Wednesday, April 22, 2020

Gue hari ini, tanpa sosial media!

Photo by Pixabay from Pexel
"Nani, lo blokir gue di Facebook ya? Kok gue cari Nama lo nggak ada" begitu kata salah satu temen gue yang ngeh kalau gue sudah menghilang dari Facebook beberapa bulan lalu. Dan gue cuma respon itu dengan senyum yang gue usahakan semanis sirup Marjan rasa melon yang nggak ditambah air (ueeekkkkkzzz, gilakkkkk gue nggak bisa bayangin bakal semanis apa itu🤢) alias manis banget, sambil gue jelasin kalau gue sudah hapus akun Facebook gue, iya, HAPUS, bukan lagi di nonaktifkan untuk sementara waktu melainkan benar-benar di hapus. Dan sebenernya nggak hanya itu, gue juga memutuskan untuk hapus akun twitter😁 

Gue sadar bahwa selama ini gue ini bukan orang yang ditunggu kehadirannya, gue bukan orang yang bisa memberikan pengaruh pada kehidupan orang lain, Dan gue juga bukan orang yang suka membagikan apa-apa ke sosmed, jadi dengan itu semakin membulatkan tekad gue untuk menghapus dua jejaring sosial tadi. Lagian juga, gue males punya kehidupan "lain" di sosial media, males repot-repot pilih foto terbaik untuk di unggah ke sosmed, males mikir caption apa yang bakal gue sematkan dalam foto yang gue unggah, sesuatu yang semuanya gue lihat dari lingkungan gue pribadi (dari temen-temen gue😊). Udah nggak asing buat lihat temen-temen gue yang foto berkali-kali cuma buat cari yang terbaik untuk di upload ke sosmed, udah sering juga lihat temen yang cari Quote menarik di gugel buat caption dari foto yang mau di unggah. Dan, itu kenyataan yang ada kan? Jujur, gue juga pernah kok berada di fase itu, pernah menggilai like, claps, upvote, love, Retweet, apalagi deh? Wkwkwkwk. Tapi semakin kesini, gue mulai memaknai bahwa "apapun yang terjadi sama gue ; baik maupun buruk, cukup gue dan orang-orang terdekat gue yang tahu. Nggak ada foto perjalanan yang di publish, nggak ada foto kumpul bareng temen-temen yang di posting, dan telan semuanya sendiri"

Dulu, jaman gue masih duduk di bangku SMK gue pernah mengidolakan salah satu public figure, gue suka banget sama dia soalnya yang gue perhatiin nih orang pinter banget gitu, jadilah gue suka. Sebagai penggemar gue itu sering banget cari tahu tentang dia lewat semua sosial medianya, cuma memang sosial media dia hampir semuanya terkunci kecuali Instagram, tapi menariknya dia juga nggak pernah posting foto dia di Instagramnya, foto yang ada dianya bisa dihitung jari dan itupun hampir semuanya foto dia baremg teman-temannya. Jadi dari hampir 40 foto yang ada di Instagramya pada saat itu lebih ke foto suasana matahari terbit, foto gambar suasana kebakaran di pemukiman penduduk di Jakarta, semacam itulah. Dulu, gue selalu bertanya-tanya mendapati itu "kenapa sih nih orang kok kayaknya tertutup banget" "kenapa sih dia nggak pernah posting foto sendiri" dan pertanyaan lain. Sampe yang buat gue nggak habis pikir itu adalah... Dia bahkan nggak memposting foto pernikahannya, tahu-tahu gue lihat foto yang 'mentag' dirinya pas akad nikah. Gilakkkkkkkkkkkk nggak? Tapi akhirnya gue ngerti bahwa nggak semua orang itu suka mempublikasi kehidupan pribadinya ke sosial media. Dan orang yang gue kagumi itu salah satunya😊

Hidup kita biar kita dan orang-orang yang kita izinkan aja yang boleh tahu, dan biar mereka yang kepo sama kita berasumsi sendiri tentang kehidupan seperti apa yang kita jalani *Anjirrrrrrr keren banget ya kata-kata gue, udah bisa kali nih buat program Talkshow😋*

Ya seperti itu. Jadi gue memilih untuk keluar dari hingar bingar sosial media😊 gue memulainya dengan nonaktifin Instagram waktu gue menginjak semester 6 (walau ujung-ujungnya diaktifin lagi buahahahahaha) kemudian disusul dengan penghapusan 2 akun Facebook + Twitter, dan Instagram gue usahakan menyusul. Blog? Nggakkkk dongssssss. Gue sepakat untuk hanya menyisakan blog. Kenapa? Karena nggak semua temen gue tahu gue punya blog, diluar itu sekalipun ada yang tahu mereka juga belum tentu mau baca tulisan panjang lebar dan nggak bermanfaat ini kan? Jadi nggak apa-apa😋 (sebenernya bukan ini alasannya🤣)

Hidup tanpa sosial media itu beneran lebih keren (menurut gue lho) soalnya gue jadi nggak main bandingin gitu aja kehidupan gue sama kehidupan orang-orang disana, gue jadi nggak mudah minder karena mereka bisa melakukan ini dan gue belum, terus gue nggak harus iri sama keberhasilan orang yang gue nggak tahu bagaimana kisah di balik kesuksesan itu, dan gue juga nggak membuang-buang waktu dengan scroll down feed sosial media untuk lihat apa yang terjadi dengan orang-orang yang ada disana. Diluar itu gue juga emang nggak begitu aktif sih di sosmed, jadi mudah aja buat cabut disana tanpa merasa ada yang tertinggal🤣

