Saturday, June 20, 2020

Review Buku Manajemen Media Penyiaran (Strategi Mengelola Radio & Televisi) Edisi Revisi, Morissan, M.A.


Judul : Manajemen Media Penyiaran (Strategi mengelola radio & televisi)
Edisi Revisi
Penulis : Morissan, M.A.
Penerbit : Kencana, Prenadamedia Group.
Tahun terbit : Cetakan ke 4, Agustus 2018.
Tebal halaman : 490 halaman.

Di era digital seperti saat ini banyak dari kita yang sudah lama meninggalkan media penyiaran seperti radio maupun televisi dan menggantikannya dengan media yang jauh lebih bisa diandalkan seperti media online. Terlebih dengan kemudahan-kemudahan yang ditawarkan saat ini, misalnya hanya dengan gawai canggih yang kita gunakan setiap hari kita sudah dapat menonton televisi, mendengarkan radio , membaca berita, dimanapun kapanpun, akibatnya media konvensional seperti televisi, radio, maupun surat kabar, menjadi pilihan terakhir bagi masyarakat pada saat ini, baik dalam menikmati informasi maupun hiburan. Media konvensional seolah ditinggalkan penggemar setianya yang dulu banyak menghabiskan waktu luang untuk menyaksikan tayangan/program menarik.

Namun belakangan ini media seperti Televisi kembali mengambil perhatian penuh para audience nya, terlebih sejak indonesia menjadi salah satu negara yang terdampak penularan virus korona sejak presiden Joko Widodo mengonfirmasi kasus positif pertama pada 2 Maret 2020. Sejak saat itu perhatian masyarakat kembali tertuju pada media konvensional, terlebih media televisi. Hal ini tidak lain untuk mengikuti setiap perkembangan yang ada dari hari ke hari, terlebih dengan fakta bahwa media televisi lebih dapat di percaya oleh masyarakat lewat informasi yang kadang dilakukan secara live report dari lokasi kejadian, hal itu membuat masyarakat jauh lebih percaya pada televisi karena dianggap segala macam informasi yang disampaikan dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya.

Dari “kembali bergeliatnya” media penyiaran seperti televisi pada saat ini, tentu menarik jika kita membicarakan mengenai seperti apakah dinamika di balik layar sebuah program televisi agar dapat mengudara, masuknya pundi-pundi penghasilan lewat tayangan iklan, maupun bagaimana orang-orang dibelakang media terus bergerak agar mereka bisa menyesuaikan dengan laju industri saat ini melalui manajemen mereka. Oleh sebab itu dalam kesempatan kali ini saya akan membahas mengenai buku yang mengangkat mengenai manajemen media penyiaran (Strategi mengelola radio & televisi) yang di tulis oleh Morissan, M.A. selaku dosen di fakultas ilmu komunikasi universitas Mercu Buana Jakarta.

Buku yang di publikasikan pertama kali pada Agustus 2008 ini dengan jelas membicarakan mengenai seperti apakah dunia dibalik layar penyiaran, pasalnya dari 12 bab di dalamnya terdapat berbagai macam topik yang dibahas dan sangat menarik untuk di ketahui, terlebih bagi Anda yang tertarik dengan dunia penyiaran. Dalam bab pertama kita akan disuguhkan dengan sejarah lahirnya radio dan televisi ; bagaimana stasiun radio pertama dimulai dengan iseng oleh Frank Conrad yang membangun sebuah pemancar radio di garasi rumahnya di Pittsburgh, Amerika Serikat, juga dengan kemunculan televisi yang pada awalnya dianggap biasa-biasa saja oleh masyarakat pada saat itu, bahkan cenderung dianggap sebelah mata. Namun melihat bagaimana kedua media tersebut akhirnya dikenal luas dikalangan masyarakat, tentu kita tidak akan percaya bahwa kemunculan 2 media tersebut awalnya tidak mendapat sambutan yang cukup baik. Sementara itu pada bab-bab berikutnya dibahas juga mengenai teknik penyiaran, sistem penyiaran, manajemen penyiaran, program siaran, pemasaran program, promosi program, dll, yang mana dalam sub-sub bab tersebut juga di suguhkan topik-topik yang tidak kalah menarik seperti segmentasi audien, struktur organisasi stasiun televisi, tugas dan tanggung jawab crew tv baik dalam program berita maupun non berita, pemasaran program, dll. Buku ini, sekali lagi, sangat menarik, terlebih untuk mereka yang punya ketertarikan di dunia penyiaran, atau bagi mahasiswa/calon mahasiswa penyiaran yang membutuhkan buku pegangan untuk kegiatan belajar.

