan? Terus pada suatu waktu misalnya lo kepingin kuliah di luar negeri akhirnya buku-buku yang lo baca juga pasti bakal berubah jadi buku-buku tips mencari beasiswa, tips tinggal di luar negeri, negara-negara tujuan kuliah, dll. Bener nggak kayak gitu?  Kenapa? Karena tanpa kita sadari semuanya bakal terarah kalau kita tahu minat kita apa, ketertarikan kita apa? Jadi sebenernya kita itu nggak sepenuhnya nggak suka baca atau kita itu nggak sepenuhnya nggak bisa baca. Karena kenyataannya kita masih bisa kok baca apa-apa yang kita suka. Cuma memang banyak dari kita yang belum tahu apa yang kita minat, jadinya yak kayak gue tadi, pas baca buku cuma bolak-balik dan akhirnya ngantuk. Whoaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhh!
Foto oleh Daria Shevtsova dari Pexels
Jadi menurut gue, kalau lo mau menumbuhkan minat baca di dalam diri lo, lo harus mulai menemukan minat lo. Setelahnya lo bisa cari buku yang berhubungan dengan minat lo itu. Setelahnya (lagi) lo mulai deh baca dengan konsisten. Karena kemungkinan dari 1 buku yang lo baca itu (entah yang mana) bakal membantu lo menumbuhkan minat baca tanpa lo sadari sama sekali. Percaya atau nggak, hal yang buat gue suka sama novel sampe saat ini karena 1 buku, 5CM. buku itu gue baca waktu gue kelas 2 SMP, kemungkina tahun 2010 atau 2011an dan sampe sekarang gue masih inget bagian-bagian favorit di novel itu, bahkan gue masih bisa menjelaskan karakter mereka satu per satu 😁

Nah nanti kalau lo udah beneran tahu apa minat lo, lo udah harus konsisten. Kayak yang udah gue tulis di atas tadi. Tapi kita juga nggak bisa menutup kemungkinan bahwa bakal ada saat dimana kita bakal males buat baca buku even itu Cuma novel. percaya deh sama gue. Nah, kalau udah gitu lo bisa untuk tetap berada di jalur, maksudnya masih bisa tetep baca. gimana caranya? Pindah ke genre lain. Misal contoh sederhananya kalau lo suka novel romance, saat lo males baca novel apa-apa yang berbau romance jangan paksain buat baca itu, coba baca novel lain misalnya yang genrenya scine fiction, crime, fantasy, surealis, satir, apapun itu, karena lo bakal menemukan sesuatu yang baru dan tanpa lo sadari lo bakal suka dengan sendirinya. Nanti dari situ, perlahan lo bakal mulai tertarik dengan tema-tema lain, lo udah mulai bisa terima buku yang lebih serius karena tiap genre yang lo baca tadi bakal mengarahkan lo pada banyak hal,  misal novel itu menceritakan tentang tokoh utamanya yang bekerja sebagai jurnalis di daerah konflik maka pasti lo bakal bertanya-tanya tentang apa sih jurnalis wilayah konflik? Gimana sih kerjanya? Apa tanggung jawabnya? Terus akhirnya lo akan baca buku-buku lain yang lo butuh untuk tahu apa yang tengah lo cari tahu.  apakah ini bisa terjadi sama kita? Bisa! Karena semua itu tadi berawal Cuma dari 1 hal, MINAT! Terus KONSISTEN. Bisa dikatakan, gue pun belajar untuk menumbuhkan minat baca dengan cara itu. Cuma sekarang lagi belajar konsisten, karena ini yang paling susah.

Well, sebelum gue kabur dari sini gue mau mengutip pernyataannya duta baca kita, begini bunyinya :
Cukup perlu 1 buku untuk jatuh cinta pada membaca – Najwa Shihab
Ya  ampun, memotivasi banget kan????? Kagum banget deh sama Mbak Nana :D

Wednesday, January 29, 2020

Pemisahan Raga, Neal Shusterman.


Judul     : Unwind
Penulis : Neal Shusterman
Terbit    : original English, 2007. Bahasa Indonesia, 2013.
Hal        : 455 halaman.

Apa yang ada dalam pikiran lo saat lo tahu bahwa lo nggak akan pernah tumbuh dewasa? Apa yang ada dalam pikiran lo saat lo tahu bahwa hidup lo telah berakhir saat orangtua lo menandatangani surat pemisahan raga lo? Apa? Apa yang terjadi saat lo tahu bahwa dalam waktu dekat raga lo akan di pisah-pisah dan setelahnya menjadi bagian dari tubuh orang lain? Pasti enggak percaya! Pasti lo akan berpikir, kenapa gue? Apa salah gue? Kenapa bisa orangtua gue melakukan hal sejahat ini? kenapa?

Ya, itu pasti bakal lo pertanyakan seandainya itu memang ada! tapi karena memang nggak ada, dan gue menanyakan itu lantaran gue baru selesai baca novel Neal Shusterman yang UNWIND jadilah pertanyaan itu terpikir dalam kepala gue yang kecil ini. Dan sepanjang gue baca buku itu gue nggak berhenti berpikir tentang, bagaimana kalau itu kenyataan? Bagaimana kalau itu menimpa gue? Mungkin gue nggak akan pernah punya keberanian untuk lari dan yang ada gue hanya menunggu waktu sampai hari terkutuk itu hadir dan gue pun merelakan tiap-tiap organ tubuh gue dipisah-pisah dan merelakan bagian-bagian itu menempel pada orang lain. Itu sangat menyedihkan kawan dan itu sangat payah.

Yeap, gue baru selesai membaca salah satu dari novel neal shusterman yang berjudul unwind, novel bergenre sciene fiction ini berhasil membuat gue bener-bener takjub. Novel ini membuat gue sampe nggak bisa berhenti untuk ngebacanya, meski faktanya gue beberapa kali berhenti karena beberapa kesibukan wkwkwk. Tapi sumpah, ini bagus banget. Terlebih dengan fakta bahwa gue belum pernah baca genre beginian, jadi pas pertama kali baca imajinasi gue tuh bener-bener di buat melayang-layang. Bagaimana mungkin Shusterman bisa punya imajinasi tentang pemisahan raga? Bagaimana dia menciptakan 3 sosok unwind yang bener-bener keren? Bagaimana dia bisa buat cerita yang menarik dengan banyak sudut pandang didalamnya? Dengan….. ah, kok gue nggak pernah bisa sih jelasinnya?????????????????