Dengan tanpa sosial media gue jadi lebih menikmati kesendirian, saat gue mengunjungi tempat-tempat yang menurut gue keren kepala gue nggak penuh dengan berbagai kata-kata yang berlomba-lomba kepingin dikeluarin dalam bentuk status atau caption. Gue menikmati saat kumpul sama temen-temen gue tanpa berusaha mengalihkan kejenuhan dengan cek sosial media, gue nggak pernah lagi mikirin foto apa yang kiranya bagus buat di pampangin di sosial media gue. Sekarang gue lebih suka menyimpan itu sendiri atau bahkan langsung gue ceritain ke temen-temen. "Eh kemarin gue pergi ke Z, tempatnya keren lho, di sepanjang jalan banyak tukang jajanan🤣 terus aksesnya gampang, bagus kalau bawa kamera soalnya banyak objek foto disana, minggu besok kesana yuk" dan kemudian, gue juga nggak merasa aneh saat duduk bengong di transportasi umum tanpa mainin HP, gue jadi nggak aneh saat kemana-mana nggak bawa HP. Normalnya kan saat kita nggak bawa HP itu rasanya pasti aneh, cemas, nggak tahu harus ngapain, linglung, kayak gitu-gitu kan? Nah ini enggak, B aja. Karena dengan tanpa sosial media atau bahkan HP gue jadi lebih punya banyak waktu untuk mengamati hal-hal menarik di sekitar gue, kayak liatin gaya berpakaian orang (untuk ditiru kalau menurut gue menarik😂), dengerin obrolan mereka, liatin suasana jalan diluar, dll, bahkan di tempat-tempat tertentu gue berani buat ngobrol sama stranger lhoooooo (meski ini jarang banget sih wkwkwk)

Sekarang nggak ada lagi kalau kemana-mana harus cek berkali-kali gue udah masukin hp atau belum ke tas? Karena jalan tanpa hp pun oke-oke aja (karena yang terpenting tuh, BAWA DUIT)

Susah nggak sih keluar dari sosmed? Menurut gue awal-awalnya aja yang susah, karena kita kan udah terbiasa hidup dengan sosial media jadi pas coba lepas itu susah, tapi lama-lama justru biasa aja. Buktinya gue, gue udah +- 4 bulan delete Facebook dan Twitter(lupa tepatnya kapan) dan udah nggak ngerasain apa-apa, bahkan gue nggak inget pernah punya Facebook or Twitter wkwkwk. Cuma, ya gitu, gue harus lebih aktif cari informasi apapun lewat Gugel, gue nggak tahu apa yang jadi trending topik di sosmed, dan itu yang dulu buat gue aktifin Instagram lagi, karena salah seorang temen bilang "Lo tuh anak komunikasi ni, jangan ansos gitu" dan kemudian ada statement salah seorang dosen yang akhirnya mendorong gue untuk aktifin lagi Instagram. Tapi kemudian gue pikir lagi "toh selama ini sosmed gue kan di privasi, jadi mau gue aktifin lagi pun nggak akan berdampak apa-apa karena gue cuma share ke temen-temen gue" alhasil gue masih tetap aktifin tapi nggak pernah posting dan jarang di buka. Yah pernah sih posting, tapi lebih ke posting foto-foto yang gue ambil dari kamera, itu karena gue selalu gendong-gendong kamera kemanapun pergi🤣

Jadi menurut gue, keluar dari sosial media bukan hal yang sulit buat gue. Gue bisa tanpa sosial media. Cuma.... Gue masih bertanya-tanya, bisa nggak yah gue hidup tanpa smartphone seenggaknya untuk 2 minggu? Yah, mungkin suatu hari nanti itu wajib di coba😁

Sunday, April 19, 2020

Berhenti sementara dari Whatsapp

Yap. Lu orang tidak salah baca. Gue akhirnya berhenti sejenak dari hingar bingar per WhatsApp-an yang sulit sekali untuk ditinggalkan apalagi saat gue menyadari bahwa gue masuk dalam taraf sudah sangat ketergantungan dan merasa benar-benar membutuhkan, rasanya tuh kayak.... Aduh bisa nggak yah? Nanti kalau temen-temen ngabarin tugas tambahan dari dosen gimana? Nanti kalau gue ketinggalan informasi dari kampus gimana? Nanti kalau kakak-kakak sepupu gue chat penting gimana? Nanti kalau.... Nanti kalau.... Pokoknya banyak banget deh pertimbangannya. Tapi akhirnya.... Gue mencobanya. Gue nggak akan pernah tahu apa yang akan gue dapet tanpa gue mencoba itu. Nggak mungkin kan cuma ngebayangin aja dan tahu gimana rasanya? Luar biasa sekali kalau bisa kayak gitu wkwkwk.