Adapun kelebihan dari buku ini terletak pada kerincian penulis dalam menyusun setiap materi, alhasil dalam satu buku kita selaku pembaca dapat mengetahui banyak hal sekaligus. Terlebih dengan fakta bahwa buku ini terdiri dari 12 bab yang masing-masing babnya dibahas secara rinci dan dengan bahasa yang mudah dimengerti. Namun dibalik itu saya selaku pembaca tidak dapat memungkiri bahwa buku ini bisa jadi perlu disesuaikan dengan era saat ini, terlebih mengenai bagaimana manajemen media penyiaran mensiasati perkembangan new media yang kian lama kian masif mengambil minat masyarakat, dalam hal ini saya rasa perlu di tambahkan mengenai bagaimana media konvensional mampu membuat dobrakan untuk menarik minat audience, dan bagaimana media konvensional mempromosikan programnya di tengah-tengah era dimana mayoritas penggunannya sudah beralih ke media daring. Karena kita tidak dapat memungkiri bahwa merosotnya minat masyarakat terhadap media konvensional seperti televisi, radio, maupun media cetak pada saat ini tidak lain karena zaman telah banyak berubah. Oleh sebab itu sudah barang tentu jika media konvensional masih ingin bersaing dengan new media mereka perlu membuat terobosan yang segar, karena jika tidak tentu tinggal menunggu waktu sampai industri media penyiaran akan ditinggalkan oleh penonton setianya.

Friday, June 5, 2020

Di Ujung Malam

Photo by Ruvim from Pexels
Di ujung malam, takala sebagian orang terlelap dalam mimpi mereka, kita justru terjaga dan memulai kisah tengah malam kita. Melintasi waktu, kita bercerita tentang dunia di ujung sana, yang bersinar oleh cahaya matahari musim panas sementara di ujung lain, matahari sudah lenyap berjam-jam lamanya.

Kita bicara tentang waktu. Juga menghitung perbedaan dari waktu ke waktu. Seolah tak pernah ada pembenaran. Memusingkan kita dengan hitungan. Kita memperhitungkan semuanya seolah yang kita lakukan ini setimpal; berbicara berjam-jam lamanya tanpa menghasilkan apa-apa, kecuali rasa baik setelahnya. Rasa baik yang bahkan tak bertahan lama. Ah, memalukan!

Ya, memalukan! Tapi, memalukan yang menyenangkan. Memalukan yang tak pernah membuat kita bosan. Untuk menggiring rindu ke tempatnya kembali dapat bertemu. Menghitung jam ke jam untuk waktu setelahnya, dan melihat diujung malam mana kan kita lanjutkan kembali kisah  kita.

Di ujung malam. Ya, selalu di ujung malam, saat selalu ada hal kecil yang menarik untuk dibicarakan. Saat selalu ada kisah untuk di tertawakan, dan selalu di ujung malam, saat dimana kita tak pernah bisa diam.

Thursday, June 4, 2020

Puisi buat Majeni Sanusi Sanwani Hanapi

Sebenernya aku nggak tahu kamu siapa
Manusia jenis apa dan datang dari belahan dunia mana
Aku bahkan nggak tahu nama lengkap kamu
Padahal itu modal aku berselancar di gugel

Aku mengira-ngira
Mengetik sekenanya
Berharap menemukan 1 kata tuk tarik kesimpulan atasnya
Wah, tapi sayang, aku nggak menguasai ilmu deduksi, bahkan untuk menghitung 3x2x5+7:5-2x0 pun aku nggak ngerti.

Siapa gerangan kamu sebenarnya?

Herman kah?
Juleli?
Sanusi?
Sanwani?
Majeni?
Samsuri?
Atau... Hanapi?

Ah, pusing kepalaku memikirkan apa kira-kira nama belakangmu
Mungkin sebenernya nama kamu Hanapi Majeni Sanusi
Datang dari negeri jauh sampe-sampe transit 2x

Hhhmm, siapa sih kamu?

Tapi siapapun kamu udah nggak penting lagi sekarang ini, sama sekali!

Karena kamu sudah berhasil menarik perhatianku, sungguh!

Seseorang dengan kaca mata dan berjaket merah
Yang dateng entah dari belahan dunia mana
Muncul di depan mata aku
Dan...,

Wah, kamu benar-benar buat aku nggak bisa tidur selama bermalam-malam dan berminggu-minggu setelahnya

Astagaaaaaa... Kamu siapa?

Majeni?
Sanusi?
Sanwani?
Atau Pangeran Harry?
Yakali Pangeran Harry! Nggak ah, takut sama Meghan markel.

Siapa sih kamu?
Kok suka ya sama frame kacamata kamu, elegan banget gitu.
Loh..

Ini puisi buat kamu,
Kalau bukan puisi anggap aja begitu😋

Friday, May 8, 2020

Hubungan yang berakhir

Jika suatu hari nanti kita bertemu, jangan ragu untuk sekedar bertanya kabar walau itu hanya sekadar basa-basi. mungkin akan ada pelukan atau anggukan singkat, tapi kita sama-sama tahu bahwa memang hanya akan sebatas itu. Tak lebih dan tidak akan kurang.
Hidup telah mengajari kita banyak hal. Pertemuan yang tidak terlupakan. Hubungan yang menyenangkan. Dan perpisahan yang tidak dapat terhindarkan.
Namun, itulah hidup. Itulah kenyataan. Semuanya penuh rahasia. Kita berharap ini selamanya tapi Tuhan ternyata punya rencana lain di dalamnya.

