Sunday, March 11, 2018

Berkubang Rindu

Pada puisimu
Pada lagumu
Pada tiap-tiap dirimu
yang mengingatkanku
Aku berkubang rindu

Pada setiap sentuhan
Pada setiap perhatian
Pada setiap pelukan
Pada tiap-tiap dirimu
yang selalu menenangkan
Aku berkubang rindu

Pada tiap-tiap dirimu
Aku berkubang rindu

Pada setiap saat bersamamu
Aku berkubang rindu

Padamu
Yang dengannya t'lah kau tinggalkan aku
Aku berkubang rindu

Aku..
Berkubang rindu..

Sunday, March 4, 2018

Abang, aku nggak kuattttt!!!



Tetiba jadi inget sama lagunya mbak Rumer yang Welcome Back waktu mau nulis ini, dan akhirnya gue memutuskan untuk menulis ini dengan di temani lagu-lagunya mbak Rumer wkwkwkwkwk...
Arrrrrggghhhhhhhhhhh!!! Akhirnyaaaaaaaa, setelah 6 bulan yang panjang dakupun kembali pulang ke rumah tempat dimana semua ke absurdan nggak jelas biasa dilakukan, selamat datang kembali Nani Arpan ke Mercu Buana... Ciyeeeeee, yang sabtu kemarin menjadi perdana... Astagaaa, sumpah deh, rasanya tuh kemarin campur aduk banget! Ada perasaan males buat ngampus lantaran udah kembali ke kebiasaan mager. Terus euporia tak terhingga yang entah dateng darimana sampe-sampe pas di gojek senyam-senyum sendiri gegara kangen sama jalanan ke kampus, sampe akhirnya gilaaaaaaa lagi pas ketemu temen-temen super absurd!! Ampun deh!!!
Gue cuma mau bilang, selamat datang semester 4!!! Selamat datang dosen-dosen super ketjeh yang bakal mengisi hari-hari kedepan dengan luar biasaaaaaaaaa!!! Dan ngomongin masalah dosen, di sabtu kemarin gue akhirnya ketemu dengan 3 dosen yang akan mengisi sabtu sore hingga malam gue di mercu, di mulai dengan dosen Newscasting and Announcing yang kayaknya akan super menyenangkan dengan pengalaman segudang di bidangnya, terus dilanjutkan kembali dengan dosen Integrated Marketing Communication yang sudah membuat peraturan super perihal kehadiran, juga.... Salah seorang dosen yang *tarik nafas* *jeda panjang* Keluar dari kotak *lho maksudnya?* *silahkeun di terjemahin ke inglish
Sebelum gue perpanjang pembahasan gue mengenai dosen ke tiga, alias dosen di matkul terakhir, alias dosen super emejing, alias dosen paling "apaan sih?" alias dosen paling... Paling-paling lah pokoknya!!! Izinkan gue untuk berkisah dulu tentang jam kuliah gue di semester ini... Jadi beberapa waktu lalu gue sempet berkisah tentang bagaimana menariknya ambil kuliah sore right? Nah, di semester ke 4 ini akhirnya gue mengambil kelas sore lagi, lo tahu gue mulai kelas jam berapa? Yup, di Jam 14.30 s/d 22.00 yang itu artinya, TANPA JEDA! NGGAK ADA ISTIRAHAT! Dan ini menyebalkan! Bayangin, kemarin... Di hari pertama masuk kuliah yang biasanya diisi dengan perkenalan dan pembahasan tentang rencana study 1 semester kedepan yang biasanya tidak banyak memakan waktu *oleh sebagian dosen* karena cuma membahas masalah tugas-tugas doang eh ini malah panjang, di pertemuan pertama gue di suguhkan dengan fakta pertama bahwa.... Salah satu dosen berkata : Kalian ini anak komunikasi, kalau selama 4 tahun belajar komunikasi tapi nggak memahami apa itu hakikat ilmu yang kalian ambil, better jangan ambil jurusan ini... Dosen ini berkisah tentang kompentensi kami selaku anak broadcast, bertanya apa latar belakang kami memilih broadcast sebagai jurusan, lantas bertanya apa yang sudah kita capai selama beberapa semester di jurusan broadcast, hal yang kalau boleh jujur buat gue merasa "gilaaaaaaaa, apa yang gue pelajari? apa yang gue dapet? apa? apa? apa? mengapa gue ambil jurusan ini? apa yang melandasi gue mau belajar ini? apa bisa gue jadi seperti apa yang gue inginkan? apa bisa? apa bisa? apa bisa? *dilanjutkan dengan ngubek-ngubek tempat sampah* *nangis kenceng di depan indomaret* *ngeringkuk di pojok kelas sambil nangis kejer* setelahnya dia berbicara mengenai passion, dan dari situlah gue ingin teriak ke dosen itu dengan "Justru saya ambil kuliah broadcasting karena saya ingin mempelajari ini bu, tapi karena saya nggak punya cukup uang untuk masuk kelas reguler jadilah saya bekerja apapun diluar pekerjaan yang saya cita-citakan sekedar bisa membiayai kuliah untuk meraih mimpi"  tapi nyatanya gue diem aja sampe tuh kelas selesai! Dan dosen di matkul pertama itu mengisi kelas sampai full, 2 jam 29 menit.