Sebenernya kalau boleh jujur, ini adalah hal yang bener-bener gue inginkan sejak lama. Gue sudah menggadang-gadangkan hal ini tuh sejak gue merasa nggak kuat dengan segala macem hal yang gue dapet dari WA. Perenah nggak sih lo merasa bahwa aplikasi ini menguras banyak perhatian lo untuk sesuatu yang  bahkan itu nggak jelas, grup yang nggak jelas, percakapan yang nggak jelas, hal-hal nggak jelas lain yang kadang buat berpikir, gini ya sosial media? Begini ya ternyata rasanya hidup di zaman kayak sekarang? Mudah banget ya orang-orang berbagi apa-apa di whatsapp story? Astagaaaaa, ngomongin Whatsapp Story gue itu sampe nggak habis pikir, masak nih ya, ada temen gue yang share foto duit 1 tas penuh di WA story. Sumpah itu gue sampe "wah nih anak bener-bener ngundang maling" mereka tuh kayak nggak sadar gitu kalau orang-orang di dalam kontak mereka bakal liat itu, dan kalau yang liat itu lagi butuh duit dan punya jiwa rampok gimana????????????? oke lupain, itu terserah mereka!!!

Nah dari hal itulah gue berpikir untuk tahu, gimana sih kehidupan gue tanpa Whatsapp? Gimana sih rasanya hidup tanpa rasa khawatir yang berlebihan? Gimana sih hidup seperti dulu dan nggak terdistraksi dengan notif, nggak punya perasaan cepet-cepet pingin cek hp saat jenuh, nggak cemas nunggu balasan dari orang yang gue chat, nggak butuh tanggapan atas apa yang gue lakuin lewat story, nggak cemas dianggap A B C D Z yang nggak jelas, dll. Dan pada akhirnya gue merasakannya selama 2 hari kemarin, dan itu sangat aneh! Awalnya aneh, sumpah, aneh banget. Biasanya tiap hari beberapa kali cek hp cuma liat apakah ada pesan masuk atau nggak dan kemarin gue cek hp untuk mendapati bahwa sudah nggak ada aplikasi WA disana. Astagaaa, WA gue kemana???????????  Sumpah itu goblok banget deh, karena bener-bener kayak orang sinting gitu. Ada yang hilang. Kayak orang tersesat dan gue cuma geser menu dari kiri ke kanan dari kanan ke kiri untuk memastikan bahwa "yah gue udah hapus".

Photo by Torsten Dettlaff from Pexels
Shortcut yang biasanya menjadi letak whatsapp gue ganti dengan IPUSNAS. Tapi jumlah kunjungan gue ke ipusnas nggak jauh lebih banyak dibanding jumlah kunjungan gue ke whatsapp dan itu bener-bener buat gue sadar bahwa selama inipun gue jadi males baca karena banyak waktu gue tumpah ruah ke aplikasi yang di akuisisi sama facebook ini. Yah, meskipun di hari keduanya gue sudah mulai B aja, tapi gue juga masih belum bisa menghilangkan niatan untuk "batalin aja kali ya" tapi akhirnya nggak dan gue bisa lewati itu. Cuma pas gue buka laptop dan ada aplikasi whatsapp gue langsung...... BUKA NGGAK YAKKKKKKKKK? dan, gue berjuang sekarang karena gue lagi duduk manis di depan laptop sambil nulis ini wkwkwk.

Hari ini adalah hari ke 3, dan gue masih punya waktu sampe tanggal (mikir) 1 mei untuk kembali aktif lagi di hingar bingar whatsapp, itu pun kalau gue nggak salah hitung ya, soalnya gue punya pemahaman lebih baik lebih daripada kurang jadi yah, gue bakal kembali ke whatsapp tanggal 1 mei. 11 hari lagi ya???? wah, kerennnnnnnnnnnnn. Nanti gue akan share apa sih yang gue dapet dari sana, apakah gue bisa mengurangi ketergantungan, akan dingin dengan whatsapp (yakali), atau gue akan semakin menggilainya. Yah gue harap sih, gue akan bersikap dingin ke WA persis kayak kalau gue udah nggak suka sama orang wkwkwkwkwk.

14 hari itu bukan waktu yang lama dan gue nggak tahu itu akan membantu atau nggak, tapi setidaknya gue berani untuk mencoba keluar dari ketakutan gue terisolasi dari dunia semu itu. Well, sampai jumpa di tanggal 1.... Bis bald mein freund!!!!

Sunday, April 5, 2020

Ngomongin dosen (lagi)

Lo tahu nggak? Pak Miguel itu masih jadi momok buat mahasiswa yang pernah ambil matkul yang di ampunya lho, masih jadi momok buat mahasiswa yang bakal jadi mahasiswa bimbingannya, masih jadi momok buat mahasiswa yang harus ambil matkul dia, pokoknya begitulah. Jujur, awalnya nggak menduga bahwa pada akhirnya akan di pertemukan lagi setelah beberapa minggu sebelumnya sempet ngeledekin temen gue yang kebetulan dapet Pak Miguel sebagai dospem... Rasanya tuh antara nggak percaya sekaligus lucu gitu pas tahu kalau temen gue bakal ketemu dirinya lagi, soalnya beberapa minggu lalu dia itu cerita pengalamannya ambil kelas Pak Miguel dan itu sampe buat gue kaget, "hah! Beneran tuh?" Karena begitu luar biasanya cerita temen gue. Dan yeah, akhirnya dia di hadapkan lagi sama Pak Miguel, dan.... Gue jugak.