Kalau hubungan apapun udah selesai pasti bakal kayak gitu sih. Serius. Hubungan apapun itu. Ya pernikahan, pertemanan, hubungan guru ke murid, karyawan ke atasan, apa lagi ya? *bingung*

Sesuatu itu berubah. Lo dulu deket banget sama orang bisa jadi suatu hari nanti berakhir dengan lo benci banget sama dia. Bahkan bisa juga sebaliknya, lo benci banget sama orang tapi belakangan lo nggak bisa kemana-mana tanpa dia, bahkan tidur aja maunya disamping dia (maunya nikah sama doi maksutnya :P)

Hal ini mengingatkan gue sama percakapan gue sama salah seorang kenalan beberapa waktu lalu, sepanjang perjalanan gue terus ngobrol sama dia, sampe akhirnya dia cerita tentang "sahabat" yang ngenalin dia sama suaminya sekarang. Disitu kenalan gue itu cerita bahwa dulu sahabatnya ini ngedukung banget hubungan mereka, dia bilang bahwa kenalan gue ini cocok sama (sekarang suami) cowok ini, nggak peduli beda budaya dll. padahal si cowok ini keturunan orang timur tengah gitu, jadi waktu pacaran sama kenalan gue keluarga cowoknya nggak setuju.

"temen aku tuh baik banget nani. sekarang kalau inget tuh suka kangen sama dia"

"loh?"

"iya, aku udah nggak tahu dia dimana, padahal aku udah cari-cari di facebook, instagram, tapi nggak ketemu... kita lost contact"

dan dari situ gue langsung..... kok bisa? *tapi ngomong dalam hati* kalau kalian deket kenapa bisa lost contact? maksudnya beneran "kok bisa?" ngerti kan? berarti saat satu diantara mereka ada yang mulai menjauh satu lagi nggak sadar donggggggggg? jadilah seperti ini. Entahlah!

diluar itu ada juga salah seorang temen, selama bebrapa tahun terakhir dia tinggal satu kontrakan sama temennya, mereka beli apa-apa bareng-bareng, mulai dari mesin cuci, kulkas, tv, entah apalagi. bahkan gue pernah bercandain "kalau lo pisah siap-siap sewa pengacara buat bantu bagi harta gono-gini wkwkwk" dan akhirnya mereka 'pisah'. padahal mereka itu udah kayak keluarga banget, pacarnya temen sekos temen gue bahkan sering banget main buat masakin mereka atau main disana, dan sekarang hubungan mereka berakhir dengan pertengkaran.

Temen gue pernah bilang "ya gue nggak nyangka aja. Sekarang kita masih temenan tapi udah nggak kayak dulu, komunikasi seperlunya, pokoknya udah nggak kayak dulu lah"

Gue jadi inget pernah baca status salah seorang temen SMP  gue di facebook beberapa tahun lalu *iya beneran beberapa tahun lalu, mungkin 2th lalu* disana ada kalimat yang langsung buat gue langsung tertancap, begini bunyinya : "friend could replace you when they find the significant other"

Kata-katanya emang bagus banget sih, soalnya gue sampe screenshot wkwkwkwkwk dan bagian itu yang paling berkesan buat gue. Meski tulisan dia bener-bener berkesan :P

kita berharap hubungan kita selamanya kayak gini, padahal kenyataannya hanya sedikit yang bisa mempertahankannya.
Photo by Pixabay from Pexels
Yah, hidup memang gitu!

Mungkin itu kenapa tiap kali puasa kayak sekarang ini (kalau lagi nggak pandemic) pasti bakal banyak banget jadwal buka bersama, entah sama temen TK, SD, SMP, SMA, Kuliah, Kantor lama, Kantor baru, temen rumah, temen RT, grup ghibah blok sebelah, grup ghibah kelurahan sebelah, dll. ya kan? Hal yang menandakan bahwa dalam hidup kita bakal ketemu banyak orang, dan semakin kita dewasa kita akan memilih pada siapa kita tetap berteman dekat dan pada siapa hubungan harus berakhir. Bukan berakhir yang gimana-gimana, maksudnya berkabar seperlunya... Kayak puisi mbak ratna dumila "berkirim kabarlah secukupnya" jadi ya begitu. Dan pada akhirnya kita lebih banyak menghabiskan waktu pada "si significant other" tadi.

Banyak cerita temen-temen gue tentang kisah perpisahannya sama pacar mereka, banyak cerita juga tentang pertemanan yang berakhir, banyak juga tentang keluarga. Bahkan, gue juga punya kisah sendiri, tentang temen yang akhirnya ninggalin gue wkwkwkwk, ya itu karena gue. Belakangan gue sadar bahwa dulu dia itu baik banget sama gue, gue yang kebetulan tertarik dengan psikologi sering banget belajar sama dia, meski dia juga sebenernya anak manajemen bisnis pariwisata atau apalah itu tapi dia banyak tahu tentang ilmu psikologi, jadilah kita banyak sharing.... Tapi pada akhirnya karena satu dan lain hal kita udah nggak pernah komunikasi lagi. SAMA SEKALI!

Yah begitulah.

Temen gue pernah cerita tentang kesedihannya, dulu dia pernah akrab banget sama si A, saking akrabnya dia itu sering banget nginep di rumah si A, bahkan nyokap si A ini sampe kenal banget sama temen gue. Tapi disuatu titik akhirnya mereka menjauh, bahkan sekarang mereka kalau ketemu dikampus saling tegur seadanya. Temen gue pernah cerita hal ini dilatar belakangi asmara, jadi mereka suka sama cowok yang sama, dan entah gimana si A yang tahu temen gue suka sama si Z malah pacaran sama Z. Begitulah berakhirnya pertemanan mereka yang sudah sangat dekat. Kadang gue bingung mau nanggapin gimana, soalnya gue kenal juga sama si A. Dan parahnya kenal juga sama cowok yang dimaksud *gubrakkkkkkkkkkkkkkkkkkk* kite satu kampus coy.