Nah setelah di pertemuan pertama di matkul pertama dengan dosen pertama, akhirnya ketemulah sama dosen kedua.  Dosen kedua ini kayaknya sih biasa-biasa aja, dalam arti yah biasa aja. Nggak ada yang aneh, nggak ada juga yang nggak aneh *lho?* soalnya dosennya masih muda. Gue taksir sih usianya di bawah 30 tahun dan hampir mendekati 30 tahun, yah di 28 atau 29 tahunan lah. Wajahnya flat banget. Nah, sedikit cerita nih tentang nih dosen, kemarin selepas kelasnya gue sempet bilang gini sama el dan sulis "tuh dosen mukanya flat banget ya" yang di tanggapi mereka berdua dengan bilang "biasa aja" sambil masuk ke dalam toilet. Setelah keluar dan memutuskan untuk nunggu Sulis yang lagi di dalam toilet, guepun sama El berdiam diri di depan cermin *anjir bahasanya cermin* sambil ngobrol ngalor ngidul.. Sampe akhirnya dari salah satu bilik keluarlah sesosok yang..... Buat gue speechless.... Gue yang lagi cuci muka berhenti... Dan tiba-tiba adegannya langsung slow motion.... Ternyata itu ibu dosen! Setelah senyum sebentar ke tuh dosen yang menyapa kita bertiga sambil keluar, kitapun diam. Setelah dirasa nih dosen sudah pergi dan nggak denger guepun langsung gerasak-gerusuk "tadi kita nggak ngomongin nih dosen kan?" yang di tanggapi 2 temen gue dengan wajah bingung. Ternyata, Nggak! wkwkwkwkwkwk.
Oke, sekarang kita akan membahas maskot di hari sabtu. Dosen super menakjubkan yang super buat gue mangap lebar, ketawa ngakak, bengong dongo, speechless dan terlebih, berpikir dodol. Gue baru pertama kali ketemu sama nih dosen, sementara sulis dan el udah pernah ambil matkul nih dosen sehingga dia udah faham kelakuan nih dosen kayak gimana. Awalnya gue masih positif thinking ke nih dosen sampai akhirnya gue menjatuhkan kepala gue ke kursi dengan begitu pasrah dalam hati berdoa, Ya Allah inikah dosen yang Kau kirimkan untukku di semester ini? Selebihnya guepun kejang-kejang, tergeletak di depan kelas dengan mulut mengeluarkan busah *silahkan di bayangin*
Dosen yang terakhir ini sudah berumur, gue taksir usianya sudah setengah abad alias 50an. Seperti kebanyakan dosen, gayanya nggak menggambarkan kelakuannya yang *tarik nafas* awkward. Hari sabtu kemarin dia tampil dengan batik coklat, rambut tersisir rapih kecuali belakangnya ada yang sedikit berdiri wkwkwkwk, tampilannya sedikit serem yang gue duga itu merupakan caranya untuk jaga image, dan sedikit genit atau sangat genit (sebenernya) dan setelahnya....
"menurut kalian apakah efektif kalau kelas kita di mulai di jam 19.30?"
"efektif aja pak" kata beberapa orang.
"Kalian yakin jam 19.30 sudah tiba di kelas?"
"Yakin pak!"
"Apa ada jaminan kalian sampai di kelas jam 19.30?"
Pertanyaan itu memakan waktu 30 menit untuk pembahasannya, dia bertanya tentang efektifkah kelas kalau kita memulainya di jam 19.30? Gue yang basicnya selalu ambil kelas sore merasa nggak ada masalah dengan jam kuliah yang dimulai jam segitu meskipun sebelumnya gue ada kelas yang bakal selesai di jam 19.29. Karena menurut gue perpindahan dari kelas sebelumnya ke kelas berikutnya juga nggak bakal memakan waktu lama, karena kita di mercu buana yang dari satu gedung ke gedung lain gak harus naik helikopter dulu. Tapi nih dosen mempermasalahkan waktu kita? Pertanyaan gue, apanya yang salah????? APANYAAAAAAAAAAAAAAAA?????? *mulai nggak sabar* dan tiba-tiba diapun memutuskan untuk :
"baik, kita memulai kelas di jam 20.00, dan bagaimana dengan selesai kelas? begini, berhubung ini kelas terakhir jadi saya beri kalian keleluasaan *jeda* kelas kita akan mundur 30 menit dan berakhir dimajukan 30 menit"
Amazing fucking speechless. Mangap dongo. Apa-apaan ini dosen? Bilang aja dari awal kalau kelas dimulai dari jam 20.00 s/d jam 21.30 dan gak usah muter-muter pake segala debat kusir yang harus di tengahin sama Mbak Najwa Shihab, amboiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii *tepok jidatttttttt*