Ngomong-ngomong novel ini mengingatkan gue sama film Never Let Me Go yang ceritanya hampir mirip, tentang pemisahan raga. Cuma bedanya kalau di film never let me go itu anak-anak yang bakal jadi pendonor telah di persiapkan sejak kecil, dan setelah mereka melewati usia tertentu maka mereka akan menjalani operasi untuk mendonorkan organ vital mereka seperti hati, jantung, ginjal, dll. Wah, gue sampe jijik waktu adegan dimana Ruth (Kiera Knightley) menjalani operasi yang kesekian kalinya untuk donor, bahkan ada scene yang buat gue bener-bener nggak percaya saat dimana dokter bedah mengambil hati Ruth (Kiera Knighley) dan memasukkannya ke dalam kantong gitu. Itu hatinya kelihatan kayak beneran banget lho. Sumpah! Itu bener-bener buat gue sampe….. speechless! Kok bisa sih???? bagian menarik lain dari film ini adalah saat dimana Ruth meninggal. Pada saat itu dokter hanya melepas alat bantu kayak nafas gitu (gue nggak tahu itu apa, maaf gue bukan anak kedokteran wkwkwk) dan setelahnya para dokter bedah itu meninggalkan tubuh yang sudah nggak bernyawa itu gitu aja. Disitu gue merasa betapa tidak berharganya tubuh tanpa nyawa…. Dan itu benar-benar buat gue sedih.

Balik lagi ke novel UNWIND yang baru selesai gue baca ini. pada dasarnya novel ini menceritakan tentang 3 anak pelarian UNWIND yaitu Risa, Connor, dan Lev. Mereka bertiga adalah pelarian UNWIND yang nggak saling kenal tapi karena situasi tertentu akhirnya dipertemukan dan akhirnya menjadi sekutu.

Cerita ini bermula dengan kaburnya Connor dari rumah setelah tahu bahwa orangtuanya telah menandatangani surat perintah pemisahan raga Connor, Connor yang tahu tentang itu memutuskan untuk melarikan diri dengan menumpang truk. Namun karena Connor adalah anak masa kini, jadilah pelarian dia terlacak lewat handphone yang dia bawa. Alhasil ditengah pelarian, truk yang mengangkut Connor diberhentikan di pinggir jalan perbatasan antar negara bagian oleh polisi Juvey. Disitulah drama terjadi, Connor yang nggak mau “mati” karena harus menjadi UNWIND memilih untuk melarikan diri dan menyeberangi jalan tol yang ramai dan akhirnya menjadikan Connor sebagai sumber kekacauan di jalan antar negara bagian. Kenekatan Connor dalam upaya melarikan diri dengan menyeberangi jalan tol itu sukese menyebabkan beberapa kecelakaan sekaligus lantaran banyak mobil yang menghindari saat ia berlari. Pada suatu titik saat ia benar-benar merasa terancam karena polisi Juvey terus berusaha mengejarnya sambil menembakkan peluru bius, ia pun melihat seorang anak laki-laki berpakaian serba putih tengah memandangnya ketakutan dari dalam mobil yang jendelanya dalam keadaan terbuka, saat itulah ia akhirnya “menculik” anak tersebut dan menjadikannya sandera untuk menyelamatkannya.

Disisi lain cerita Risa merupakan anak usia 15 tahun yang merupakan anak perwalian negara, pada suatu waktu ia di beri tahu bahwa ia merupakan satu dari banyak anak yang akan di jadikan UNWIND untuk memangkas biaya negara karena ada terlalu banyak anak-anak terlantar yang juga perlu dibiayai, akhirnya mereka memutuskan untuk menjadikan anak-anak seperti Risa (yang usianya sudah mencukupi) sebagai UNWIND. Pada saat itu Risa nggak terima, jelas! Siapa juga yang mau terima kenyataan itu. Risa yang punya potensi besar di bidang music merasa bahwa keputusan apapun yang telah direncanakan untuknya nggak adil karena walau bagaimanapun itu keputusan sepihak yang diambil tanpa pemberitahuan apapun sebelumnya. Akhirnya di hari yang sama Risapun di bawa oleh 2 orang untuk akhirnya keesokan harinya akan dipindah ke kamp akumulasi untuk mejalani pemisahan raga. Keesokan paginya dalam perjalanan menuju kamp akumulasi bis yang ditumpangi Risa mengalami kecelakaan lantaran sopir yang membawa mereka berusaha menghindari 2 anak laki-laki yang tiba-tiba menyeberangi jalan, hal itu mengakibatkan bis yang membawa mereka masuk ke dalam danau dan mengakibatkan sang sopir meninggal di tempat. Kepanikan di dalam bis itulah yang akhirnya dimanfaatkan oleh Risa untuk lari ke hutan yang ada di seberang jalan tol, dan akhirnya iapun keluar dari bis dan lari ke hutan.

Nah, itu baru dua… gimana Lev. Well, Lev ini adalah anak persembahan. Anak persembahan dalam buku ini bisa dikatakan sebagai anak istimewa. Kenapa? Karena mereka memang sudah di persiapkan sejak kecil untuk menjalani pemisahan raga. Jadi, Lev ini sudah tahu bahwa di usianya yang ke 13 dia akan menjalani pemisahan raga dan dia sudah bisa menerima itu, bahkan dia sendiri merasa bahwa dialah anak special, anak yang terberkati, intinya begitulah. Dalam hal ini dia nggak seperti Risa dan Connor yang berusaha untuk mempertahankan diri agar nggak harus di pisah-pisah. Namun pada saat perjalanan Lev ke Kamp akumulasi itulah, Lev secara tidak sengaja diculik oleh Connor. Yep, jadi anak yang ada di dalam mobil yang diculik Connor itu adalah Lev. Levlah anak yang dijadikan Connor sebagai sandera untuk menyelematkannya dari tembakan peluru bius oleh polisi Juvey. Dan dari situlah akhirnya mereka bertiga di pertemukan dalam satu situasi, Lev, Connor, dan Risa. Sampai disini gue sudah tidak akan cerita banyak tentang buku ini, karena jatuhnya gue bakal jadi manusia jahat yang akan memaparkan semuanya dan nggak memberikan lo ruang untuk tahu ceritanya dengan cara lo sendiri.