Intinya, hidup kita berubah, lingkaran kita berubah, dan, nggak usah kaget kalau suatu hari nanti orang-orang dalam hidup kita akan terus berlalu. Berlalu karena waktu atau berlalu karena alsan lain. Berakhirnya hubungan apapun sebenernya sama kayak perceraian, kalau dalam esaynya mbak Nora Ephrone yang The D Word dia bilang kalau ada “perceraian yang baik-baik ada juga perceraian yang nggak baik-baik”.  Dan memang semuanya seperti itu, berakhirnya hubungan pertemanan temen gue di atas nggak baik-baik, karena ada masalah di tengah-tengah mereka.

Hal ini mengingatkan gue sama statement seseorang beberapa waktu lalu, pasangan kita saat ini belum tentu jodoh kita. Kenapa? Karena kapanpun kita bisa pisah sama mereka, baik karena perceraian atau kematian. Orang yang bukan jodoh lo bisa cari pengganti lo setelah itu, tapi dia yang benar-benar jodoh lo akan terus menjaga itu sampai akhir hayatnya. Intinya, kalau lo mati pasangan lo nggak akan nikah lagi.

Huh gitu nggak sih??? Kok gue tiba-tiba bingung ya??????? intinya, segala sesuatu itu nggak ada yang abadi. Yang abadi itu Cuma ketidak abadian itu sendiri *Aseekkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk*

Buat temen-temen gue disana, yang sekarang sudah lulus kuliah, yang tengah berjuang mengejar SKS, yang lagi nyusun TA, yang lagi ngejar mimpi tinggal di negara impian, yang lagi mengejar mimpi untuk menuju karir impian, yang tinggal di negara orang untuk kerja or kuliah, yang lagi ngatur strategi lanjut S2, yang lagi apapunnnnnnnnnnnn.... Pasti akan ada saat dimana kita bakal menghilang dari kehidupan satu sama lain, hilang dari grup, atau apapun,... Jangan pernah bertanya-tanya kenapa ya,,, karena itu yang di sebut fase. Entah fase apah.... mungkin fase peralihan dari kepongpong ke buah naga wkwkwkwkwk... apa dari tales ke keju belanda????????  Entahlah!!!

Nanti gue lanjut lagi ya... gue mau ke rumah cici gue dulu :D

Tot ziens! Doei! Tscuss! Bye! Tot snel! Tot gauw! See you soon! Bis spater! Bis bald! Auf wiedersehen! eh itu bener nggak sih???????? wkwkwkwk.

Tuesday, May 5, 2020

Kangen Kuliah......

"Tak terasa gelap pun jatuh.... di ujung malam menuju pagi yang dingin.... hanya ada sedikit bintang malam ini, mungkin karena kau sedang cantik-cantiknya...." 

Yuhuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu,,,,,, yuhuuuuuuuuuuuuuuuuuuu.... wie gehts? hoe gaat het? apa kabar? ngapain, kok jam segini belum tidur????????? lagi denger payung teduh ya gegara nggak bisa tidur???? *gue itu mah wkwkwkwk* harusnya gue udah tidur, tapi dapet PR buat cari closing Mata Najwa goes to netherlands untuk di kasih ke temen gue yang "ngakunya" udah nggak indonesia banget.... makanya gue mau kasih dia video itu biar dia tahu gimana rasanya jauh dari tanah kelahiran dan kangen sama negaranya.....

*tarik nafas* kita lupakan dulu temen gue..... kali ini gue mau kangen-kangenan dulu sama kampus... kangen-kangenan sama kuliah.... kangen-kangenan sama temen-temen....

Huh, nggak terasa sudah lebih kurang 2 bulan nggak kuliah, rasanya tuh kangen banget sama suasana kampus, kangen sama temen-temen, kangen ngomongin dosen, kangen tidur-tiduran di perpustakaan kampus, kangen cari-cari stop kontak buat charger laptop/handphone (yang kadang sampe keliling-keliling buat nyari), kangen lari-lari pas ketinggalan kelas, kangen bengong sendirian pas nggak ada temen, kangen saling tunggu-tungguan buat makan, kangen temen-temen ghibah, kangen ghibah langsung dan bukan di zoom, kangen ngomong langsung dan bukan teleponan atau sekedar denger voice note.... ah, kangen kalian... kangen kuliah.... kangen GHIBAH.

Mungkin kalau ada yang nanya “apakah ada dampak positif korona?” jawabannya nggak lain yaitu, lo jadi lebih ngerti bahwa ternyata kebersamaan sama temen-temen itu bener-bener berharga, meski pas lagi bareng kadang suka kesel-keselan, suka adu argumen sampe harus di pisahin, suka cuek, dsb. Tapi di tengah pandemik ini lo jadi lebih perhatian, jadi sering tanya kabar, keadaan, saling tukar cerita, saling ngingetin buat jaga kesehatan, dll. coba kalau enggak? pasti teleponan sekedar nanyain tugas wkwkwkwk. Yah itu salah satu dampak positifnya, diluar itu, tugas praktek jadi nggak ada... meski gantinya nggak kalah buat sakit kepala wkwkwkwkwk.