Kekesalan. Kekagetan. Kengerian. Semuanya beradu satu. Tapi semua itu nggak jauh lebih menakjubkan jika di bandingkan dengan pembahasan kita mengenai nilai. Di moment ini adalah adegan paling kocak, kocak, kocak, sumpaaaah kocak!!! Gue ngakak, nggak percaya kalau ternyata nih dosen di set cukup sabar untuk di ketawain anak seisi kelas yang pernah diajar nih dosen, mahasiswa yang pada dasarnya udah tahu kelakuan asli nih dosen kayak gimana. Pada intinya, nih dosen mau kita untuk membeli buku hasil karyanya yang tersedia di toko-toko buku. Setelahnya, kalau lo nggak beli buku nih dosen secara otomatis lo akan kehilangan 40 point dan El pernah ngerasain hal ini, yang mengakibatkan dia harus ngulang mata kuliah Komunikasi Massa. Dan gak cuma itu, dia juga mau kita (mahasiswanya) untuk subscribe channel youtubenya dan kasih review mengenai setiap postingannya. Nah, untuk ini kalau lo nggak ngelakuin itu lo bakal kehilangan 30 point *fuck* dan kalau lo mau tahu, durasi video yang ada di youtube itu 40 menit. Gilaaaaaaaaaaaakkkkkk!!! habis quota akoh pak buat liat tayangan youtube bapak, Ya Allah tolonginnnnnnnnn!!!
Okeh, itu baru kedua.... Hal absurd lain yang harus kita lakuin adalah.... Dia mau kita untuk membuat video dia lagi ngajar dan yang ini.... gue sampe istigfarrrrrrrrrrr, Ya Allah, ini dosen bener-bener deh *nulis sambil ngelus dada* Dia mau kita punya kelompok untuk buat video dia lagi ngajar, terus harus diedit sedemikian rupa, harus pake credit title dan sebagainya... Untuk apa semua itu? Untuk di Upload di channel youtubenya jo!!! So, kesimpulannya adalah, dosen ini ingin membuat konten yang menarik yang berisi tentang dirinya tapi semua itu hasil kerja keras kita. Pak, kalau saran saya mah nggak perlu begitu-begituannnnnnn... Nggak baik, ria!!! Allah nggak suka sama orang yang suka pamer, udahlah ya.... Gak usah buat video-video kayak gitu? Ya...Ya...Ya.... Lagian belum tentu di approve sama Google AdSense jugak wkwkwkwkwkwk *jahaaatttttttttttttttt* mending saya, udah di approve sama Google AdSense, liat tuh di blog saya udah ada iklannya kan? bentar lagi youtube saya jugaaaakkkkkkk loh *pamer* dan satu lagi pak, saya mah gak pernah maksa-maksa temen saya buat baca blog saya. Malu saya mah pak....
Meangingless banget tulisan gue yang ini wkwkwkwkw. Guys, wish me luck dalam menghadapi dosen yang ke tiga ini. Doakan agar gue tidak khilaf untuk membuat dia bertekuk lutut di kaki gue..... Ngapain? Minta di follback wkwkwkwkwk. Siapa lo nani? Gue? Hello, lo nggak tahu gue? Astagaaaaaaaaaa! Lo tau mantan pangeran Harry nggak? Nah itu...... Gue nggak jawab lho wkwkwkwkwkwkwk.
Hari sabtu kemarin itu bener-bener berkesan buat gue, meskipun di matkul terakhir gue cuma banyak mikir dodol sambil ngetawain tuh dosen karena mahasiswa-mahasiswa yang pernah diajarin dia pada nyindir dengan begitu transparan dan ditimpali tuh dosen dengan pura-pura nggak ngerti wkwkwkwkwkwk. Selebihnya gue seneng balik lagi ke dunia gue, kembali lagi ketemu sama temen-temen yang luar biasa, udah nggak sabar dengan tugas-tugas kuliah yang bakal memenuhi 6 bulan kedepan. Nggak sabar juga untuk menjawab soal-soal di e-learning. Walau bagaimanapun kegilaan gue dalam menuliskan tentang dosen-dosen tadi tapi diluar itu  gue kagum juga sama sosok-sosok mereka, sama dosen-dosen luar biasa, baik yang udah senior maupun yang masih muda-muda kayak dosen gue di matkul kedua itu, Luar biasa!!!!
Oiya, sebenernya gue juga mau cerita sedikit. Kemarin tuh waktu selesai kelas terakhir, waktu gue sama El lagi nunggu ojek, tetiba mata gue menangkap sesosok orang yang.... Gilaaaaakkkk, keren banget!! Sosok yang dulu selalu jadi bahan pergunjingan mahasiswi, bapak dosen tamvan.... Waktu liat tuh dosen kemarin langsung.... "el...el...liat deh pak (Sebut nama), gilaaaaaakkk keren banget..." dan.... El pun melihat tuh dosen dengan ekspresi yang... Kayak di iklan-iklan...
El : Pak (sebut nama) sebenernya udah nikah belom ya?
Gue : Nggak tahu, kayaknya sih belom.
Mata kita terus mengikuti nih dosen yang tengah menyebrang jalan sampai hilang di kerumunan mahasiswa di minimarket.
El : Nani, tuh kayaknya ojek nani deh *sambil nunjuk*
Mata guepun beralih ke abang ojek.
                ~TAMAT~