Tapi jujur nih ya, Pak Miguel itu ASLIIIIIIII pinter banget. Sumpah ini bukan ledekan, ini serius. Pak Miguel itu pinter atau mungkin cerdas kali ya, nggak ngerti deh. Intinya sih gini, kalau di perhatiin cara dia nyampein materi di depan kelas itu bagus. Coba perhatiin deh! Perhatian dia ke mahasiswanya itu penuh. Jadi cara dia ngajar tuh kayak "eh, lo perhatiin kalau mau ngerti oi" gitu, tapi nggak yang begitu. Maksudnya, saat dia lagi jelasin dan lihat ada anak yang sibuk sendiri atau nggak konsen dia bakal nanya "kamu yang lagi chat disana, apa maksud dari yang saya jelasin ini..." Dan mereka yang ditunjuk pun gelagapan. Yah, ketahuan kan nggak merhatin😂 diluar itu cara jelasin pak Miguel itu bener-bener menarik. Gue baru menyadari itu saat gue memperhatikan itu dengan seksama😋 karena gue bener-bener menikmati banget, 2 jam penjelasan dan itu nggak berasa sama sekali, bayangin!

Well, kenapa gue membahas Pak Miguel? Ya, itu karena gue dapet matkul yang diisi sama dia semester ini. Sumpah demi apapun, gue melongo dongo waktu cek jadwal kuliah dan nama dirinya terpampang untuk 1 matkul. Yaampun! Ini nggak salah? Dan seperti yang sudah bisa di duga, NGGAK SALAH!!!!! aduh tugas apa lagi nih yang bakal gue terima? Aduh! buku dia yang mana lagi nih yang harus di beli? Aduh! tugas nggak masuk akal apalagi nih yang bakal bikin kepala gue cenat-cenut, aduh elearning sama dirinya ngapain ya? Quiznya bakal gimana ya bunyinya? Dan pertanyaan lain tentang dia pun bermunculan. Pada saat itu gue masih belum terima kenyataan dan kalau boleh jujur sampe sekarang pun gue masih belum terima kenyataan 🤣 tapi yasudahlah diterima aja, toh Pak Miguel itu Keren kok. Pinter!

Tatap muka pertama dengan beliau itu di buka dengan ketidak percayaan, iya, sebagai mahasiswa yang nggak peduli-peduli banget sama dosen, malam itu gue lihat ada perubahan sama dirinya, badannya Pak Miguel tuh beda banget sama yang terakhir kali gue liat dulu. Sekarang tuh badannya agak kurus gitu. Terus, apa lagi ya? Oiya, dirinya nggak sengeselin dulu😊 bercanda! Pokoknya beda lah.

Tapi untuk tugas-tugas nyebelin yang dia kasih masih tetep sama, selalu mengarah pada DIRINYA. Hal itu bisa dilihat dari tugas besar 1 kita dikelas itu yaitu.... jreng.... jreng... jrrreennnnngggg....! buat resensi buku dirinya. IYA, RESENSI. kita bisa buat dalam bentuk resensi biasa atau bisa juga dalam bentuk jurnal. Yang terpenting hasil dari resensi atau jurnal itu harus di publish ke MEDIA. Apa???????????????????? Media??????????? Iya media!

"Pak tolong, saya itu bukan Leila S Churdori" Heh? Astagaaaaaa, tuh dosen ngira kita ini jago banget nulis Kali ya. Tolong pak! Pengetahuan saya tuh cuma sebatas nulis status goblok di WA. Saya aja nggak berani menghadap calon dospem saya karena proposal, ah, menyebalkan! Dan..... Itu apalagi maksudnya? Media? Sejenis portal berita gitu? Atau apa? Hah? Astagaaaaaa pak... Media apaaaaaaaaaaaa? Susah kali tembus ke media kalau.... Kalau..... Yah ngerti lah maksud gue 😋

Oke kita lupaka dulu sejenak megenai media.., Gini... gini... Lo tahu resensi kan? Lo tahu kalau resensi itu harus baca bukunya kan? Nah ini aja udah jadi masalah nih di bagian ini.... masalahnya gini, buat resensi novel aja gue nggak bisa apalagi resensi buku pelajaran, udahnya tebel, terus lo harus faham kekurangan, kelebihan, sama manfaatnya. Sementara sampai hari ini gue aja belum pernah menghatamkan buku pelajaran dan untuk buku yang harus di buat resensi nya aja gue nggak tahu isinya gimana karena gue belum beli bukunya😋 Ya Allah pak, kira-kira dong Pak, kan Kita nggak cuma ambil matkul bpk aja *tiba-tiba mulai...*

Nggak sampe disitu, karena matkul ini adalah elearning jadilah tiap minggu itu gue harus isi forum + quiznya kan? Nah, quiz dari dirinya ini nih yang buat gue sering sakit kepala, coba lo lihat nih :
Nih kayak gini quiz yang dikasih Pak Miguel tiap minggu nya🙄
*Tarik nafas* bisa nggak sih lo bayangin gimana Pak Miguel ini bener-bener cerdas banget. Astagaaaaaa, dengan tugas kayak begini gue tuh harus bener-bener mempergunakan otak gue sesuai dengan keharusannya ; baca semua modulnya (dari module pertama sampe module di minggu ini), nolak balik antara module satu sampe yang terakhir di upload, dll, pokoknya PR banget lah. Gue dengan kapasitas otak gue ini kadang sampe tumbang karena harus berpikir keras untuk jawab soalnya. Gue kadang kepikiran buat ngibarin bendera putih dan bilang... Yaudahlah pak, bpk menang.

Mungkin nih, mungkin aja ya... Kalau pak Miguel ini isi matkul yang gue suka kayak etika filsafat atau komunikasi politik tentu gue bakal suka sama cara ngajarnya, tapi sayangnya matkul yang dia isi itu nggak gue suka. Jadi, gue benar-benar merasa,... Itu beban. Tapi diluar itu, pak Miguel itu keren👍

Thursday, March 26, 2020

Akhirnya gue kena tilang!!!!!!