Sejauh yang gue baca, novel ini bener-bener bisa buat gue dag-dig-dug, hal ini karena banyak banget kejadian dalam novel ini yang bener-bener menegangkan. Terus ada bagian yang paling menarik dalam novel ini, bagian paling menarik itu saat salah seorang anak yang pernah menerima donor otak dari UNWIND menjadi seperti memiliki kepribadian yang di punya oleh anak sebelumnya. Dibagian itu ingatan anak UNWIND yang pernah hidup itu menuntun si penerima donor untuk berjalan ke rumahnya di negara bagian lain untuk menemui ortunya dan nangis-nangis meminta agar orangtuanya nggak menandatangani surat pemisahan raga untuknya. Yang sedih adalah bahwa anak itu nggak sadar bahwa dia udah nggak lagi ada, bahwa anak itu kini cuma jadi bagian dari tubuh orang lain.

Sedih ya?

Ada nggak sih yang gue dapet dari novel ini? Hal yang gue dapet dari sini adalah, Hidup itu berharga. Nyawa itu berharga. Masa depan itu berharga. Setiap orang itu punya hak untuk hidup. Terus? Kalau gue sih nangkepnya ya itu, nggak tahu deh kalau yang baca orang lain :P yah you know lah, kapasitas otak daku kan biasa aja :P jadi itu aja syukur banget gue bisa menyimpulkan hal itu wkwkwk.

Pokoknya novel ini begitu bagus, tapi jangan lupa ini ada 4 series. Jadi habis baca yang unwind masih ada 3 lagi yang perlu lo baca. Dan mungkin bakal ada lagi lanjutannya. Nah, sebelum gue pindah ke bukunya yang berikutnya, seperti biasa gue bakal melampirkan synopsis buku ini :

Orangtua Connor ingin menyingkirkannya karena ia selalu menimbulkan masalah. Risa tidak punya orangtua dan akan menjalani penisahan raga untuk mengurangi beban panti asuhan. Pemisahan raga Lev sudah direncanakan sejak ia lahir, bagian dari agama orangtuanya. Di pertemukan nasib, dan di persatukan keputusasaan, ketiga remaja ini melakukan perjalanan yang penuh bahaya, tahu bahwa nyawa merekalah taruhannya.

Jika bisa bertahan hidup sampai ulang tahun ke-18, mereka selamat. Tetapi, ketika setiap bagian tubuh mereka, dari tangan sampai jantung, diincar dunia yang menggila 18 terasa amat sangat jauh.

Well, synopsis yang tidak berlebihan. Tidak menjelaskan banyak hal namun sudah cukup menggambarkan sedikit latar belakang 3 anak UNWIND itu *lah kan emang synopsis mah gitu ni!*

Udah ah itu aja! :P

Tuesday, January 14, 2020

Dunia kafka oleh Haruki Murakmi

Gambar terkait
dicomot dari gugel :)
Menarik & cerdas.

Menurut gue itulah kata yang sangat tepat untuk menggambarkan keseluruhan cerita yang di tulis oleh murakmi dalam novelnya Dunia Kafka (Kafka on the shore)

Sejujurnya, sebelum ini gue belum pernah baca keseluruhan dari tulisan Murakami terlepas bahwa gue pernah baca cerpennya di fiksi lotus, atau bahkan sesuatu yang menuliskan tentang siapa itu Murakami dan apa yang dia tulis. Tapi untuk membaca novelnya, belum. Dan saat gue akhirnya berkesempatan untuk membaca Dunia Kafka, gue langsung hanyut di kalimat pertama. Gue mengabaikan bahwa gue benci baca buku dalam bentuk ebook, gue mengabaikan itu lewat kalimat demi kalimat yang tertulis di BAB pertama Dunia Kafka. Dan gue bisa bilang bahwa, gue jatuh cinta sama tulisannya Murakmi.

Murakami menggambarkan tokoh-tokoh yang cerdas dalam Dunia Kafka, meski gue nggak tahu bagaimana dia menuliskan tokoh-tokoh lain dalam karyanya yang lain, tapi dalam novel Dunia Kafka ini dia menghadirkan tokoh yang super cerdas lewat Oshima. Oshima seperti tahu apa aja yang ada di dunia ini, dia seperti seseorang yang seolah sudah menghatamkan semua buku yang ada di perpustakan komura yang buat kepalanya bener-bener “berisi”, atau mungkin dia itu kayak Wikipedia berjalan.., atau fakta sebenarnya adalah Murakami lah yang cerdas. Entahlah, yang jelas gue menyukai peran Oshima dalam novel ini, dan gue suka bagian dimana Oshima menjelaskan banyak hal yang dia tahu, lo bakal menemukan dialog-dialog cerdas saat Oshima bicara, saat Oshima menjelaskan pemikirannya, atau teorinya. Dialog-dialog itu benar-benar keren dengan diimbangi oleh Kafka dan pemikirannya, diimbangi pendiskripsian yang menarik. Intinya, gue suka bagaimana Murakami menciptakan tokoh yang luar biasa hebat, seperti kafka, Oshima, Nona Saeki, Hoshino, Nakata, Sakura…  tokoh-tokoh yang buat gue bener-bener punya pertanyaan “bagaimana ya mereka di dunia nyata?”/

"apa menurut anda musik memiliki kekuatan untuk mengubah manusia? semisal anda mendengar suatu musik lantas mengalami perubahan mendasar dalam diri anda?"
Oshima mengangguk. "tentu, hal itu bisa terjadi. kita memiliki pengalaman -reaksi kimia- yang mengubah sesuatu di dalam diri kita. ketika kemudian kita memeriksa diri kita sendiri kita sadar ternyata semua nilai-nilai yang telah kita jalani telah berubah dan dunia menjadi terbuka dengan cara-cara yang tak terduga. ya, saya pernah memiliki pengalaman semacam itu. tidak sering tapi pernah terjadi. seperti jatuh cinta." nah, ini satu dari contoh dialog yang gue suka dari Oshima waktu menjawab pertanyaan Hoshino. 

Sementara untuk ceritanya, awalnya ini cukup membingungkan, terlebih saat percakapan Kafka dengan seorang anak laki-laki bernama gagak, bahkan sampe novel ini selesai gue masih mempertanyakan tentang siapakah gagak, maksud gue, apakah gagak ini sejenis teman khayalan, atau suara hati kafka? Meski memang sepanjang cerita akan banyak berterbangan gagak-gagak di cerita tersebut tapi gue masih bertanya-tanya, sebagai symbol apakah gagak disini?????? Entahlah, gue tidak cukup pandai untuk bisa menginterpretasi sebuah novel, apalagi dalam novel ini gue merasa ada banyak symbol yang digunakan dan buat gue berpikir keras untuk menerjemahkannya.