sebelum pamit, look this pic!!!!
kampus rasa rumah nenek!!!


Sunday, February 25, 2018

Hobby baru gue, Nonton!!

pic from google
Apa yang paling menarik untuk dilakukan ketika libur di sabtu minggu? Nonton dari laptop? Baca Novel? Duduk di depan laptop sambil coba menulis cerita yang entah bakal jadi atau bikin ngedumel? Baca tulisan-tulisan jaman baheula untuk cari inspirasi buat nulis? Atau, pergi keluar dan bergabung dengan orang-orang.... Oh please, yang terakhir bukan gue banget! Seorang Nani Arpan, keluar rumah untuk ketemu banyak orang??? Nggak mungkin banget!!!! So, apa yang gue pilih untuk mengisi waktu di sabtu-minggu untuk refresh otak?

NONTON!

Iya, gue nonton!! Tapi bukan di bioskop ya! Soalnya gue bukan orang yang suka ketemu banyak orang untuk nonton dan terlebih gue nggak suka nonton film yang lagi neghits dan lagi jadi pembicaraan banyak orang. Kayak yang sekarang-sekarang ini terjadi, dimanapun, kapanpun yang di bahas pasti tentang film Dilan. Sementara gue, gue maunya film yang gue tonton itu nggak banyak orang di sekitar gue yang tahu sama film itu, so gue bisa anggap cuma gue yang tahu tentang itu. Gue nggak mau kayak waktu Novel 5cm di jadiin film eh semua orang jadi suka semua sama novel 5cm. Padahal, seperti halnya Zafran yang maunya cuma dia yang tahu Kahlil Gibran dan siapa itu Aristoteles, gue juga mau cuma gue aja yang tahu betapa kerennya novel itu, tapi gara-gara anak-anak yang suka ikutin trend jadilah dulu temen-temen sekelas gue bersok tahu tentang 5cm dan gue merasa kayak "Apaan sih mereka, gue kan udah baca buku itu dari gue kelas 2 SMP, sementara mereka baru tahu 5cm waktu itu sudah di filmkan, dan bahkan sebagian dari mereka nggak tahu kalau film 5cm itu berdasarkan sebuah NOVEL" dan akhirnya gue mengalah. Hal ini juga kejadian waktu gue merasa cuma gue yang tahu Payung Teduh *hal ini terbukti karena temen-temen gue di SMK cuma beberapa yang tahu band ini* dan lagu-lagunya itu cuma buat gue, dan harus gue... Eh, tahun kemarin gue merasa lagi-lagi kalah sama orang-orang gara-gara salah satu lagunya hits banget, tau kan yang judulnya Akad? Rasanya gue itu kayak, itu kan penyanyi kesukaan gue. Dan setelahnya, dengan sangat mudah gue lihat status temen-temen gue yang lagi karokean dengan lagu-lagunya payung teduh. Guepun sedih.

Oke, abaikan kesedihan diatas wkwkwkwkwk!

Ngomongin masalah nonton, gue bukan tipikal orang yang bisa nonton dari pagi sampe sore kayak yang dilakuin temen gue, atau setelah habis nonton satu film langsung lanjut ke film berikutnya..berikutnya..berikutnya... Sumpah, itu nggak pernah berlaku sama gue, karena otak gue bakal capek banget kalau setelah nonton satu film langsung dilanjut ke film lain lagi.
Karena jujur ya, itu buat gue nggak bisa untuk menyerap makna dari film yang udah gue tonton. Bagi gue, one day one film dan setelahnya gue akan menyerapi setiap adegan, setiap dialoge dan hal itu yang akan membuat tuh film bakal berkesan buat gue. Jadi, sudah bisa disimpulkan bahwa gue nggak mungkin bisa kerja rodi untuk nonton drama korea kayak temen gue, atau menghabiskan waktu seharian untuk nonton film dari laptop, ya ampun, apa kita bakal bisa menyerap setiap informasinya kalau kayak gitu??? *bertanya dengan wajah polos versi gue*

Oiya, lo tau jumlah film yang ada di laptop gue? Tepatnya jumlah film yang belum gue tonton? Ada 100an film yang belum gue tonton di laptop, sementara yang baru gue tonton paling baru 50an film selama gue beli nih laptop, yang itu berarti 50 film itu sudah gue koleksi lumayan lamaaaaaaaaaaaaaaaaaa, yaa tiga tahunan lah ya... bayangin gaessssss 3 tahun baru selesai nonton 50an film??????????!!!!!!!
Jujur, gue kan sering banget ke warnet, nah warnet deket rumah gue itu koneksinya bagus banget kalau buat download film *bukan mau promosi lho* alhasil kerjaan gue tiap kali libur kadang pergi ke warnet buat download film-film ketjehhhhh.. Pokoknya tiap minggu itu gue selalu nambah 5-7 film ke laptop, sementara dalam satu minggu itu belum tentu gue punya waktu untuk nonton tuh film, alhasil ya gituuuuuhhhhh.... Film gue numpukkkkkkkkkkk sementara kegiatan gue untuk download juga nggak bisa dihentikan, alhasil harddisk gue yang dulu bener-bener kosong lantaran gue nggak suka nyimpen film, kini sudah berubah drastis... Mau gak mau harus beli harddisk eksternal deh :( Tapi gue seneng, seenggaknya seiring berjalannya waktu gue sudah mulai untuk menyukai kegiatan nonton, karena sebelumnya gue bener-bener nggak suka untuk nonton film... Kebayangkan, bagaimana nani arpan yang dulu, yang banyak banget menghabiskan waktu liburnya cuma duduk di depan laptop mandangin microsoft word atau nggak baca novel, tapi sekarang kegiatan itu bertambah sejak gue suka film.. Seenggaknya knowledge gue bertambah lah dengan hobby baru ini, alhamdulillah...