Tapi beneran deh, yang kuliah di rumah pasti kangen banget karena udah 2 bulanan nggak masuk kuliah, soalnya nggak jarang gue lihat story temen-temen gue yang posting kegiatan di kampus dengan caption “kangen kuliah” dan kalau boleh jujur gue juga kangennnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn.... kangen banget malah (soalnya itu satu-satunya kegiatan gue wkwkwkwkwk). Kadang dari situ gue sampe ngebayangin, gimana rasanya kalau udah lulus kuliah ya? pasti udah nggak bakal dateng lagi ke kampus, habis mau ngapain? kan udah nggak ada kepentingan, huahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh.... Mau kuliah lagiiiiiiiiiii, nggak mau nggak kuliah............*nangis-nangis di pojok kamar*

Yah, berhubung gue lagi kangen kampus, kangen kuliah, kangen juga sama temen-temen kucrut, jadi disini gue mau posting foto-foto yang ada di HP gue ya, sekedar untuk menghilangkan kerinduan sekaligus mau kasih tahu cerita di balik foto-foto itu wkwkwkwkwk.... Los geht's!

Huaaaaaahhhhhhhh, Video ini di ambil pas SP kemarin, kalau nggak salah ini pertemuan kedua, jadi yang telat-telat disuruh nyanyi di depan kelas. Kalau menurut gue ith bukan hukuman, emang dasar dosennya aja males ngajar, masak iya tiap anak yang telat harus nyanyi sementara kita-kita jadi nggak belajar...
Stefani dan ayam bakar samping indomaret 😁😁

ngemper cuma buat ngecharge leptop atau hp... kasian banget anak emakkkk.
Nunggu sulis yang nggak dateng-dateng dari gerimis, hujan, dan ujannya berhenti....

Mereka yang katanya pingin jadi model brosur mercu buana edisi gratis uang pangkal 100%


sebelum produksi tugas "produksi berita televisi" apa aja di gotongin.

Malu bertanya sesat di jalan, ini di kelas bukan di jalan jadi nggak usah nanya!"

Mayday... Mayday.... Motor 1, 2, dan 3 sudah siap meluncur ke rumah dosen, ganti!wkwkwkwk. Saling tukar Foto untuk tahu lokasi masing-masing pas mau pergi bareng ke rumah dosen untuk ngumpulin tugas😋

Foto bareng di pertemuan terakhir kelas Bahasa Inggris 1. Halimah izin nggak masuk, ngakunya sakit tapi malah pergi main wkwkwkwk. Maapkeun😊

alkisah hari itu kita berencana bakal bakar-bakar dengan menu yang sudah disiapkan, ayam, sosis, jagung, dan ikan, tapi apalah daya, karena kita bukan propesional jadilah rasanya nggak ada yang karuan wkwkwkwkwk. Cuma seru, mereka pada heboh wkwkwkwkwk apalagi waktu salah satu diantara kita nggak sengaja nendang panggangan sampe buat makanan diatasnya berhamburan cuma buat foto bareng.... kalian lucu sekalihhhhhhh.

Model iklan ramayana, edisi lebaran di tengah pandemi Korona🤣

Sumpah, pas dikirimin foto ini di grup gue langsung terkesima... Baru Kali itu gue lihat si Stef seserius itu wkwkwkwkwk.
jadi waktu itu baru ada beberapa orang yang dateng, gue sibuk buka-buka tugas gue dan mereka adu argument wkwkwkwk. iya, mereka lagi agak ribut gitu ngebahas malsah chat "eh, kok pagi-pagi malah berantem? gue foto ya buat kenang-kenangan wkwkwkwk" terus gue foto deh.



Si Eka yang katanya kepingin jadi model vaksin korona kalau memang sudah di temukan dan dikembangkan :P

ceritanya waktu itu UTS/UAS *lupa* jadwalnya itu seperti biasa, jam 19.30. Tapi karena gue mahasiswa super rajin, jadilah jam 6 kurang udah sampe kampus. muter sana-muter sini, akhirnya berhenti di jembatan penghubung gedung D dan E dan liatin orang-orang di bawahnya sambil nggak lupa neleponin satu demi satu temen ghibah wkwkwkwkwk.

Hari pertama SP, ini di jam terakhir. Gue pindah ke baris belakang buat tidur, tapi malah nggak bisa tidur dan malah kena tegur dosen lantaran temen sebelah gue tidur wkwkwkwk.

entah lagi ngapain, seinget gue ini lagi nunggu si sulis :P

ceritanya mereka itu habis makan terus kekenyangan, jadilah pada tiduran.... nah kojo yang jadi bantalnya.


orang yang mau aja diajak bolos, padahal dia masih ada matkul bahasa inggris, emang deh sulis paling jago kalau ajak orang bolos wkwkwkwk.

ini kita maju bukan buat godain dosen, bukan!!!! tapi buat protes masalah absennnnnnnnnnnnnnn, tapi ternyata nggak ditanggapi huuuuuh.