Jalan cerita novel ini sudah bisa di prediksi, sudah banget (kalau menurut gue). Tapi yang bener-bener buat gue masih belum bisa percaya atau nggak bisa gue terima adalah fakta dimana Murakami “mematikan” Nakata di bab-bab terakhir, dan akhirnya menyisakan pertanyaan “Hah seriusan????? Kok dimatiin sih?”  sebenernya sudah ada clue di pertemuannya dengan Nona Saeki, tapi gue masih nggak percaya aja gitu… soalnya Nakata itu tokoh sentral disini, kok dimatiin? Setelah itu guepun bertanya-tanya, bagaimana akhirya? Dan menurut gue endingnya itu, absurd! Maksudnya gini, Kafka lari jauh dari Tokyo ke Takamatsu terus setelah pelarian cukup panjang, setelah kasus yang menimpanya, setelah nona saeki meninggal, setelah Nakata mati, setelah pintu masuk telah ditutup, Kafka tiba-tiba memutuskan kembali ke Tokyo tanpa ada penjelasan apa yang akan terjadi setelah kepulangannya ditengah POLISI yang mencari-carinya. Jadi…., apa-apaan sih??????????? apa guenya berpikir terlalu jauh??? Tapi sekarang coba bayangin, siapa yang nggak punya pikiran seperti gue di saat novel itu menyuguhkan cerita tentang seorang anak yang lari dari rumah dan diduga terlibat dalam pembunuhan ayah kandungnya sendiri dan tinggal di kota dimana “terduga” pembunuhnya juga melarikan diri ke kota yang sama???? Setelahnya, setelah semua puncak dari cerita ini berakhir, dia pun pulang kembali ke Tokyo dan dengan mudahnya bilang “dia akan menyerahkan diri ke polisi dan menjelaskan semuanya dan melanjutkan sekolahnya lagi” emosi gue jadinya!!

Diluar itu, novel ini cukup filosofis, terus cukup di bumbui dengan mitologi-mitologi yang buat gue ber “oh” dan banyak hal yang bener-bener menarik dan lagi-lagi cerdassssssssss. Jujur, gue harus berpikir super keras untuk mengerti maksud setiap quote yang ada disana, sekali lagi, gue tidak cukup pandai untuk mengerti sebuah novel atau quote jadi, yasudahlah. Tapi meski begitu, Murakami juga nggak lupa untuk buat pembacanya senyum-senyum dengan dialog-dialog super konyol dari tokoh-tokohnya, dan tentu yang jadi favorite gue adalah dialog antara Nakata dan Hoshino, karena entah gimana, percakapan mereka itu selalu konyol 😁

Yang gue tangkap setelah itu adalah bagaimana novel ini membuka mata kita tentang benar dan salah, makna dan hubungan, kejenuhan, perasaan bosan, pengungkapan identitas, cinta, apalagi ya? Intinya sih itu.

Novel ini benar-benar bagus, dan gue nggak bisa menjelaskannya dengan tepat. Intinya, buku ini sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata,… kalau lo mau tahu, ya lo harus baca.


Berikut gue tulis synopsis di novel itu :

Novel dengan dua plot berbeda namun saling terkait ini bercerita tentang dua tokoh yang berlainan dunia. Disatu sisi, novel ini menuturkan kisah Kafka Tamura, remaja yang kabur dari rumah untuk menghindari kutukan ayahnya serta untuk mencari ibu dan saudara perempuannya. Dalam petualangannya, ia menemukan tempat penampungan yang tenang di sebuah perpustakaan pribadi di Takamatasu. Kafka menghabiskan hari-harinya dengan membaca buku, hingga suatu ketika polisi menginterogasinya terkait dengan kasus pembunuhan brutal.

Sisi lain novel ini berkisah tentang Satoru Nakata, lelaki tua yang –berkat kemampuan luar biasanya– bekerja paruh waktu sebagai penemu kucing hilang. Pada suatu kasus, demi seekor kucing, ia membunuh seorang lelaki misterius. Kasus ini membawanya hengkang jauh dari rumahnya dan berakhir di jalanan, hingga bertemanlah ia dengan sopir truk bernama Hoshino yang membawanya menuju kota tempat pelarian Kafka. Nakata dan Kafka berbeda dunia, namun di alam metafisik kisah keduanya terhubug –  dan begitu pula yang terjadi dalam realitas sesungguhnya.


Dengan Oedipus complex sebagai bunga cerita, novel surealis ini menyuguhkan bacaan memukai ihwal identitas, cinta, tragedi, takdir, dan pergulatan hidup. Gagasannya eksploratif dan filosofis. Alur ceritanya berkelok-kelok dan penuh teka-teki. Gaya bahasa dan narasi dialognya ringan dan menghibur. sebuah novel memikat dari penulis hebat yang patut anda baca.

Friday, January 3, 2020

Apa gue suka baca?

Gue nggak pernah bisa kemana-mana tanpa bawa buku, makanya selama ini gue selalu bawa ransel yang ukuran cukup besar kemana-mana, karena di dalam ransel gue pasti bakal ada satu atau dua buku bacaan yang bakal gue baca ditengah-tengah perjalanan, atau kalau lagi nunggu, atau pas lagi nggak tahu mau ngapain. Lucunya, gue pergi ke toko buku aja bawa buku, bahkan pernah (mungkin yang tergila) gue lagi pusing di rumah dan tiba-tiba ngeloyor gitu aja ke blok m, rencananya mau lihat-lihat aja tapi pulang-pulang bawa 1 kantong full isi buku dan tas yang udah berat juga dengan buku (bawa dari rumah). Rasanya kalau udah beli buku tuh bahagia banget, lebih bahagia dibanding melakukan perjalanan kemanapun tanpa beli buku. Rasanya tuh kayak, apa ya???? Puas! Apalagi moment harus susun buku di lemari sesuai dengan urutan dari yang udah di baca – yang belum di baca, rasanya kayak…, kerennnnnnnn….

Tapi yang jadi pertanyaannya, apakah gue suka baca?