Dan membahas masalah film, jujur ya hampir semua film yang gue download itu bergenre drama, komedi, dan romance... Dan yang terakhir itu tuh, yang romance itu... Nah, itu paling mendominasi, sumpah!!! Hal ini yang buat temen gue sampe nggak percaya kalau koleksi film-film gue itu lebih ke Romance, dia yang lagi buka-buka laptop gue sampe bilang "gue nggak percaya kalau ternyata begini sisi dalamnya nani, fuck!" gue sampe.... Ya ampun, masalah gitu kalau gue suka nonton film dengan genre romance? im just human, gue juga butuh film-film romance yang bisa jadi gambaran wkwkwkwkwk. Gambaran apa maksudnya???? Oke, abaikan!!

Film bergenre romance menurut gue adalah film yang *jeda sejenak* menarik... Dimana dari genre ini gue bisa tahu bagaiamana kehidupan percintaan, tentang sebuah perasaan, hati, dan tentang pengorbanan *nulis sambil nahan muntah*  dan terebih bagaiamana perasaan antara si cewek sama si cowok itu, kadang kalau gue bener-bener kebawa sama alur cerita dari film yang gue tonton, gue sampe..... Nggak bisa berkata-kata... Gue ngerasa bahwa itu tuh bener-bener nyataaaaaaaa, kayak.... Maygatttttttttttt.... Kelakuan ini persis kayak pas gue liat video klipnya Ed Sheeran yang Perfect, gue ngerasa bener-bener... Ya ampuuuuuunnnn so sweet bangeeeetttttt hahahahahahaa, sumpah, ketahuan kan aslinya gueeeeeeeeeeeee *nutup muka pake kesetttttt* Tapi bukan berarti koleksi film gue itu tentang romance semua, beberapa waktu lalu gue sempet nonton film dengan judul Third Person ini juga masuk romence sih *teteup* dan memang bergenre romance wkwkwkwk, film ini bener-bener keren bangeeeetttttt, meskipun kalau boleh jujur gue masih belum mengerti tentang ceritanya. Kalau dari pandangan gue sendiri ini tentang, hubungan rumah tangga tiga orang tokoh utama yang tidak bisa lagi di perbaiki dengan pasangan masing-masing *menurut gue lho yah* yang dalam cerita ini mereka pada akhirnya memiliki kehidupan lain di luar kehidupan rumah tangganya, baik dengan laki-laki maupun perempuan lain. Yang sebenernya, setelah kita nonton film ini sampai selesai, sebenernya ini merupakan imajinasi seorang penulis yang juga menjadi tokoh dalam cerita kehidupan 3 orang yang berbeda namun tetap berhubungan satu sama lain itu *lagi-lagi ini menurut pandangan gue lho ya*. Dan yang buat film ini keren karena film ini berlatar di tiga kota besar seperti Paris, Roma dan Manhattan. Dan dari tiga kisah yang ada disini yang buat gue tersentuh itu yang di pernakan sama Mbak Mila Kunis, dimana ada adegan yang bener-bener menguras air mata. Dan adegan itu waktu Julia (Mila Kunis) dateng ke rumah mantan suaminya buat ketemu anaknya, tapi nggak di bolehin sama mantan suaminya itu lantaran Julia (Mila Kunis) dituduh mencoba mencelakakan anaknya, sementara  menurutnya yang sebenernya terjadi itu nggak kayak gitu.. Dan yang buat sedih waktu mantan suaminya nyuruh Julia untuk ngaku bahwa tuduhan itu bener. Kalau dia mau ngaku dia bakal diizinin ketemu anaknya, Jesse. Alhasil Julia pun "mengakui" perbuatannya, padahal itu cuma akal-akalan mantan suaminya doang untuk ngebuktiin bahwa si Julia itu bener-bener melakukannya. Dan, setelah si Julia ngaku, mantan suaminya malah bilang "mulai hari ini, gue gak akan ijinin lo buat ketemu jesse" *kurang lebih begituhhhh* dan dia nyeret si Julia dari rumahnya buat keluaaaaaarrrrrr, pokoknyaaaaaa itu adegan paling sediiiiiiiiiiiiiiiihhhhhhhhh, waktu Julia menjeriiit-jerit, dia nangis waktu di seret-seret mantan suaminya, terus anaknya yang lari-lari buat ngejar si Julia yang lagi di seret-seret sama mantan suaminya... dan itu bener-bener... Pokoknya, coba deh tonton...