Maapkeun yah kalau gambarnya jelek, soalnya kebanyakan dari kamera butut akoh yang tidak seberapa ini..... sebenernya mau posting banyak, tapi gambarnya udah di pindah ke laptop, dan laptopnya kena virus korona jadinya tiba-tiba mati dari 2 bulan lalu wkwkwkwkwkwk, gue pikir di laptop ini ada ternyata nggak ada.... jadi, yasudahlah.

Nih pidio tambahan... Kelakuan si kojo Yang sering buat pidio-pidio kocak untuk di Share ke grup😊 ngomongin tentang si kojo, nih anak kalau di kampus paling pendiem lho, tapi kalau di sosial media ancur bangetttttttttt! Sampe-sampe kita tuh nggak percaya kalau yang di sosial media itu beneran dia saking bedanya.... Si agit aja sampe nggak percaya waktu tahu kalau si Kojo di kampus itu super diem, kojo....kojoooo......

Wednesday, April 22, 2020

Gue hari ini, tanpa sosial media!

Photo by Pixabay from Pexel
"Nani, lo blokir gue di Facebook ya? Kok gue cari Nama lo nggak ada" begitu kata salah satu temen gue yang ngeh kalau gue sudah menghilang dari Facebook beberapa bulan lalu. Dan gue cuma respon itu dengan senyum yang gue usahakan semanis sirup Marjan rasa melon yang nggak ditambah air (ueeekkkkkzzz, gilakkkkk gue nggak bisa bayangin bakal semanis apa itu🤢) alias manis banget, sambil gue jelasin kalau gue sudah hapus akun Facebook gue, iya, HAPUS, bukan lagi di nonaktifkan untuk sementara waktu melainkan benar-benar di hapus. Dan sebenernya nggak hanya itu, gue juga memutuskan untuk hapus akun twitter😁 

Gue sadar bahwa selama ini gue ini bukan orang yang ditunggu kehadirannya, gue bukan orang yang bisa memberikan pengaruh pada kehidupan orang lain, Dan gue juga bukan orang yang suka membagikan apa-apa ke sosmed, jadi dengan itu semakin membulatkan tekad gue untuk menghapus dua jejaring sosial tadi. Lagian juga, gue males punya kehidupan "lain" di sosial media, males repot-repot pilih foto terbaik untuk di unggah ke sosmed, males mikir caption apa yang bakal gue sematkan dalam foto yang gue unggah, sesuatu yang semuanya gue lihat dari lingkungan gue pribadi (dari temen-temen gue😊). Udah nggak asing buat lihat temen-temen gue yang foto berkali-kali cuma buat cari yang terbaik untuk di upload ke sosmed, udah sering juga lihat temen yang cari Quote menarik di gugel buat caption dari foto yang mau di unggah. Dan, itu kenyataan yang ada kan? Jujur, gue juga pernah kok berada di fase itu, pernah menggilai like, claps, upvote, love, Retweet, apalagi deh? Wkwkwkwk. Tapi semakin kesini, gue mulai memaknai bahwa "apapun yang terjadi sama gue ; baik maupun buruk, cukup gue dan orang-orang terdekat gue yang tahu. Nggak ada foto perjalanan yang di publish, nggak ada foto kumpul bareng temen-temen yang di posting, dan telan semuanya sendiri"

Dulu, jaman gue masih duduk di bangku SMK gue pernah mengidolakan salah satu public figure, gue suka banget sama dia soalnya yang gue perhatiin nih orang pinter banget gitu, jadilah gue suka. Sebagai penggemar gue itu sering banget cari tahu tentang dia lewat semua sosial medianya, cuma memang sosial media dia hampir semuanya terkunci kecuali Instagram, tapi menariknya dia juga nggak pernah posting foto dia di Instagramnya, foto yang ada dianya bisa dihitung jari dan itupun hampir semuanya foto dia baremg teman-temannya. Jadi dari hampir 40 foto yang ada di Instagramya pada saat itu lebih ke foto suasana matahari terbit, foto gambar suasana kebakaran di pemukiman penduduk di Jakarta, semacam itulah. Dulu, gue selalu bertanya-tanya mendapati itu "kenapa sih nih orang kok kayaknya tertutup banget" "kenapa sih dia nggak pernah posting foto sendiri" dan pertanyaan lain. Sampe yang buat gue nggak habis pikir itu adalah... Dia bahkan nggak memposting foto pernikahannya, tahu-tahu gue lihat foto yang 'mentag' dirinya pas akad nikah. Gilakkkkkkkkkkkk nggak? Tapi akhirnya gue ngerti bahwa nggak semua orang itu suka mempublikasi kehidupan pribadinya ke sosial media. Dan orang yang gue kagumi itu salah satunya😊

Hidup kita biar kita dan orang-orang yang kita izinkan aja yang boleh tahu, dan biar mereka yang kepo sama kita berasumsi sendiri tentang kehidupan seperti apa yang kita jalani *Anjirrrrrrr keren banget ya kata-kata gue, udah bisa kali nih buat program Talkshow😋*