Well, itu pertanyaan yang sangat sulit. Karena jujur, gue nggak bisa jawab itu. Gue nggak tahu tolok ukur seseorang bisa dibilang suka baca. Menurut gue, gue jauh dari predikat itu ha ha ha. Oke, gue nggak terlalu suka baca, karena gue punya pandangan sendiri tentang orang yang suka baca, bagi gue orang yang suka baca itu adalah dia yang membaca apa aja tanpa terkecuali. Maksud gue, mereka biasa baca jurnal, biasa baca buku apa aja baik itu fiksi maupun non fiksi, biasa baca berita, dan tahu apa aja. Bagi gue, mereka yang suka baca juga identic dengan mereka yang CERDAS. Nah, dari situ aja gue udah nggak masuk kualifikasi sama sekali ha ha ha. Jadi, gue nggak masuk dalam golongan orang yang suka baca. Apalagi dengan fakta bahwa hampir semua buku yang gue punya itu novel, dan memang hanya novel. Jadi, apa yang bisa diharapkan dari gue? Bicara super serius? Mana nyambung? Bicara politik, ngerti apa gue? Bicara masalah eknomi, astaga nggak bakal nyambung? Jadi dari situ sudah dapat disimpulkan bahwa gue nggak suka baca :P

di baris belakang itu novel yang udah gue baca dan ada beberapa buku yang sengaja gue umpetin karena harganya wkwkwk
Nah di bawah itu buku umum kayak motivasi, agama. kebanyakan sih motivasi.

Sejauh ini gue hanya hobi membeli buku, hobi mengoleksinya, dan kadang-kadang membacanya. Dari situlah muncul rasa dimana gue merasa nyaman dengan buku, gue lebih cinta dengan buku di bandingkan dengan kegiatan apapun. Toko buku tempat paling nyaman untuk pergi, perpustakaan adalah tempat paling oke saat gue ingin menyendiri, buku keren adalah temen paling baik saat gue jenuh, dan kata-kata adalah hal paling menarik yang bisa buat gue ketawa sekaligus nangis. Gue paling suka kalau lihat orang baca, baik itu saat lagi dijalan atau dimanapun. Menurut gue orang yang baca itu kelihatan lebih menarik. Gue pernah diem-diem ikut baca buku yang lagi dibaca orang yang berdiri samping-sampingan sama gue di commuter line, bukunya keren, tapi sayang gue nggak ngerti, soalnya pake Bahasa inggris ha ha ha ha.

Gue seneng baca apa-apa yang kasih gue informasi tentang buku-buku keren yang wajib di baca, tempat keren untuk berburu buku murah, atau aplikasi apa aja yang wajib di install untuk orang suka baca. Karena hal itu buat gue bener-bener merasa lebih exited. Menurut gue, buku itu punya zat dopamine yang buat gue bahagia. Gue stress, ya lo bakal nemuin gue ada di toko buku. Gue pingin sendiri, ya lo bakal nemuin gue ada di perpustakaan (tiduran wkwkwk)

tempat ngumpet kalau lagi nggak ada kelas

Gue suka film-film yang berisi tentang buku, misal kayak film yang bercerita perjuangan seorang wanita mendirikan toko buku di desa kecil (the bookshop), tentang anak buta huruf yang punya minat besar sama buku yang buat dia rela “meminjam” buku agar bisa membacanya ditengah larangan pemerintah pada saat itu (The book thief), tentang seorang yang menemukan sebuah naskah dalam tas tua yang di belinya saat berlibur ke paris dan menulis ulang hingga membuatnya di ganjar penghargaan (the words), dan masih banyak lagi yang nggak bisa gue tuliskan satu per satu (lupa sebenernya ha ha ha)  dan itu film yang bener-bener buat gue semakin suka sama buku. Bahkan gue juga beli buku yang bercerita tentang buku, lho? Nggak tahu kan???? Sama gue juga bingung :P

Kenapa sih gue ngomongin buku dan baca? Karena salah satu resolusi gue di tahun 2020 ini adalah, lebih banyak baca lagi. Lebih nggak pilih-pilih bahan bacaan, keluar dari zona nyaman baca hal-hal yang gue suka aja, dan…. Mulai untuk konsisten baca. Gue mau bisa hanyut sama cerita dalam buku yang buat gue tidur  hingga larut Cuma buat nyelesaian cerita itu dibandingkan nonton film nggak jelas yang intinya bakal happy ending, ah sedih! Itulah alasan gue nulis ini, biar gue inget sama resolusi ini.

Udah ah, gue mau selesaian baca novel Haruki Murakami dulu, nanti gue share cerita gue baca tuh novel disini ya 😂

Selamat hari jum’at 😊

Thursday, January 2, 2020

Menepati janji : Foto bareng ibu dosen

Beberapa waktu lalu gue sempet janji buat posting foto bareng Ibu Dosen yang gue kagumi, benar? Yep, benar! Berhubung sabtu kemarin merupakan pertemuan terakhir di kelas Riset Komunikasi dan UAS tanggal 11 besok dosen gue itu cuti, otomatis nggak ketemu kan? Nah, jadilah gue memohon ke ketua kelas supaya ngusulin foto bareng sebelum kelas selesai di sabtu kemarin dan…. Akhirnya kita bisa foto bareng sama ibu dosen.

Ah, sebenernya gue kepingin banget foto berdua sama ibu dosen, tapi berhubung gue pemalu (oke kalau lo cukup percaya dengan itu) gue pun nggak berani buat ngomong untuk foto berdua… padahal ya, gue sampe bawa kamera buat foto sama ibu dosen + 3 batrainya sekaligus, tujuannya? FOTO BARENG IBU DOSEN LAHHHHH!!!!!!!

Gue bener-bener kagum sama dosen yang satu itu, dan selama gue kuliah di mercu, dosen ini yang gue kagumi dengan alasan super jelas, sebelumnya? Eh, gue baru 2x lho kagum sama dosen, yang pertama tanpa alasan jelas dan yang kedua ini dengan alasan super jelas…. Dan untungnya, gue pernah bilang ke ibu dosen tentang ke kaguman gue itu…. Yeap, itu adalah adegan ter awkward selama perkuliahan dengan ibu dosen ini.

Jadi ceritanya gini, waktu itu baru gue aja yang dateng di kelas riset, oke gini, lo tahu kelas riset gue ini di mulai jam 7? Ya kan? Nah, selama gue ambil riset sama ibu dosen gue nggak pernah bolos, garis bawahi… ENGGAK PERNAH BOLOS! Dan bahkan gue berusaha untuk nggak pernah telat, meskipun kenyataannya gue pernah 2x telat :P nah karena hal ini, gue jadi selalu berangkat kuliah jam 5.40an biar gue sampe kampus di jam 7 kurang 15 atau 7 kurang 20.