Percaya nggak kalau sebelum kena tilang gue itu selalu bertanya-tanya tentang bagaimana perasaan orang-orang yang kena tilang, mengapa mereka minta damai di tempat, mengapa mereka puter balik dan justru membahayakan diri, mengapa mereka males dateng untuk ikut sidang, kenapa dan kenapa lainnya? Dan akhirnyaaaaaa, semua terjawab saat beberapa waktu lalu gue kena tilang pas mau ber angkat kuliah wkwkwkwkwk. Astagaaaaaaaa, itu beneran kocak. Sumpah kocak banget.

Entah itu karena gue lagi apes atau mungkin karena alam bawah sadar gue terus merekam cerita sepupu gue yang kena tilang dan minta gue temenin dia ke kejari jaksel atau karena cerita temen gue satu minggu sebelumnya yang bilang dia harus nego panjang lebar sama polisi waktu kena rajia di deket tol atau apaun itu, intinya hal itu akhirnya menarik gue ke situasi dimana gue akhirnya kena tilang. Sebenernya itu salah gue sih, mau gue menaati rambu-rambu lalu lintas kayak apapun kalau gue nggak bisa menunjukkan SIM tentu salah dong  *yaiyalah* dan pada akhirnya di hari sabtu itu gue pun terjaring rajia di pinggir jalan, di berhentikan bapak polisi, dimintai surat-surat, dan kemudian gue dapet surat cinta warna biru dari bapak polisi *Asik, dapet surat cinta* Surat cinta yang berarti gue mengakui bahwa diri gue bersalah atas apa yang gue lakukan. STNK dakupun disita.
Tapi menariknya, waktu gue diam aja dan ngasih STNK gue dengan Cuma-Cuma ada salah seorang yang terjaring rajia juga dan bilang......

“pak gini, tadi saya udah telepon pak..... dia dishub di bla...bla...bla...”

Gue lihatin dong tuh orang yang lagi berusaha nggak mau ditilang, dan akhirnya gue merhatiin polisi yang lagi berdiri di depan gue, pokoknya gue merhatiin mereka berdua secara bergantian dengan tatapan gue yang polos tapi terkesan menilai dan bahaya, asekkkkkkkkkkkk. Saat gue lagi melihat mereka dengan tatapan gue yang kalau di terjemahin “hayoooooooooooo ada apa nih, mau main kucing-kucingan yakkkkkkkkkkkkkkkk” polisi itu pun ngeliatin gue dan bilang ke bapak yang lagi berusaha itu dengan :

“nanti pak, tunggu dulu....”

Oiya, ada lagi yang menurut gue menarik. Jadi, waktu gue dimintain surat itu gue kan langsung cari-cari dompet kecil yang isinya kartu-kartu kan, nah, disitu gue langsung serahin KTP + STNK, pas polisi itu lihat gue diam aja tanpa perlawanan, gue merasa polisi itu lagi nunggu sesuatu gitu.... soalnya ada adegan dimana gue itu ngeliatin dia dan dia ngeliatin gue.... mungkin karena dia pikir gue itu Mila Kunis kali ya.... atau..... hayo apa????? Wkwkwkwk. Dan setelah beres itu, setelah gue mengantongi surat tilang, gue pun langsung cabut, kemudian gue melihat ada beberapa orang yang ngobrol agak menjauh dari keramaian rajia dengan polisi-polisi disana, entah apa yang mereka bicarakan, anggaplah gue nggak tahu apa yang mereka bicarakan, dan biarlah itu menjadi rahasia antara mereka dan orang-orang yang lewat di pinggir jalan raya sana *bukan rahasia dong buk kalau dilihat banyak orang*

Ngomongin tentang tilang, beberapa waktu lalu tepatnya sebelum kejadian gue kena tilang, salah seorang temen yang nggak punya SIM nekat ke bogor kota dan sebenernya dia memang sering bolak-balik kesana, tapi di hari itu dia lagi apes karena di perjalanan dia kena tilang. Sebagai orang indonesia yang nggak mau ribet dia pun bilang gini ke polisinya

“aduh pak jangan ditilang, saya masih kuliah, anak kosan pulak” dan kemudian sang polisi pun mengajaknya ke tempat yang nggak ada pantauan cctv atau apa gitu (ini berdasarkan pengakuan temen gue lho) dan akahirnya mereka nego dan nego, sampai akhirnya temen gue bisa pergi setelah kasih uang 50rb. Bahkan sebelumnya gue juga pernah baca di Quora pengalaman-pengalaman orang yang pernah di tilang, dan pengalaman mereka itu lucu-lucu banget. Yang paling buat gue sampe senyam-senyum sendiri pas baca itu adalah pengalaman orang yang ditilang dan iya-iya aja....

“nanti ambil simnya disini.... hari ini..... jam segini”

Nah tuh orang iya-iya aja, macam gue tadi gitu... terus karena bingung polisinya bilang “ini jauh lho dari sini.... nggak apa-apa nih?”