Ya seperti itu. Jadi gue memilih untuk keluar dari hingar bingar sosial media😊 gue memulainya dengan nonaktifin Instagram waktu gue menginjak semester 6 (walau ujung-ujungnya diaktifin lagi buahahahahaha) kemudian disusul dengan penghapusan 2 akun Facebook + Twitter, dan Instagram gue usahakan menyusul. Blog? Nggakkkk dongssssss. Gue sepakat untuk hanya menyisakan blog. Kenapa? Karena nggak semua temen gue tahu gue punya blog, diluar itu sekalipun ada yang tahu mereka juga belum tentu mau baca tulisan panjang lebar dan nggak bermanfaat ini kan? Jadi nggak apa-apa😋 (sebenernya bukan ini alasannya🤣)

Hidup tanpa sosial media itu beneran lebih keren (menurut gue lho) soalnya gue jadi nggak main bandingin gitu aja kehidupan gue sama kehidupan orang-orang disana, gue jadi nggak mudah minder karena mereka bisa melakukan ini dan gue belum, terus gue nggak harus iri sama keberhasilan orang yang gue nggak tahu bagaimana kisah di balik kesuksesan itu, dan gue juga nggak membuang-buang waktu dengan scroll down feed sosial media untuk lihat apa yang terjadi dengan orang-orang yang ada disana. Diluar itu gue juga emang nggak begitu aktif sih di sosmed, jadi mudah aja buat cabut disana tanpa merasa ada yang tertinggal🤣

Dengan tanpa sosial media gue jadi lebih menikmati kesendirian, saat gue mengunjungi tempat-tempat yang menurut gue keren kepala gue nggak penuh dengan berbagai kata-kata yang berlomba-lomba kepingin dikeluarin dalam bentuk status atau caption. Gue menikmati saat kumpul sama temen-temen gue tanpa berusaha mengalihkan kejenuhan dengan cek sosial media, gue nggak pernah lagi mikirin foto apa yang kiranya bagus buat di pampangin di sosial media gue. Sekarang gue lebih suka menyimpan itu sendiri atau bahkan langsung gue ceritain ke temen-temen. "Eh kemarin gue pergi ke Z, tempatnya keren lho, di sepanjang jalan banyak tukang jajanan🤣 terus aksesnya gampang, bagus kalau bawa kamera soalnya banyak objek foto disana, minggu besok kesana yuk" dan kemudian, gue juga nggak merasa aneh saat duduk bengong di transportasi umum tanpa mainin HP, gue jadi nggak aneh saat kemana-mana nggak bawa HP. Normalnya kan saat kita nggak bawa HP itu rasanya pasti aneh, cemas, nggak tahu harus ngapain, linglung, kayak gitu-gitu kan? Nah ini enggak, B aja. Karena dengan tanpa sosial media atau bahkan HP gue jadi lebih punya banyak waktu untuk mengamati hal-hal menarik di sekitar gue, kayak liatin gaya berpakaian orang (untuk ditiru kalau menurut gue menarik😂), dengerin obrolan mereka, liatin suasana jalan diluar, dll, bahkan di tempat-tempat tertentu gue berani buat ngobrol sama stranger lhoooooo (meski ini jarang banget sih wkwkwk)

Sekarang nggak ada lagi kalau kemana-mana harus cek berkali-kali gue udah masukin hp atau belum ke tas? Karena jalan tanpa hp pun oke-oke aja (karena yang terpenting tuh, BAWA DUIT)

Susah nggak sih keluar dari sosmed? Menurut gue awal-awalnya aja yang susah, karena kita kan udah terbiasa hidup dengan sosial media jadi pas coba lepas itu susah, tapi lama-lama justru biasa aja. Buktinya gue, gue udah +- 4 bulan delete Facebook dan Twitter(lupa tepatnya kapan) dan udah nggak ngerasain apa-apa, bahkan gue nggak inget pernah punya Facebook or Twitter wkwkwk. Cuma, ya gitu, gue harus lebih aktif cari informasi apapun lewat Gugel, gue nggak tahu apa yang jadi trending topik di sosmed, dan itu yang dulu buat gue aktifin Instagram lagi, karena salah seorang temen bilang "Lo tuh anak komunikasi ni, jangan ansos gitu" dan kemudian ada statement salah seorang dosen yang akhirnya mendorong gue untuk aktifin lagi Instagram. Tapi kemudian gue pikir lagi "toh selama ini sosmed gue kan di privasi, jadi mau gue aktifin lagi pun nggak akan berdampak apa-apa karena gue cuma share ke temen-temen gue" alhasil gue masih tetap aktifin tapi nggak pernah posting dan jarang di buka. Yah pernah sih posting, tapi lebih ke posting foto-foto yang gue ambil dari kamera, itu karena gue selalu gendong-gendong kamera kemanapun pergi🤣

Jadi menurut gue, keluar dari sosial media bukan hal yang sulit buat gue. Gue bisa tanpa sosial media. Cuma.... Gue masih bertanya-tanya, bisa nggak yah gue hidup tanpa smartphone seenggaknya untuk 2 minggu? Yah, mungkin suatu hari nanti itu wajib di coba😁