Di pagi itu, gue jadi mahasiswa pertama yang dateng dan gue lagi ngotak-atik kamera lantaran malem sebelumnya Desi chat buat pinjem kamera, di tengah kesibukan kecil itu ibu dosen dateng.. disitulah terjadi obrolan singkat, ibu dosen nanya apa kesibukkan gue? Terus ngobrol, dia bilang sedikit pendapatnya / pandangannya tentang gue (nggak perlu dikasih tahu ya apa wkwkwkwk) terus banyak sih, kita ngobrolin masalah kerja di mercu, dsb. Nah nggak lama temen gue masuk, terus kita akhirnya ngobrol bertiga dan tiba-tiba  (kayaknya) gue bilang kalau gue kagum sama salah satu dosen di mercu….

“wah siapa? Saya kenal nggak? Emang sih, di broadcast itu banyak dosen muda yang bla bla bla bla” lupa gue apalagi, intinya sih gitu, terus ibu dosen itu nunjukin wajah kayak semangat gitu wkwkwk.

“ibu… saya kagumnya sama ibu”

Hening.

Gue masih bisa lihat mata ibu dosen yang seketika ngeliat gue dan… lagi-lagi hening. Pokoknya habis itu gue lupa ngebahas apalagi, yang jelas obrolan tentang itu nggak berlanjut. Sumpah gue kalau inget itu suka lucu sendiri, dasar dodol yah gueeeeeeee hahahahaha.

Eh gue inget lagi deng, gue ngelanjutin gini.

“tapi saya nggak ngejilat kok bu, saya beneran kagum. Saya benci penjilat”

Iya, gue takut dikira penjilat. Itulah alasan gue males bilang kagum sama orang yang (setidaknya) punya sesuatu di atas gue, maksud, dirinya kan dosen cuy, dan pada saat bersamaan mengampu kelas yang gue ambil, jadi gue takut.

Mungkin karena pengaruh dulu gue sering lihat orang yang suka “menjilat” jadilah gue benci sama orang-orang kayak gitu, gue benci sama orang yang melakukan sesuatu karena alasan untuk mencapai sesuatu. Dan secara nggak langsung gue juga menjadi khawatir kalau-kalau tindakan yang gue lakukan dianggap mengarah kesana, padahal? Enggak!!!! Gue bahkan nggak mau deket-deket sama orang yang punya power di atas gue karena alasan itu. Kok panjang yah penjelasannya????????

Dan.... ini dia foto di pertemuan terakhir kelas riset kemarin.... Muka guenya diganti emoji aja ya wkwkwkwk. 

Oiya, gue belum kasih tahu ya nama ibu dosennya siapa? nama ibu dosennya ini, Bu Sofi, nggak pake nama panjang ya, soalnya takut kepanjangan wkwkwkwk.

Kok kelasnya dikit banget? iya, kelas riset ini cuma ada 16 mahasiswa (kalau nggak salah) karena hal itulah kita merasa deket sama dosennya :)

Sunday, December 29, 2019

Tugas terakhir di semester ini, PRODUKSI!

akhirnya tugas produksi selesai jugak, meski belum sepenuhnya, yep, soalnya hari kamis harus di kumpulin ke rumah Bpk dosen, tapi seenggaknya segala pengambilan gambar udah selesai. Tinggal edit dan revisi.

tugas ini bener-bener lucu. bayangin aja, dari semua kelompok cuma kelompok gue aja yang sampe kemarin masih ada yang belum take gambar. sementara itu kelompok lain udah semua, tapi giliran diomelin ya semuanya kena, mau yang udah take tugas produksi berita + talkshow maupun belum tetep aja kena semprot pas kemarin berita yang harusnya udah preview masih tetep belum selesai. ada yang belum di dubbing lah, ini lah, itulah... sama aja kan jatuhnya?????????

tapi yang buat kelompok gue bener-bener absurd adalah, udah jelas sabtu kemarin kita mau shoot talkshow tapi kita sama sekali nggak tahu konsepnya gimana. maksudnya gini, bintang tamu udah ada, kita udah tahu apa yang bakal diangkat, tapi sampe hari H kita masih nggak tahu mau shoot dimana, kan kocak wkwkwkwk. sebenernya kamis lalu gue udah sewa studio buat shoot talkshow di hari sabtu, tapi studio full, bingung kan? akhirnya kita rembukkan dan setuju untuk buat outdoor tapi bingung lagi, dimana? dan dariman bisa dapet property kayak kursi dan meja karena apa-apa yang ada di studio nggak bisa dibawa keluar, nah lho? mau buat hal yang santai tapi bingung cari saung-saungan dimana. akhirnya.... yaudahlah, tergantung nanti ajalah. Akhirnya hasil dari buah YAUDAH GIMANA NANTI AJALAH adalah... kita semua PANIK di hari H. narsum yang merupakan kenalan temen gue ini baru bakal sampe jam 1, sementara gue nyewa alat-alat buat jam 9.30 - 13.00. Lah kocak dah? untungnya pas kita ke sana bisa di rubah waktunya, karena nggak ada yang sewa alat sebenernya :P. setelah ambil semua alat-alat di gedung multimedia kita pun minggat ke depan gedung dan ngemper disana sambil mikir.., ini mau shooting dimana, kan begokkkkkkkkk yaaaa kita, udah hari H baru kebingungan.

karena obrolan mereka makin lama makin panas dan gue juga harus lari ke gedung LIA lantaran baru dikasih tahu ada quiz sama temen sekelas yang nggak sengaja ketemu waktu nyari dospemnya di gedung multimedia jadilah gue cabut, dan entah gimana ceritanya jam 1 mereka teleponin gue dan bilang kita shoot di studio..... kok bisa????????????????????? tapi akhirnya, ya bisaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa. ternyata setelah usut punya usut, kelompok gue barteran... jadi kita sharing studio sama kelompok lain yang nggak punya narsum :P  kita kasih pinjem narsum kita ke dia dan dia bersedia berbagi studio... anjir gue ngakakkkk sumpah! tapi begitulah the power of kepepet, apa aja bisa jadi jalan wkwkwkwkwk.

shooting talkshow

kelompok ini emang paling kocak, pasalnya cuma kelompok kita doang yang super belingsatan baik dikelas atau pas praktek. lucunya, dosen kita selalu bilang "kalian kenapa sih suruh si A jadi produsernya, saya nggak habis pikir" sumpahhhhhh, kalau tugas kelompok pasti nggak ada yang mau namanya itu terpampang di bagian paling penting, kenapa? karena bakal ditanya-tanya!!! jadi pas itu harus jadi produser, semuanya langsung pada nolak dan si Aldi lah yang jadi tumbal wkwkwk. diluar itu tugas pembuatan naskah kita revisi muluuuuuuuukkkkkkkkk dan buat anak dikelompok gue bolak-balik kerumah bpk dosen buat revisi.... itu udah mau final, tapi sebelum itu ide kita ditolak mulu.... kata dosen kelompok kita itu terlalu banyak ide tapi kita semua bingung mau gimana, alhasil selesai konsul biasanya kita bakal ghibah dibelakang wkwkwkwkwk. si aldi paling kocak kalau ghibah, belum lagi kak amel wkwkwkwkwkwk. tapi................. akhirnya selesai jugakkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk.


udah ah wkwkwk...

ngomong-ngomong ini matkul produksi terakhir, semester depan udah fokus ke matkul-matkul non produksi.... pasti bakal kangen ke tidak jelasan shooting kelas produksi yang super absurd wkwkwk... sukses yah kalian semuanyaaaaaaaaa.