Nah itu cuma untuk Third person, selebihnya gue juga pernah kebawa banget sama film Notting Hill, sumpaaaahhhhh film yang di perankan Julia Roberts dan Hugh Grant itu bener-bener buat gue berhari-hari nggak bisa move on dari itu film. Dan kalau gue boleh jujur, hal yang buat kenapa gue punya 100 film yang belum ditonton itu ya karena gue seringnya itu nonton film yang gue suka sampe berkali-kali. Apalagi kalau film itu bener-bener keren. Kayak film Mother's day itu gue suka banget, bertabur bintang booookkkkk. Terus..terus..Bad Moms, Valentin's day, Still Alice, Blended, Me Before You, dan masih banyak lagi yang bener-bener masih bisa buat gue nangis maupun tawa terbahak-bahak dan itu pasti bakal gue tonton terus kalau gue bener-bener butuh hiburan.

Kemarin juga gue habis nonton film dengan genre Romance, di sabtu siang yang panas kemarin gue menghabiskan waktu libur sabtu terakhir ini *karena sabtu besok udah masuk kuliah lagi* dengan nonton film berjudul The 
Longest ride yang itu bener-bener keren banget. Gue sampe kebawa suasana waktu Ruth mau ninggalin Ira, disitu gue ngerasa... Apalagi yang lo cari Ruth, Ira itu sayang banget sama lo, dia itu cinta banget sama lo, lo gak mungkin dapetin laki-laki kayak dia diluar sana, yang begitu mendamba lo dan menerima lo apa adanya dan.. rela ditinggalin sama lo demi kebahagiaan yang nggak bisa dia kasih ke elo...
Dan begitulah gue... Film The Longest
Ride yang kemarin gue tonton itu memiliki 2 kisah tapi yang bener-bener gue suka itu kisah cintanya Ira sama Ruth, karena memang kisah cinta yang kedua kalau menurut gue untuk mempertegas aja bahwa sebenarnya cinta itu bukan tentang diri sendiri, tapi bagaimana kita mau untuk menerima kehiduapan pasangan kita kelak meski kita sendiri belum tentu bisa suka sama apa yang dia suka. Intinya sih ya MENERIMA satu sama lain.

Nah, habis nonton The Longest
Ride kemarin niatnya gue mau nonton lagi film yang lain di malem harinya, tapi karena gue emang nggak bisa nonton 2 film sekaligus dalam satu hari alhasil film kedua gak sampe habis dan gue malah milih buat tidur dan nggak lanjut sampe tuh film selesai. Abis otak gue mumet dengan cerita kemarin, sebenernya sih kalau pikiran gue lagi nggak butek gue bakal dengan mudah untuk nyelesain tuh film yang durasinya dua setengah jam itu, tapi karena otak gue bener-bener butek jadinya gue nonton sampe satu jam setengah tapi nggak fokus. Alhasil film yang harusnya bagus itu jadi meaningless di mata gue, kayak bagaimana maksainnya gue nonton Eat Pray Love nya mbak Julia Robert alhasil film yang harusnya punya banyak pesan itu malah boring di mata gue. Jadi, dengan berat hati gue akan menonton film itu lagi di kemudian hari ketika otak gue bener-bener bisa menerimanya.

Dulu, sebelum nonton ini menjadi hobby biasanya gue lebih banyak menghabiskan waktu gue dengan belajar gambar, baca novel, atau belajar untuk menjadi seorang penulis. Tapi berhubung gue sadar bahwa gue memang nggak punya bakat dalam menggambar *karena gue cuma bisa gambar gunung doang wkwkwkwk* akhirnya gue berhenti untuk belajar gambar. Baca novel? Sekarang masih sering gue lakuin dan kalau gue boleh untuk 'RIA' koleksi novel gue sekarang sudah buanyak banget, di luar buku2 motivasi, biografi dan buku umum. Meskipun begitu hal itu gak bisa buat gue berhenti untuk terus beli novel tiap kali ke toko buku wkwkwk. Bagaimana tentang menjadi seorang penulis? Ada moment dimana gue merasa hopeless tentang yang satu ini, ada saat dimana gue bener-bener "kayaknya emang nggak mungkin deh" lho? dan kadang gue juga berpikir, mungkin gue memang hanya sebagai penikmat hal-hal yang berbau tulis-menulis maupun art dan gak cocok sebagai creator, hal yang membuat gue akhirnya berpikir bahwa... yaudahlah, tapi meskipun begitu gue terus berusaha kok. maybe someday!

What your favorite film by the way?

Sunday, February 4, 2018

Manusia dan hati

Kadang di hati ada iri
Rasa yang sebenarnya tidak bisa dipungkiri
Ketika mereka yang kita lihat lebih tinggi
Dan muncullah rasa tak percaya diri

Tak tahu harus bagaimana bersikap
Tak tahu harus bagaimana bertindak
Rasanya,
Kepala ingin meledak
Hati ingin berteriak
Dan mata..
Mengeluarkan semua yang teredam dalam setiap emosi

Tuhan..
Inikah pertarungan hati?
Inikah pertarungan emosi?
Atau,
Semata-mata ego yang terlalu tinggi
Dan rasa yang tak dapat teratasi atas setiap kekalahan
Yang menghempaskan hingga titik terendah diri

Friday, December 29, 2017

Till The End


from google
Jika guncangan  itu mampu untuk menghempaskanku hingga jauh, hanya satu pintaku untuk itu. Jangan pernah pudar dari setiap alam bawah sadarku dan selebihnya aku akan baik-baik saja karenanya. Aku tahu rasanya terhempas oleh perasaan kehilangan, ketika satu per satu memoar memudar dan air mata tergenang. Tak satu pun kata berhasil ku ucapkan. Tak ada keinginan apapun untuk tinggal. Hanya gumpalan kepahitan yang ku biarkan menang. Dan lantas tangis! Aku benci kelemahan. Aku benci air mata. Dan aku benci menyadari bahwa satu per satu memoar yang telah sekian lama ku jaga luruh seiring waktu.