“nggak apa-apa pak”

“nggak mau di bantu aja”

“nggak perlu pak”

Sampe akhirnya saking gemesnya mungkin ya, tuh polisi akhirnya nggak jadi nilang.... kan kocak ya?????? Astagaaaaaaa, nanti gue kalau surat-surat motor udah lengkap gue bakal praktekin ah kayak gitu wkwkwkwk. Eh, tapi gue surat-surat nggak lengkap aja tetep iya-iya aja kok :P

Oke.... setelah kejadian di hari selasanya gue pun dateng ke KEJARI untuk ambil STNK emak gue, karena bpk polisi yang nilang bilang jadwal sidang gue selasa. Yaudah lah, di hari selasa gue pergi ke KEJARI dong... sebelum gue pergi ke KEJARI gue juga sempet baca-baca tentang tilang gitu, apa yang harus gue lakukan di KEJARI, apakah gue harus mengikuti sidang? Apakah gue Cuma bayar? Terus berapa kira-kira uang yang harus gue bayarkan? Dan setelahnya gue pun cek website kejari, dan cari nama gue disana apakah sudah muncul apa belum, dan belum ada.... tapi dari situ gue tahu cukup banyak informasi juga. Dan dari situ pulak gue tahu kalau ternyata biaya tilang itu nggak besar-besar banget. Kok gue tahu? Iya, gue liatin daftar nama-nama orang yang kena tilang, surat apa yang di ambil dan berapa biaya untuk penebusannya. Kurang kerjaan yah gue, well, nggak Cuma lo aja kok yang bilang gitu wkwkwkwk.

Nah di hari selasa itu setibanya di kejari gue langsung ngumpulin surat tilang gitu + fotocopi KTP, kalau nggak ada fotocopi KTP juga sebenernya nggak apa-apa kok, Cuma nanti di surat tilang lo harus tulis NAMA LO pake huruf KAPITAL, udah itu aja. Setelah itu tinggal nunggu nama lo dipanggil. Bayar. Selesai. Astagaaaa, simpel banget kan??????????????? Iya simpel. tapi, karena banyak yang nggak tahu bahwa ambil STNK/SIM di kejari semudah itu, banyak juga yang akhirnya mau aja di caloin sama oknum-oknum yang ada di parkiran sana. Oknum-oknum yang menawarkan kemudahan. Dan yah gitu, kongkalikong gicuuuuuuuuu.

Setelah gue nunggu (nggak terlalu lama) nama gue dipanggil. Pas gue ke loket pembayaran si petugas bilang “mbak, jadwal sidangnya bukan hari ini, jadi STNKnya belum ada disini” gue pun MELONGOOOOOOOOO GOBLOKKKKKK. Setelah melakukan pembelaan dengan bilang kalau polisinya bilang selasa ini, si petugaspun nyaranin gue untuk ke Polresta aja buat cek, karena kalau belum di sidang biasanya masih ada di Polresta semua. Setelah mendapati itu gue nggak langsung pergi, gue masih duduk-duduk disana, dengerin orang ngobrol, dengerin orang nanya-nanya biaya satu sama lain, dengerin orang nanya apa aja surat yang disita, dengerin orang yang nanya-nanya kenapa mereka di tilang dsb. Akhirnya gue tergelitik buat nanya ibu-ibu disamping gue tentang kenapa dia ditilang, ternyata dia bilang kalau suaminyalah yang kena tilang, SIMnya diambil. Ibu-ibu itu pun nanya gue akhirnya terjadilah komunikasi antara gue sama si ibu, gue cerita kalau STNK gue belum ada disini, karena jadwal sidang gue itu harusnya tanggal 24 dan gue nggak lihat tulisan itu di surat tilang lantaran ada di bawah berwarna biru, SEWARNA sama kertas tilangnya. Atau kenyataan bahwa gue terlalu bersemangat dateng ke KEJARI WKWKWK.

“ke polresta aja dek, kamu ambil disana. Kemarin saya juga gitu, saya ambil STNK di polresta. Daripada bolak-balik kan? Gak ada bedanya disini sama di polresta, kalau disini 130rb disana jadi 150rb, dulu saya pikir selisihnya besar kan? Ternyata sama aja” kata bapak-bapak yang duduk disamping ibu yang tadi ngobrol sama gue (Ternyata ada yang dengerin obrolan kitah wkwkwkwk). Denger itu gue langsung ngobrol-ngobrol sebentar dan setelahnya izin pamit buat ke polresta. Yaudah gue  ke polresta, ternyata pas gue kesana STNK gue juga masih belum ada lantaran masih sama polisi yang ngerajia. Yaampun! Sebenernya ini bukan salah siapa-siapa, salah gue terlalu bersemangat untuk tahu apa aja yang harus gue tahu tentang tilang wkwkwkwk.

Nahhhhhhhhhhhhhhhhh, karena gue ke polresta, jadi gue dapet sesuatu yang menarik...... sangat menarik. Gue baru keluar dari gedung polresta. Jalan ke parkiran dan celingak-celinguk cari tempat adem buat order ojek. Tiba-tiba mata kecil gue melihat tempat yang pas buat nunggu ojek, tepat di bawah pohon, di pinggir jalan tentu sajahhhhhhhhhhhhhhhhhhhh dan kebetulan itu masuk kriteria gue. Udahnya adem rame pulak jadi nggak akan ada yang macem-macem sama gue wkwkwk. Disaat gue lagi sibuk buka handphone untuk order ojek tiba-tiba gue denger gini....