Wednesday, December 11, 2019

Gimana sih etika yang baik untuk chat / kirim email ke dosen? Kok gue selalu takut sih.


Gue sering banget mempertanyakan hal ini ke temen-temen gue, seriusan! Lo boleh Tanya Si Sulis, Desi, Eka, Nur, siapa lagi ya? *mikir* kayaknya sama mereka aja deh. Kenapa sih gue selalu nanya gitu? Jawabannya sangat sederhana : karena gue paling nggak bisa chat/email dosen. *tuh gue bold biar jelas*. Sebenernya bukannya paling nggak bisa sih, tapi paling takut untuk melakukan hal itu. Pernah Si Desi ngira bahwa gue mungkin termasuk orang yang nggak punya etika pas chat/email dosen, makanya ketika salah seorang dosen menjelaskan bagaimana etika yang baik untuk mengiriminya email di jelaskan, mata Si Desi berkali-kali ngelirik gue dan terang-terangan bilang “tuh dengerin”. Ya…Ya…Ya…, gue jelas-jelas dengerin kok, karena ini akan bermanfaat untuk gue yang selalu males berhubungan sama dosen lewat chat pribadi tapi selalu dapet tugas untuk chat dosen. Makanya pernah kejadian lucu gini, waktu itu gue disuruh untuk telepon salah satu dosen untuk menanyakan suatu hal yang sebenernya enggak penting (menurut gue lho) karena toh ini bisa di chat aja, tapi berhubung sang dosen enggak ada di ruangannya jadilah gue yang disuruh telepon tuh dosen….

“telepon aja dari WA” kata Si Desi dengan entengnya.

“Gilakkkk lo, masak sih telepon dosen lewat WA. Telepon biasa aja.” Gitu kata gue. Lagian masak telepon dosen dari WA. Kecuali kalau dosennya yang telepon sah-sah aja.  Lah ini?

“Yaudah, lo aja yang telepon, kan provider lo sama”

“Lo aja yang telepon, pake HP gue…”

“Lo aja, kan HP lo….”

“Lo aja stef….” Kata gue ngelempar ke stefany.

“nggak mau”

“Yaudah sini gue aja yang telepon, mau ngomong apa emangnya?” seketika gue nengok, si udhe nawarin diri buat nelepon nih dosen, wah nggak bener nih…. DIA KAN BUKAN KELOMPOK GUE, BISA-BISANYA DIA YANG TELEPON.

“oke, gue yang telepon, mari kita cari tempat sepi….”

Akhirnya gue sama si stefany jalan ke lorong yang sepi, gue cari nama dosen yang mau gue telepon, nomornya ketemu, gue pun telepon nih dosen. Gue dag-dig-dug. Keringet dingin keluar dari seluruh pori-pori di tubuh gue.

NOMOR YANG ANDA HUBUNGI SEDANG TIDAK AKTIF….

Yes….. gue langsung ketawa girang sambil bilang “nomornya nggak aktif kakak stef”
“mana coba sini…” HP gue di rebut sama stef. Dia coba telepon lagi nomor dosen dan….. “iya nggak aktif”

Dan itu nggak berakhir disitu, karena gue juga yang harus chat dosen.

Lo tahu apa keburukkan gue? Setelah dosen bales gue itu nggak pernah mau bales lagi. Gue itu punya pemikiran yang super nggak jelas, menurut gue, kalau dosen udah bales dengan lengkap apa yang lo tanyain, yaudah, nggak perlu lagi dibales. Toh dosen udah bales kan? Terus mau diapain lagi? Nah, karena hal ini pernah ada dosen yang pada akhirnya mengira gue mengabaikan balesannya dan bilang ke sulis dan sulis bilang ke gue. Nah dari situlah gue males buat chat atau berurusan apapun sama dosen lewat medsos.

Kini, hal-hal yang berbau chat / email dosen secara personal menjadi momok yang super buat gue mules tiap kali ngebayanginnya. Hal itu terus menghantui sejak tugas kirim proposal riset melalui email ke dosen riset, tapi karena dosen ini ngasih tahu etika berkirim email ke dirinya, jadilah itu aman buat gue. Tapi, kejadian yang super buat merinding itu dateng lagi ketika Dospem gue (akhirnya gue dapet dospem lhooooooo) meminta gue untuk kirim BAB 1 proposal gue melalui email. Mampus kata gue. Di depan dosen yang bersangkutan jelas gue menyanggupi, tapi dibelakang… nggak tahu aja dirinya bagaimana gue merangkai kata-kata biar terkesan sopan dan santun. Nggak tahu aja dirinya gimana sebelum gue kirim BAB 1 itu gue harus konsultasi dulu ke beberapa temen gue.

“ini gimana ngirimnya? Gini aja?”

“subjeknya harus gimana, BAB 1 aja atau gimana?”

“udah gini aja?”

Setelah kegaduhan yang gue ciptakan sendiri perihal bagaimana caranya email yang baik dan benar ke dosen gue pun harus menelan kenyataan pahit bahwa : email gue sampai hari ini nggak dapet tanggapan apapun dari sang dosen, kepala gue mulai berputar-putar persis kayak obat nyamuk bakar. Tiap hari kerjaan gue ngosongin email masuk biar bisa tahu kalau dosen ini ngerespon email gue. Tiap buka email langsung deg-degan. Parah kan? Dan yang lebih parah ya itu tadi, nggak ada tanggapan apa-apa dari dospem gue itu. Jadinya, miris!