Sunday, April 19, 2020

Berhenti sementara dari Whatsapp

Yap. Lu orang tidak salah baca. Gue akhirnya berhenti sejenak dari hingar bingar per WhatsApp-an yang sulit sekali untuk ditinggalkan apalagi saat gue menyadari bahwa gue masuk dalam taraf sudah sangat ketergantungan dan merasa benar-benar membutuhkan, rasanya tuh kayak.... Aduh bisa nggak yah? Nanti kalau temen-temen ngabarin tugas tambahan dari dosen gimana? Nanti kalau gue ketinggalan informasi dari kampus gimana? Nanti kalau kakak-kakak sepupu gue chat penting gimana? Nanti kalau.... Nanti kalau.... Pokoknya banyak banget deh pertimbangannya. Tapi akhirnya.... Gue mencobanya. Gue nggak akan pernah tahu apa yang akan gue dapet tanpa gue mencoba itu. Nggak mungkin kan cuma ngebayangin aja dan tahu gimana rasanya? Luar biasa sekali kalau bisa kayak gitu wkwkwk.

Sebenernya kalau boleh jujur, ini adalah hal yang bener-bener gue inginkan sejak lama. Gue sudah menggadang-gadangkan hal ini tuh sejak gue merasa nggak kuat dengan segala macem hal yang gue dapet dari WA. Perenah nggak sih lo merasa bahwa aplikasi ini menguras banyak perhatian lo untuk sesuatu yang  bahkan itu nggak jelas, grup yang nggak jelas, percakapan yang nggak jelas, hal-hal nggak jelas lain yang kadang buat berpikir, gini ya sosial media? Begini ya ternyata rasanya hidup di zaman kayak sekarang? Mudah banget ya orang-orang berbagi apa-apa di whatsapp story? Astagaaaaa, ngomongin Whatsapp Story gue itu sampe nggak habis pikir, masak nih ya, ada temen gue yang share foto duit 1 tas penuh di WA story. Sumpah itu gue sampe "wah nih anak bener-bener ngundang maling" mereka tuh kayak nggak sadar gitu kalau orang-orang di dalam kontak mereka bakal liat itu, dan kalau yang liat itu lagi butuh duit dan punya jiwa rampok gimana????????????? oke lupain, itu terserah mereka!!!

Nah dari hal itulah gue berpikir untuk tahu, gimana sih kehidupan gue tanpa Whatsapp? Gimana sih rasanya hidup tanpa rasa khawatir yang berlebihan? Gimana sih hidup seperti dulu dan nggak terdistraksi dengan notif, nggak punya perasaan cepet-cepet pingin cek hp saat jenuh, nggak cemas nunggu balasan dari orang yang gue chat, nggak butuh tanggapan atas apa yang gue lakuin lewat story, nggak cemas dianggap A B C D Z yang nggak jelas, dll. Dan pada akhirnya gue merasakannya selama 2 hari kemarin, dan itu sangat aneh! Awalnya aneh, sumpah, aneh banget. Biasanya tiap hari beberapa kali cek hp cuma liat apakah ada pesan masuk atau nggak dan kemarin gue cek hp untuk mendapati bahwa sudah nggak ada aplikasi WA disana. Astagaaa, WA gue kemana???????????  Sumpah itu goblok banget deh, karena bener-bener kayak orang sinting gitu. Ada yang hilang. Kayak orang tersesat dan gue cuma geser menu dari kiri ke kanan dari kanan ke kiri untuk memastikan bahwa "yah gue udah hapus".

Photo by Torsten Dettlaff from Pexels
Shortcut yang biasanya menjadi letak whatsapp gue ganti dengan IPUSNAS. Tapi jumlah kunjungan gue ke ipusnas nggak jauh lebih banyak dibanding jumlah kunjungan gue ke whatsapp dan itu bener-bener buat gue sadar bahwa selama inipun gue jadi males baca karena banyak waktu gue tumpah ruah ke aplikasi yang di akuisisi sama facebook ini. Yah, meskipun di hari keduanya gue sudah mulai B aja, tapi gue juga masih belum bisa menghilangkan niatan untuk "batalin aja kali ya" tapi akhirnya nggak dan gue bisa lewati itu. Cuma pas gue buka laptop dan ada aplikasi whatsapp gue langsung...... BUKA NGGAK YAKKKKKKKKK? dan, gue berjuang sekarang karena gue lagi duduk manis di depan laptop sambil nulis ini wkwkwk.

Hari ini adalah hari ke 3, dan gue masih punya waktu sampe tanggal (mikir) 1 mei untuk kembali aktif lagi di hingar bingar whatsapp, itu pun kalau gue nggak salah hitung ya, soalnya gue punya pemahaman lebih baik lebih daripada kurang jadi yah, gue bakal kembali ke whatsapp tanggal 1 mei. 11 hari lagi ya???? wah, kerennnnnnnnnnnnn. Nanti gue akan share apa sih yang gue dapet dari sana, apakah gue bisa mengurangi ketergantungan, akan dingin dengan whatsapp (yakali), atau gue akan semakin menggilainya. Yah gue harap sih, gue akan bersikap dingin ke WA persis kayak kalau gue udah nggak suka sama orang wkwkwkwkwk.

14 hari itu bukan waktu yang lama dan gue nggak tahu itu akan membantu atau nggak, tapi setidaknya gue berani untuk mencoba keluar dari ketakutan gue terisolasi dari dunia semu itu. Well, sampai jumpa di tanggal 1.... Bis bald mein freund!!!!