"Aku tak akan pernah melupakannya"

Itu janjiku selalu, ketika secara terang-terangan orang-orang terdekat mengatakan bahwa itu takkan berjalan dan menyarankan dengan raut wajah kasihan bahwa hidup harus terjus berlanjut, dan dengan tegasnya mereka mengatakan "sesuatu akan jauh lebih baik ke depan."

Aku diam, karena hanya itu yang bisa ku lakukan untuk setiap perasaan kasihan yang mereka timbulkan atas tindakanku yang sebagian orang katakan sebagai 'kebodohan'.

"Ikhlaslah Din, tak ada gunanya terus menanti. Itu tak akan membuatnya kembali" Kata Bagus suatu kali saat menjemputku di stasiun.

"Kamu tak tahu" Balasku tanpa sedikitpun menoleh.

"Aku hanya ingin menyarankan yang terbaik untuk kamu"

 "Aku tak butuh saranmu"

"Terserah" Kami terdiam. Aku melihat bagus mengatupkan bibirnya. Melemparkan pandangannya keluar jendela mobil yang di terpa gerimis. Aku tahu ia kesal.

Aku benci mendapati diriku berdebat dengannya karena kamu, tapi inilah hari-hariku sekarang, di buai perasaan kesal terus menerus, tentang komentaar-komentar tak berperasaan mereka! Bahkan Bagus, teman dekat kita, yang kamu tahu bahwa ia menyimpan hati padaku tak segan mengemukakan pendapatnya. Beginikah rasanya sayang, saat aku berdiri sendiri tanpa seorangpun yang berdiri di belakangku? Andai saja tak ada hari itu, tentu tak akan ada hari-hari seperti sekarang. Entahlah, mungkin memang seperti ini jalan yang harus aku temui.

"Selalu ada pelajaran yang bisa di petik dari setiap kejadian"

Pesan itu lah yang selalu ku dengar dari setiap orang yang menaruh kasih padaku, bahkan Rebecca, sepupu yang begitu mengasihiku menasihatiku seperti itu, hal yang lantas mengingatkanku kembali pada sosokmu setiap kali aku berkeluh kesah tentang hari yang berjalan buruk, tentang client yang meremehkan serta merendahkanku. Dulu, kata-kata itu selalu terdengar indah, sampai aku mengerti bahwa kata-katamu hanya sebatas kata-kata yang entah kau kutip dari mana. Bulshit!

Lantas bolehkah aku bertanya seperti biasanya sayang? Untuk ini apa yang bisa ku petik? Dari kekesalanku, keputus asaanku, amarah, dendam, dan mungkin sabar yang sekian lama ku utamakan. sabar ini untuk apa sayang? Untuk mengikhlaskan diri menjadi bahan gunjingan, huh?
Kamu tahu, aku menutup mata dan telinga atas hal-hal mengerikan itu. Melemparkan kemarahan serta melupakannya di dalam kepalaku seorang. Sempat terpikir untuk pergi, tak kembali! Tapi bayangan tentangmu yang ku tinggalkan sendiri membawa langkahku untuk pulang dan mendatangimu lagi dan lagi. Menangis di atasmu dan berjanji kembali tuk tetap berada di dekatmu. Aku tak peduli betapa berharganya London untukku kala itu, atau bagaimana perjalanan panjang yang telah ku rencanakan sejak tahu bahwa mimpiku adalah membangun kehidupan disana, seperti Rebecca yang kini mewujudkan mimpinya dengan tinggal di California. Tapi aku tak ingin menghabiskan waktuku dengan tinggal di Amerika, entah kenapa London lebih sesuai denganku, dan aku ingin kesana. Terlebih dengan dorongan darimu bahwa kita bisa memulai hidup disana, hal yang semakin membuatku percaya bahwa disanalah kita akan tinggal. Tapi kenyataan yang kudapati membuatku tersentak dari mimpiku, aku tahu kamu tak akan mungkin pergi denganku. Tak akan pernah!

Setelah kenyataan yang ku dapati, keinginan untuk pergi semakin kuat. Aku ingin pergi meninggalkan bayangan pahit akan sosokmu! Aku ingin pergi sejauh mungkin, ke tempat yang tak akan pernah membawaku pulang! Namun, membayangkan dirimu sendiri tanpaku membuatku sesak! Seketika bayangan itu muncul, bayangan dirimu yang terkapar di kamarmu dengan jendela tertutup, kamar yang pengap lantaran pendingin udara yang dalam keadaan mati, dan badan yang sudah terkapar tak berdaya membuat tunbuku berguncang, dan pikiranku menarikku untuk pulang kembali. dan disinilah aku sekarang... Rumah kita.