Disisi lain, Si Desi, yang kalau ada apa-apa langsung buat status WA itu sering banget unggah SS chattingannya sama sang dospem ke WA. Misalnya kayak permintaan dospemnya untuk revisi A lah, cari beberapa jurnal lagi lah, minta maaf karena bu dosen telat bales chat karena sibuklah, lanjut ke bab berikutlah. Lah gue, email bab 1 gue aja nggak tahu nyangkut dimana…. Nggak tahu kabar ceritanya gimana. Atuh gimana??????????? Rasanya kepingin lari-lari dilorong kampus sambil teriak pembing saya mana, pembimbing saya mana? Dimanaaaaaaaaa? Kok geli yah???????? Wkwkwkwk.

Oke, dari situ gue memberanikan diri untuk kirim chat ke dosen ini di senin siang kemarin, gue udah nggak lagi buat di word terus di move ke wa, melainkan langsung gue chat dirinya. Di resepon???????

Sekali lagi gue jawab :

TIDAK SAUDARA-SAUDARA!!!!

Disinilah sisi melankolis gue akhirnya keluar, pertanyaan-pertanyaan tentang kesalahan gue pun bermunculan dari kepala gue yang kecil…. Apa jangan-jangan ada kata-kata gue yang menyinggung hatinya di pertemuan pertama saat gue minta TTD? Apakah gue tanpa sengaja mengeluarkan statement yang….. apa jangan-jangan? Aduhhhhhhhhhhhhh, gue kecewa sama diri gue sendiri kalau itu beneran terjadi  *Lebayyyyyyyyyyyyyyy* *berlebihan*

Dospem : semester kemarin saya ketemu kamu, sekarang ketemu kamu lagi *kalau nggak salah dospem gue ngomong gini*

Gue : Orang itu cobaannya emang beda-beda Bu. Nah, cobaan ibu ya sayaaaaaaaa :P

Dospem : ini judulnya apa lagi??? (Tanya bu dosen dengan nada bercandanya sambil lihat judul skripsi gue yang acakadut lantaran keseringan gue edit dan malah kebelinger)

Gue : yah begitulah bu, enggak apa-apa yang penting lulus di kelas riset wkwkwk.

Apakah ada kemungkinan kata-kata di atas itu menyinggung perasaan dospem gue?????????? Yah gimana atuh, gue kan aslinya cengengesan gitu. Nggak pernah kelihatan bisa serius. Muka dodol. Sering panikan. Dan kata-kata diatas keluar dari kepanikan lantaran gue dapet dospem ini. ya ampunnnnnnnnnnnnnnnnnn. Lo enggak tahu kan siapa dospem gue???????????????? Lo enggak tahu kan perjuangan gue sampe akhirnya berlabuh *kok aneh ya bahasanya berlabuh?* *mikir cari kata-kata lain* ah, *ceritanya nulis ulang* lo nggak tahu kan perjuangan gue sampe akhirnya di tetapkan kalau dosen ini yang jadi dospem gue? Puanjaaaaaaaaaangggggggggg, persis perjalanan sungokong dan kawan-kawan mencari kitab suci. Bisa ngebayangin kan???????????? Yah begitulah gue sebelum ditetapkan kalau dosen ini yang jadi dospem gue, makanya pas dosen PA bilang kalau ibu dosen ini yang jadi dospem gue, gue langsung hampir histeris di ruang TU wkwkwkwk. Lo mau tahu apalagi yang terjadi????????? keluar dari ruang TU buat nyeberang ke gedung LIA senyum gue itu udah kayak emoji, dari kuping kanan ke kuping kiri alias lebar bangettttttttttttttttttttttttt. Persis kayak gimana perasaan gue kalau udah selesai ngerjain elearning. Persis kayak perasaan gue setelah, SETELAH TAHU KALAU DIRINYA SEBAGAI DOSPEM GUEEEEEEE.

Spesialkah dosen ini? enggak sih (jawab dengan pasang tampang sepolos mungkin). Cuma katanya dia itu baik. Udah itu aja sih yang penting wkwkwwkwk.

BOHONG. SUMPAH GUE BOHONGGGGGGG. Jelas ini itu dosen yang gue harapkan pertama kali bakal jadi dospem gue. Inilah dosen yang entah gimana pernah buat gue ngomong ke temen gue bahwa beliaulah yang bakal jadi dospem skripsi gue dan.......... KENYATAAN!!!!!!!!

Makanya, galau kan gue pas tahu email dan chat gue nggak di respon????????? Galau sumpah!!!!! Wah jangan-jangan… jangan-jangan…… ah, jangan dongg bu, janji deh bakal jadi mahasiswa baikkkkkkkkkkkkk. Sumpah!!!!! Saya nggak bakal ngelawan, janji. Bakal nurut kok. Saya pinter kok bu, selama ini Cuma pura-pura begok aja biar nggak keliatan bego beneran, seriusan deh bu…… *apa sih nani???????????????????

*Tarik nafassssssssssssssss sedalam rahasia wanita* sebenernya gue tuh mau chat lagi tapi takut dikira bawel kayak kejadian el yang dibilang nggak sabaran sama dosennya :P

Gimana ya?

Gimana nih?

Aduh gimana dong?

Gue butuh teman berkeluh kesah.

Gue butuh temen buat cerita. Siapa?

Si Eka.

Akhirnya gue nanya ke Si Eka, gue nanya gimana nih dosen pas dikelas. Apakah dosen ini termasuk dosen yang sulit dihubungi? Terus apa kira-kira tindakan yang harus gue lakukan. Galau tau nggak sih gue tuh cuma gegara beginian doangan.

Ya Allah tolongggggggggggggggggggggg.

Selain Eka gue juga chat salah seorang temen yang kebetulan dospemnya juga dosen yang sama, akhirnya dari jawaban temen gue ini gue tahu tentang dosen ini. Pikiran positif muncul lagi. Dan akhirnya gue semangat lagi.

Intinya, sabtu besok gue harus ketemu sama dospem gue ini. gue harus mengutarakan semuanya. Ciyeeeeeeeeeeeeeeeee, mengutarakan apa????????? Mengutarakan kalau sambil nulis ini tuh gue sambil nafas. Sambil menggerakan 10 jari. Sambil denger lagu galau dan nangis-nangis. Bercanda. Tahu kan kalau gue itu suka bercanda?

Yaudah, Jangan baper gitu donggggggggggggggg, nanti cepet mati lohhhhhhhhhhhhhhhhh wkwkwkwk.

Terus sekarang??????????????????????? apakah ada yang bersedia mengajari gue untuk bisa berkirim chat / email ke dosen? Ajarin dong!!!!!!!!!!!!!!!! Tar gue kasih permen cap kaki deh J