“tilang ya? Sini...sini...sini” terus orang-orang yang merasa itu langsung nyamperin oknum polisi itu, jadi langsung ada kumpulan kecil gitu disana “motor atau mobil? Motor 200rb, mobil 500rb” apahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh? Seketika gue langsung merhatiin dengan seksama apa yang gue lihat dengan mata kepala gue sendiri. Gue melihat orang-orang di depan gue merogoh uangnya dari dalam saku, dari dalam dompet, dan langsung di kasih ke polisi yang dengan begitu rakusnya ngambil uang dari mereka yang kena tilang itu. *tarik nafassss* padahal kalau mereka ambil sendiri di kejari nggak akan semahal itu. Dan setidaknya mereka juga bakal tahu bahwa sebenernya nggak seribet yang mereka kira. Dan tanpa mereka sadari mereka sama aja melakukan suap seperti orang di atas yang tiba-tiba telepon dishub karena nggak mau ditilang. Sebenernya apa hubungannya sih tilang sama dishub?? Gak habis pikir!

Btw ini lokasinya diluar gedung kejari. Di pinggir jalan. Di parkiran. Pokoknya diluar gedung lah. Dan yang menarik, abang-abang parkir disana juga mengarahkan orang-orang yang kebingungan untuk dateng ke polisi tadi. Jadi seperti yeah, you know lah, apa ya? Sama-sama tahu gitulah.

Sekarang nih, gue bilangin sama lo yangg merasa pernah nyogok atau dimudahkan dengan bayar...... nggak usah kesel kalau lo lihat koruptor dapet perlakuan beda di sel. Nggak usah marah kalau lihat berita tentang koruptor yang kejaring OTT dengan barang bukti sampe MILYARANN. Nggak usah ngata-ngatain dengan kata-kata nggak beradab bahwa negara ini adalah negara korup. Nggak usah sok-sokan jadi orang yang disusahin kalau ngurus apa-apa diribetin. Nggak usah yang merasa kesel kalau pernah di peras oknum karena kepingin dimudahin...... kenapa??????? Karena semuanya, SALAH KITAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!! Kita yang menjadikan hal ini semacam budaya yang mengakar dalam dan mendarah daging. Nggak mau ribet ya tinggal nyogok, nggak mau ribet tinggal bayar lebih, itu kenapa urusan apapun akhirnya jadi mahal karena sifat tadi. Itu kenapa segala sesuatu harus pake uang padahal seharusnya enggak! hal ini jadi mengingatkan gue sama mata kuliah etika dan filsafat komunikasi. Tentang materi yang pernah dibahas mengenai moral dan etik. Dari hal di atas menurut gue secara moral dan etik mungkin mereka melanggarnya. Perlu nggak sih gue jelasin definisinya????????? Nggak usahlah wkwkwkwk.
Yah, jadi kalau ternyata apa-apa kayak gini, ya itu karena elo begitu dan akhirnya jadilah seperti itu bukan seperti ini. Yah begitulah dan bukan begini. Kok???????????????????????

Udah ah.................... semoga kalian ditilang jugak ya........ inget, kalau ditilang jangan nyogok. Yang memberi dan yang menerima itu SAMA-SAMA SALAH. Daripada uangnya di pake nyogok mending dibayarin PAJAK AJA (eh terus uang pajaknya di korupsi deh wkwkwk, bercanda..... jangan baper, nanti cepet MATI lho wkwkwk)

Saturday, March 7, 2020

Alasan

Foto oleh Mugurel Photos dari Pexels
Kamu bukan satu-satunya yang meninggalkan penyesalan. Kamu hanyalah sebagian kecil dari setiap kepahitan yang lain. Yang kubiarkan pergi dari kehidupanku yang tak sempurna. Yang kupaksa berpaling dari rasa yang seharusnya tidak pernah ada.

Saat aku menunduk dengan air mata bergulir. Dan saat aku goyah hingga tak mampu berdiri tegak di atas kedua kaki. Kamulah yang kuingin tak ada disana. Kamulah yang kuingin tak melihatku lemah dan kecewa. Karena dari setiap masa lalu yang tak pernah nampak terang itu, kamulah satu-satunya penyesalan dan satu-satunya alasan; sikapku yang keterlaluan.

Friday, February 21, 2020

Aku tak suka mengingat

Photo by Jacub Gomez from Pexels

Aku tak suka mengingat
Dan tak ingin melakukannya

Itu seperti menjatuhkan diri pada tumpukkan duri tajam yang berdiri menantang
Seperti melukai diri sendiri dengan alat yang sengaja kau siapkan
Seperti menyerahkan tubuh yang luka untuk kembali dilumuri garam
Atau lebih parah dari itu,
Seperti menjatuhkan kembali diri pada danau yang menenggelamkan hingga ke dasar terdalam
Yang menjadikanku tenggelam tanpa punya daya kembali ke permukaan
Tak ada gunanya,
Kecuali jika aku memang ingin menikmati rasa sakitnya

Tapi, sayangnya tidak,
Itu bukan pilihanku
Aku menyadarinya sejak bayangmu meronta-ronta untuk diperhatikan
Dan semua yang kau tinggalkan mendadak menikamku dari segala arah
Ah, kenangan itu bermasalah!

Lagipula untuk apa semua itu?
Kembali ke masa lalu saat semua hanya menyisakan pekat dan sekat

Perlukah aku mengingat?

Tuesday, February 18, 2020

Neal Shusterman, Unwholly.


Komentar gue tentang buku ini : Luar biasa keren!