Ku buka kembali surat yang kau tinggalkan, dimana di dalamnya tertulis sebuah pesan untukku agar bisa berjalan tanpamu. Aku lemas, namun suratmu selalu memberi kekuatan lain untukku, meski kekuatan yang menyergap tak bisa membawaku ke keadaan yang lebih baik.

Aku membaca semua! Bagian dimana kau ungkapkan tentang kehilangan mendalam akan sosokku yang kau tinggalkan sendiri, tentang rasa menyesal yang teramat akan kekeliruanmu, juga,... Tentang dia. Aku membenci membaca bagian terakhir, tapi disinilah semuanya bermula, tentang bagaimana awal pertemuanmu dengannya hingga hari demi hari yang kau habiskan bersama dia! Sesekali aku tersenyum kecut, lantas melempar surat-suratmu hingga bertebaran di sekeliling kamarku. Berteriak. Menjerit. Dan meringkuk sendiri di lantai, menangisi masa lalu yang pahit. Selalu seperti itu moment membaca setiap kata yang yang kau tuliskan untukku, tak pernah berakhir lebih baik. Aku tahu, meski emosi sempat menguasaiku dengan berlebihan, setelah kesadaran itu kembali, aku akan terbangun dan mengumpulkannya satu demi satu. Karena aku sadar, itulah satu-satunya yang kau tinggalkan untukku, Pengakuan!

".....aku hancur, melepaskanmu adalah hal terburuk dalam hidupku, pun menyadari kepergianmu membuatku sadar, bahwa kamu mungkin tak akan pernah mau melihatku lagi. Aku tak menyalahkanmu, kamu berhak untuk pergi, kamu berhak untuk tak memilih mendengar setiap penjelasanku, namun menyadari bulan demi bulan tanpa kabar membuatku sadar, bahwa kamu tak akan pernah mungkin datang kembali sekedar untuk mengambil barang-barangmu yang masih tertinggal. Aku menyesal, untuk semua sakit hati yang kamu rasakan. Aku menyesal untuk setiap kebohongan yang pernah ku lakukan dan untuk itu, aku memilih untuk tak pernah lagi membuatmu kecewa....

Inilah caraku, membiarkanmu pergi... Jangan tanya perasaanku setelahnya, karena kamu berhasil menghancurkanku dari dalam, membuatku terbunuh oleh perasaan bersalah yang terus menghantui seiring berjalannya waktu....

Kamu memang berhak untuk pergi, berhak untuk tidak kembali. Karena aku mengerti sakit yang telah ku ciptakan untuk itu, karena kini aku membayarnya. Rasa sakitnya mungkin tak sama seperti yang kamu rasakan, namun melalui malam demi malam menunggumu kembali hanya membuatku lelah. Kau tak pernah kembali! Bahkan sekedar mendapati pesanmu pun aku tak pernah! Kau menghilang dan parahnya dunia seolah berkonspirasi untuk menyembunyikanmu dariku....

Jika itu caramu untuk melupakan semua yang pernah aku lakukan, maka cara ini yang aku pilih untuk tidak mengecewakanmu untuk kesekian kalinya. Inilah caraku untuk tak menyakitimu lagi dan lagi.

Kini, aku tahu bahwa kamu satu yang terbaik yang telah Tuhan berikan untukku, dan aku menyesal untuk setiap kekecewaan yang telah kamu terima.....

dan,

I just want to see you
When you'r all alone
I just want to catch you if i can
I just want to be there
When the morning light explodes
On your face it radiates
I can't escape
I love you 'till the end........."

Kamu tahu, aku membencimu seperti yang kau tahu tapi hatiku menyayangimu lebih dari rasa benci itu. Andai kau berusaha lebih keras untuk menghubungiku, dengan senang hati aku akan menurunkan egoku dan memulai semua kembali di tempat yang jauh dari masa lalu kita yang pahit. Tapi, semua sudah terlambat bukan? Sudah tak ada yang perlu di sesali, kau telah memutuskan untuk tak lagi menyakitiku. Kini, hanya aku yang perlu waktu untuk bisa menerima bahwa kenyataan tak lagi sama.
Pernah suatu kali aku berpikir, akankah kau tetap tinggal jika aku tak pergi? Tapi mendengarkanmu bercerita tentangnya bukannya justru akan membuatku semakin sakit? Karena... Mendengar tentang hubunganmu dengannya dari orang lain saja membuatku begitu terluka lantas bagaimana perasaan itu akan lebih baik jika kau yang mengakuinya sendiri. Tentang malam-malam yang telah kalian lewati bersama ketika tak ada aku disisimu.

Untuk hatiku yang hancur, untuk marah yang kupendam, untuk kecewa yang kau torehkan, untuk hadiah perselingkuhan yang kau berikan, juga untuk setiap pengakuanmu yang dalam, aku ingin mengatakan bahwa, kematianmu tak mengubah apapun. hatiku masih tetap sama. sakitnyapun masih tetap sama. Dan rasa sayangkupun masih tetap sama, meski tak sedalam dulu, ketika tak ada orang lain dalam hidupmu yang membuatku terhempas.