Setelah dibuat terkagum-kagum sama buku yang sebelumnya, Unwind, buku yang buat gue merinding –karena bacanya sambil ngebayangin adegan paling mengerikan di film Never Let Me Go, kini gue kembali lagi dengan cerita yang jauh lebih mendebarkan di Unwholly. Ceritanya masih tetap sama, apalagi kalau bukan tentang Connor, Lev, dan Rissa, para disertir Unwind yang kabur. Cuma memang disini jauh lebih menarik karena lebih banyak aksi-aksi yang mendebarkan. Aksi yang buat gue sampe nggak mau berhenti baca lembar demi lembar nih buku…. Astagaaaaaaaa, lo harus baca!!! Sumpah!

Kalau unwind kemarin itu kan lebih mengupas tentang makna betapa berharganya hidup, tentang kehidupan, hidup dan mati kan? Nah di Unwholly ini lebih mengenai JIWA MANUSIA. Lo akan berpikir apa sih jiwa itu? kalau seandainya lo mati kemana perginya jiwa itu? Jadi bisa dikatakan cukup dalam lah kalau yang ini, tapi bukan berarti yang kemarin enggak! wkwkkwk

Sebenernya hal ini berkaitan dengan kehadiran tokoh Cam dalam buku ini, yang mana Cam disini merupakan manusia yang diciptakan oleh organisasi Warga Proaktif yang sangat mendukung pemisahan raga. Cam diciptakan dari 99 unwind dengan kemampuan terbaik, itu sebabnya si Cam ini dilengkapi dengan kemampuan super menakjubkan, ibarat kata tuh si Cam ini kayak computer dengan spesifikasi tertinggi lah. Bayangin aja, si Cam (dalam novel ini) di lengkapi kemampuan berbicara dalam beberapa bahasa dengan absen sempurna, pengetahuan tentang astronomi, aljabar, kemampuan bermain musik, pokoknya segala kesempurnaan yang bisa mereka ciptakan dituangkan pada diri Cam mulai dari ujung jari kaki sampe ke ujung rambut. Keren kan? luar biasa kan imajinasi si penulisnya? Pantes aja gue nggak bisa jadi penulis 🤣🤣 imajinasi gue aja nggak setinggi itu, ahsudahlah.

Tapi dari situlah pada akhirnya muncul berbagai pertanyaan dari masyaraka tentang “apakah makhluk ciptakan seperti Camus Comprix / Cam ini memiliki jiwa atau hanya sekumpulan daging semata?” “apakah dia bisa merasakan apa yang manusia rasakan?” “apakah makhluk ciptaan ini layak di sebut manusia saat proses penciptaannya telah di rancang sedemikian rupa?” dan banyak pertanyaan lain yang pada akhirnya membuat Cam yang merupakan  makhluk ciptaan ini pada akhirnya mempertanyakan perihal apa yang ditanyakan oleh masyarakat kepada dirinya.  Apakah ia layak disebut manuasia? Apakah ia layak di sebut dilahirkan? Apakah? Apakah? Apakah lain kan masih banyak.

Coba sekarang lo bayangin, kalau seandainya dalam kehidupan nyata ini ada sebuah organisasi yang dapat menciptakan manusia dari bagian-bagian manusia lain, apakah itu nggak menakutkan? Terus, coba lo bayangin, apakah mungkin kita bisa menyambungkan sel demi sel, otot demi otot, apapun itu yang bisa buat semuanya berfungsi dengan baik dan akhirnya menciptakan manusia baru dari organ-organ milik orang lain, dan setelahnya manusia ciptaan itu hidup… apakah mereka punya jiwa? Apakah mereka bakal punya perasaan? Apakah mereka bakal punya rasa yang…… *gue nggak bisa ngomong* intinya…. Gila nggak sih???????? dan itulah cerita yang terjadi pada buku Unwholly…. Itulah yang terjadi dengan Cam, si manusia ciptaan yang bakal merubah cara dunia memandang….. Dan Cam yang kemungkinan (nggak hanya kemungkinan sepertinya) bakal muncul kembali di Novel ke 3. Emang muncul sih, soalnya gue udah baca sinopsisnya wkwkwkwk.

Nggak cuma itu, di buku ini juga muncul beberapa tokoh baru yang buat gue super gemesss dan pingin gue cabik-cabik buku yang lagi gue baca,.. tapi, ya, gue yakin sih beberapa tokoh baru itu juga pada akhirnya bakal menentukan pandangan lo apakah lo akan suka atau enggak sama mereka,... Tapi, ah, coba deh lo baca.

Jadi kalau lo mau lanjutin baca novel Undwind, ini bakal keren banget. Sumpah deh. Karena walau bagaimanapun buku ini bener-bener buat gue ngebayangin bagaimana sosok Hayden di dunia nyata, sosok Lev yang baru setelah kejadian di Camp Akumulasi Happy Jack, Connor dengan lengan milik Roland, dan Rissa dengan tulang belakangnya yang udah nggak bisa berfungsi lagi sampe buat dia lumpuh, dan gue juga harus mengakui bahwa gue sangat benci dengan tokoh Strake. Ah, memang selalu ada yang di benci di setiap cerita, kayak gimana gue benci sosok Ratu Iblis di buku The Child Tief.

Kadang gue tuh sulit untuk mengungkapkan hal menarik dengan kata-kata, begitupun buku ini, gue nggak bisa menjelaskannya dengan kata-kata, karena ini terlalu menarik untuk dijelaskan dan terlebih karena….. karena gue sudah mulai lupa sama apa yang gue mau tulis :P (bukunya udah selesai gue baca dari 2 minggu lalu wkwkwkwk)

Udah ah…. Selamat memulai hariiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii!